Bisnis
Pegadaian di Semarang Diserbu Para Orangtua yang Gadaikan Perhiasannya untuk Biaya Pendidikan Anak
Menjelang tahun ajaran baru, deretan wajah tua-muda silih berganti datang ke Pegadaian Cabang Depok, Kota Semarang.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: Rustam Aji
Ia menyebut masyarakat masih mengandalkan gadai sebagai solusi kebutuhan dana, terutama untuk keperluan mendesak seperti biaya pendidikan.
Proses gadai pun disebut sangat mudah cukup membawa KTP dan barang jaminan berupa emas, handphone, hingga kendaraan dengan surat lengkap.
“Dominasinya masih emas. Karena simpel, mudah dibawa, tidak perlu surat toko. Bisa batangan, bisa perhiasan, bahkan berlian juga bisa,” tambahnya.
Setiap hari, rata-rata cabang Depok mencatatkan Rp400 hingga Rp600 juta dalam transaksi pinjaman.
Jumlah itu berasal dari kurang lebih 50 transaksi harian, dengan mayoritas nasabah menggadaikan emas.
Namun Sri menegaskan, Pegadaian tidak serta-merta mengeksekusi barang nasabah yang jatuh tempo.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun, Senin 7 Juli 2025
Pihaknya akan lebih dulu menghubungi melalui surat dan WhatsApp. Masih ada waktu tenggang 15 hingga 30 hari untuk memperpanjang masa pinjaman dengan membayar bunga dan administrasi.
“Kalau lebaran biasanya justru berbeda. Di cabang lain banyak yang menebus, tapi di Depok kadang malah ada yang menitipkan. Tapi secara OSL kita masih selalu positif,” kata Sri.
Ia juga menyebut bahwa selain momen tahun ajaran baru dan Lebaran, ada juga peningkatan di musim-musim tertentu, meski kontribusi barang selain emas seperti handphone dan motor masih sangat kecil.
Hal itu karena keterbatasan gudang penyimpanan di cabang Depok, yang membuat kendaraan harus dititipkan ke cabang lain seperti Poncol.
Bagi sebagian warga, termasuk Yeni, Pegadaian bukan sekadar tempat gadai, melainkan penyambung kebutuhan mendesak terutama untuk hal-hal yang menyangkut masa depan anak. (Rad)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.