Selasa, 5 Mei 2026

20 Tahun Tsunami Aceh

Kisah 2 Ibu yang Kembali Bangkit dan Berdaya, Salawati Mulai dengan Usaha Abon Ikan

Saat itu saya dalam perjalanan pulang ke Banda Aceh bersama suami dan anak bungsu, Putra, kami mendapat kabar buruk. Saya hancur sehancur-hancurnya

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Rustam Aji
KOMPAS.COM/DASPRIANI Y. ZAMZAMI
KORBAN TSUNAMI - Putra (29) sedang mengiris ikan tuna kecil (Ikan tongkol) yang sudah dijemur untuk dijadikan keumamah, penganan ikan awet yang menjadi kuliner tradisional Aceh. Putra kini melanjutkan perjalanan usaha keumamah dan abon ikan milik Salawati, seorang penyintas bencana tsunami Aceh. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANDA ACEH— Peristiwa tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 tidak bisa dilupakan.

Hari ini, kenangan itu muncul kembali, tapi tentu dalam suasana yang berbeda.

Bagi para korban, kenangan memilukan ini menjadi bagian sejarah hidup mereka. Tak terkeculai buat  Salawati, pengusaha UMKM abon ikan dan ikan kayu atau keumamah bermerek Putra Abon.

Mendatangi rumahnya, langsung disambut aroma ikan tuna rebus memenuhi seluruh dapur, bahkan sampai halaman rumah. 

Terlihat dua dandang besar teronggok di atas kompor, menggelegak berisi potongan ikan tuna kecil atau tongkol. 

Aroma harum semakin terasa ketika rebusan ikan dicampur daun belimbing wuluh.

"Di Aceh, kalau merebus ikan tongkol, harus dipadu dengan daun belimbing wuluh. Ini resep turun-temurun," kata Salawati.

Dia ditemui di kediamannya di Merduati, Banda Aceh, pada pertengahan Desember 2024. 

Salawati mengaku memulai usahanya jauh sebelum tahun 2004, tepatnya pada 1998.

Namun, ketika usahanya mulai berkembang, gempa dan tsunami besar melanda Aceh.

Bencana itu tak hanya menghancurkan usaha, tetapi juga merenggut dua anak perempuan Salawati yang hingga kini jasadnya belum ditemukan.

“Saat itu saya dalam perjalanan pulang ke Banda Aceh bersama suami dan anak bungsu, Putra, kami mendapat kabar buruk. Saya hancur sehancur-hancurnya,” kenang Salawati. 

Rumahnya di Gampong Merduati rata dengan tanah. Akses jalan tertutup lumpur dan sampah, sehingga Salawati baru bisa menapak seminggu setelah kejadian. Ia mencari informasi tentang dua putrinya yang hilang.

"Hingga hari ini, dua puluh tahun berlalu, saya tak pernah menjumpai jasad kedua anak saya, bahkan kuburannya pun tidak tahu di mana," ujar Salawati dengan mata menerawang.

Selama dua tahun, hidupnya terasa kosong. Namun, Salawati menyadari ada satu anak laki-laki yang harus diberi kehidupan yang baik.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved