Hikmah Ramadan oleh Menteri Agama
Merawat Kemabruran Puasa: Dari Syariah ke Hakikat, Harus Hati-hati karena Banyak Aliran
Barangsiapa yang berfikih tanpa bertasawuf maka ia zindiq, dan barangsiapa yang menggabungkan keduanya maka ia mencapai puncak kebenaran).
DALAM kitab-kitab tasawuf sering kita temukan istilah: Man tashawwaf wa lam yatafaqqaha faqad tafassaq, wa man tafaqqaha wa lam yatashawwafa faqad tazandaq, wa man jama’a baina huma faqad tahaqqaqah.
(Barangsiapa yang bertasawuf (hakikat) tanpa berfikih (syariah) maka ia fasik. Barangsiapa yang berfikih tanpa bertasawuf maka ia zindiq, dan barangsiapa yang menggabungkan keduanya maka ia mencapai puncak kebenaran).
Pernyataan ini mengisyaratkan betapa pentingnya penyerasian antara syariah dan hakikat.
Menurut Al-Qusyairi, syariah merupakan perintah yang harus dilaksanakan dalam bentuk ibadah, dan hakekat merupakan kesaksian akan kehadiran peran serta ketuhanan dalam setiap kehidupan.
Syariah lebih merupakan konsep merambah jalan Tuhan, sedangkan hakikat keabadian di dalam melihat-Nya. Kita masih mengenal satu istilah lain, yaitu tarekat, yang merupakan perjalanan hamba di dalam meniti jalan syariah.
Dengan alasan apapun, tidak ada jalan lain para ahli hakikat untuk meninggalkan syariah.
Namun idealnya pengamalan syariah disemangati oleh hakekat. Wadah untuk menyinergikan antara syariah dan hakekat ialah tarekat.
Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Wilayah Kabupaten Cilacap Ramadan Hari Ke-25 Selasa, 25 Maret 2025
Orang yang menuntun jamaah unruk melakukan sinerji syariah dan hakekat biasanya disebut musrsyid. Sedangkan mursyid adalah representasi atau perpanjangan syekh, yang merupakan pendiri dan penganjur suatu tarekat.
Kehadiran syariah yang tidak diikat dengan hakikat tidak dapat diterima.
Sebaliknya kehadiran hakikat tidak dilandasi syariah tidak akan berhasil.
Bahkan kemungkinannya bisa mengakibatkan penyesatan. Siapapun yang hendak memasuki dunia hakekat lebih jauh sebaiknya memilki mursyid yang akan membimbing mereka.
Syariah berisi beban hukum dari Allah Swt kepada para hamba, sedangkan hakikat lebih merupakan dominasi kreatif Al-Haq dan merupakan kesaksian terhadap sesuatu yang telah ditentukan pada diri hamba. Al-Qusyairi
mencontohkan: Iyyaka nabudu adalah manifestasi syariah, sedangkan iyyaka nastain adalah
manifestasi hakikat.
Sesungguhnya seseorang tidak mesti harus bertarekat. Tidak mesti juga seseorang memiliki syekh atau mursyid dalam arti pemimpin tarekat.
Seseoarang bisa mendapatkan bimbingan dari ulama atau ustaz yang mendasarkan ajarannya pada Alquran dan hadis.
Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa: Dari Self-Love ke Selfishness, Waspadai Gangguan Psikologis
Hanya saja bimbingan mereka sering dianggap bersifat generik dan umum.
Merawat Kemabruran Puasa: Dari Religiousness dan Religious Mindedness, Menuju Rahmatan Lil ‘alamin |
![]() |
---|
Merawat Kemabruran Puasa: Dari Salam, Islam, ke Istislam, Seorang Muslim harus Mengutamakan Damai |
![]() |
---|
Kemabruran Puasa: Dari Sufi Palsu ke Sufi Sejati, Segala yang Keluar dari Hati akan Mendarat di Hati |
![]() |
---|
Merawat Kemabruran Puasa: Dari Wirid ke Warid, Tidak Lagi akan Didikte oleh Kepentingan Dunia |
![]() |
---|
Merawat Kemabruran Puasa: Dari Ta'abbud ke Isti'anah, Berharap Meraih Tanazul |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.