Minggu, 31 Mei 2026

Berita Banyumas

Mengaku Cucu Sultan Hamid II dan Pemilik Sawit Se-Sumatera, 'Sultan Nusantara' Banyumas Ditangkap

Polresta Banyumas tangkap 'Sultan Nusantara' atas kasus penipuan berkedok kajian. Pelaku klaim seluruh kebun sawit warisan kakeknya.

Tayang:
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: Rustam Aji
Tribun Banyumas/Permata Putra Sejati
BARANG BUKTI - Polisi menunjukan barang bukti dalam konferensi pers kasus Sultan Nusantara di Polresta Banyumas, Jumat (29/5/2026). Pelaku mengaku cucu Sultan Hamid II dari Pontianak, Kalimantan Barat, dan berhasil meyakinkan salah satu jamaah hingga menyerahkan uang Rp50,8 juta. Permata Putra Sejati  

Ringkasan Berita:
  • Pria asal Blitar berinisial W (51) berhasil menipu jamaah kajian di Banyumas.
  • Dengan mengaku sebagai cucu Sultan Hamid II dari Pontianak, Kalimantan Barat, pria yang belakangan dikenal sebagai "Sultan Nusantara" itu diduga berhasil meyakinkan salah satu jamaah hingga menyerahkan uang Rp50,8 juta.
  • Kini, sosok pria asal Blitar tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penipuan dan penggelapan oleh Polresta Banyumas.

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO Polresta Banyumas menetapkan seorang pria berinisial W (51) sebagai tersangka kasus dugaan penipuan dan penggelapan, setelah kedoknya sebagai "Sultan Nusantara" terbongkar. 

Pria asal Blitar tersebut berhasil memengaruhi jamaah kajian di Purwokerto hingga merugi puluhan juta rupiah, bermodalkan klaim fantastis bahwa seluruh perkebunan kelapa sawit di Kalimantan dan Sumatera merupakan warisan sah dari keluarganya.

Kapolresta Banyumas, Kombes Petrus Silalahi, mengungkapkan dalam konferensi pers pada Jumat (29/5/2026), bahwa tersangka W melancarkan aksinya dengan mengaku sebagai cucu kandung dari Sultan Hamid II asal Pontianak, Kalimantan Barat.

Akibat manipulasi psikologis tersebut, salah satu korban berinisial AS terperdaya hingga menyerahkan uang dengan total mencapai Rp50,8 juta kepada tersangka.

Awal Modus Penipuan Bekam dan Kajian Jumat Berkah

Menurut Kombes Petrus Silalahi, aktivitas tersangka di Banyumas sebenarnya bermula dari praktik pengobatan tradisional kuping atau bekam yang ia buka di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Arcawinangun, Kecamatan Purwokerto Timur.

"Awalnya hanya pasien bekam yang datang berobat, kemudian berkembang menjadi perkumpulan diskusi secara organik," ujar Petrus di Mapolresta Banyumas.

Melihat antusiasme warga, tersangka W kemudian meningkatkan kegiatannya dengan membuka kajian rutin mingguan bertajuk "Jumat Berkah" di sebuah ruko sewaan di wilayah yang sama. Guna menarik simpati, W memfasilitasi kegiatan tersebut dengan menyediakan makan siang gratis bagi seluruh jamaah yang hadir.

Baca juga: Sultan Nusantara tak Disebut Sesat oleh MUI Banyumas, Pimpinannya Ditetapkan Tersangka Penipuan

Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan agama formal dan mengaku belajar secara otodidak, W memosisikan diri sebagai sosok serbabisa yang mampu menjawab segala keluhan jamaah.

Di forum tersebut, ia kerap membahas isu agama, politik, hingga berita viral. Kepercayaan diri W di hadapan publik disinyalir menguat karena rekam jejaknya yang mengklaim mengelola media cetak 'Warna dan Suara Rakyat' di Jakarta sejak tahun 2012.

Klaim Palsu Cucu Sultan Hamid II dan Dokumen Fiktif

Puncak dari manipulasi ini terjadi saat tersangka mulai menyampaikan klaim kontroversial di dalam ruang kajian. W memajang foto Sultan Hamid II dan menyebut tokoh sejarah tersebut sebagai kakeknya. Tak tanggung-tanggung, ia juga mengaku sebagai ahli waris sah atas seluruh perkebunan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan, tanah PJKA, hingga seluruh pabrik gula di Indonesia.

"Pelaku mengklaim seluruh perkebunan kelapa sawit yang ada di Kalimantan dan yang ada di Sumatera, termasuk tanah PJKA serta pabrik gula di seluruh Indonesia adalah milik kakek yang diwariskan kepadanya," papar Kapolresta Banyumas.

Untuk semakin mengikat kepercayaan pengikutnya, W menjanjikan hadiah ibadah haji gratis pada tahun 2026 ini kepada para jamaah. Ia bahkan menyebut ayahnya bernama Willianto atau Hasan Ahmad Abdullah Al-Kadri sebagai keturunan langsung Sultan Hamid Al-Kadri. Namun, saat penyidik meminta bukti silsilah resmi, W sama sekali tidak dapat menunjukkannya. Polisi memastikan sebutan "Sultan Nusantara" yang sempat viral di media sosial murni skenario sepihak yang dibangun tersangka untuk menipu.

Korban Ditekan Secara Psikologis

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved