Berita Jateng
Kisah Polisi di Pati Jadi Dukun Ulo, Banyak Warga Digigit Ular Malah Dibawa ke Kantor Polisi
Awal Desember ini saja, sudah ada enam orang yang datang berobat. Kalau sepanjang tahun bisa sampai 50-60 orang
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: khoirul muzaki
Hal itu seperti yang belum lama ini dialami Sutopo (67), warga Desa Dukuhmulyo, Kecamatan Jakenan.
Sekira empat bulan lalu, pangkal jari tengah kanannya dipatuk ular. Saat itu, dia tengah membabat rumput liar di halaman belakang rumah. Tanpa peringatan, seekor ular hijau ekor merah melesat dari balik rerumputan dan menancapkan taringnya.
“Seketika rasanya sakit luar biasa. Sakit semua. Seluruh badan rasanya sakit,” kata dia saat diwawancarai TribunJateng.com di Mapolsek Jakenan, Kamis (11/12/2025).
Di tengah kepanikan dan rasa sakit tak tertahankan, Sutopo dilarikan oleh keluarganya ke Puskesmas setempat. Uniknya, pihak Puskesmas juga menyarankannya untuk datang ke Polsek Jakenan.
“Saat itu kebetulan Pak Cipud sedang jaga. Tangan saya langsung dibelek (disayat sedikit), lalu racunnya disedot oleh beliau,” tutur dia.
Menurut Sutopo, tak ada obat yang diberikan padanya selain air kembang. Setelah itu, yang terjadi terasa seperti keajaiban. Hanya berselang sekira setengah jam, rasa sakit yang sempat meremukkan tubuhnya berangsur sirna.
“Kira-kira 10 menit sudah agak mendingan. Setengah jam sudah sembuh,” kata dia sambil terkekeh, seolah masih tak percaya nyawanya terselamatkan hanya bermodal mulut seorang polisi dan air kembang.
Turun-Temurun
Aiptu Pudiyanto menjelaskan, untuk mengobati korban gigitan ular, “alat kelengkapannya” cukup sederhana. Dia hanya membutuhkan air hangat, sebilah silet kecil, dan kembang telon (bunga kenanga, gading, dan melati) sebagai “syarat” wewangian.
Pertama-tama, Cipud akan membersihkan bekas gigitan ular dengan air hangat. Kemudian, tak ubahnya ahli bedah jalanan, ia akan menyayat kecil bekas gigitan ular pada tubuh korban.
Selanjutnya, tanpa ragu, dengan mulutnya dia menyedot keluar racun mematikan dari aliran darah korban, lalu membuangnya. Tak jarang, darah yang dia isap bercampur nanah.
“Kalau orang lihat mungkin jijik. Namun niat saya tulus, ikhlas menolong sesama. Kebetulan profesi saya juga polisi. Bersentuhan dengan masyarakat, melayani masyarakat,” tutur dia.
Selanjutnya, bunga tiga rupa atau kembang telon akan dia rendam dengan air bersih, dia rapalkan doa, dan dia minta pasien untuk meminumnya.
Aiptu Pudiyanto bersyukur, selama ini atas karunia Tuhan Yang Mahaesa semua pasiennya bisa sembuh.
“In syaa Allah semua sembuh. Termasuk yang agak parah, digigit kobra. Namun khusus untuk korban gigitan ular kobra, biasanya tetap saya sarankan ke rumah sakit. In syaa Allah dalam satu jam saya obati untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi karena biasanya terjadi pembusukan, tetap saya sarankan masuk rumah sakit,” jelas dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/polisi-dukun-ular.jpg)