Hikmah Ramadan oleh Menteri Agama

Merawat Kemabruran Puasa: Dari Wirid ke Warid, Tidak Lagi akan Didikte oleh Kepentingan Dunia

Wirid adalah amalan hati dan yang secara telaten dilakukan seorang arifin di dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Editor: Rustam Aji
Kemenag RI
HIKMAH RAMADAN - Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA. 

WIRID dan warid berasal dari akar kata yang sama, yaitu warada-yaridu, berarti menemukan. Wirid dibedakan dan zikir. Zukir adalah amalan berupa penyebutan atau mengingat nama-nama Allah SWT.

Pengertian seperti ini sama dengan wirid. Hanya bedanya, wirid sudah diatur jumlah, jenis bacaan, metode, dan waktu pembacaannya.

Wirid adalah amalan hati dan yang secara telaten dilakukan seorang arifin di dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sedangkan warid adalah efek atau bekas yang tertinggal di dalam bentuk suasana batin dan karakter setelah secara rutin mengamalkan wirid.

Dengan demikian, sulit membayangkan adanya warid tanpa adanya wirid yang diamalkan secara rutin.

Warid adalah sesuatu yang datang dari hati berupa bisikan-bisikan yang terpuji, kemudian melahirkan ketenangan batin.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa: Dari Taabbud ke Istianah, Berharap Meraih Tanazul

Kehadirannya bukan karena disengaja tetapi lebih merupakan anugrah Allah SWT. Jika seseorang telah melakukan dosa maka biasanya akan melahirkan kegelisahan dan rasa serba salah, yang dampaknya dapat dibaca oleh orang lain.

Sebaliknya warid adalah suasana ketenangan dan kejernihan batin yang dirasakan seseorang sebagai efek dari amalan zikir dan wirid.

Ibnu 'Athaillah mengatakan: “Jangan kita menganggap rendah hamba yang memiliki wirid dan ibadah tertentu, karena keduanya memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah.”

Ia menambahkan: “Jika engkau melihat seorang hamba yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya, dan dilanggengkan-Nya dalam keadaan demikian, namun lama ia tidak mendapatkan pertolongan-Nya, maka jangan sampai engkau meremehkan apa yang Allah telah berikan itu kepadanya, hanya karena engkau belum melihat tanda-tanda orang ‘arif ataupun cahaya indah seorang pencinta Allah pada diri hamba itu. Kalaulah bukan karunia berupa warid, tentu tidak akan ada wirid.” 

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa: Dari Syariah ke Hakikat, Harus Hati-hati karena Banyak Aliran

Warid pengertiannya lebih umum daripada khawatir (bisikan) karena khawatir hanya khusus dalam bentuk informasi, pesan-pesan, bisikan, inspirasi atau apa yang terkandung dalam suatu makna.

Warid bisa berupa kehadiran kesenangan, kelapangan (basth), dan berbagai rasa yang terkandung dalam suatu makna.

Warid merupakan pemberian Allah yang berupa petunjuk, cahaya ilahi, kesenangan dalam beribadah.

Allah SWTmemberiwarid untuk menyelamatkanmu dari cengkeraman dunia dan membebaskanmu dari pada diperbudak oleh makhluk apapun.

Untuk melepaskan diri hamba dari sifat-sifat wujud yang terbatas untuk kemudian menyaksikan kebesaran Allah SWTyang tidak terbatas, sehingga bisa melupakan yang selain-Nya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved