Selasa, 5 Mei 2026

20 Tahun Tsunami Aceh

Kisah 2 Ibu yang Kembali Bangkit dan Berdaya, Salawati Mulai dengan Usaha Abon Ikan

Saat itu saya dalam perjalanan pulang ke Banda Aceh bersama suami dan anak bungsu, Putra, kami mendapat kabar buruk. Saya hancur sehancur-hancurnya

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Rustam Aji
KOMPAS.COM/DASPRIANI Y. ZAMZAMI
KORBAN TSUNAMI - Putra (29) sedang mengiris ikan tuna kecil (Ikan tongkol) yang sudah dijemur untuk dijadikan keumamah, penganan ikan awet yang menjadi kuliner tradisional Aceh. Putra kini melanjutkan perjalanan usaha keumamah dan abon ikan milik Salawati, seorang penyintas bencana tsunami Aceh. 

Perlahan, ia dan suami bangkit dari kehancuran dan mulai kembali menjalankan usaha abon ikan.

Laut yang sempat mengambil hidupnya kini memberikan kesempatan melalui ikan yang berlimpah. Setelah usia kepala enam, Salawati mulai menyerahkan pengelolaan usaha kepada anaknya, Putra (29), karena kondisi kesehatannya menurun.

“Usaha ini pernah jatuh drastis, terutama saat covid, dan kini berusaha bangkit kembali,” katanya.

Putra, yang kini melanjutkan usaha orangtuanya, mengungkapkan, “Orangtua saya sudah membangun usaha ini jatuh bangun, dan saya harus melanjutkannya.”

Pengalaman 20 tahun lalu selalu menjadi pelajaran yang terus diingatnya.

Aina (60) juga merasakan hal serupa. Warga Mereudu, Kabupaten Pidie Jaya, ini mengalami kehancuran akibat bencana.

Sebelumnya, ia hanya membuat kerupuk di pesisir pantai, namun bencana menghancurkan usahanya.

Kini, Aina mengalihkan usaha kerupuk menjadi kue tradisional Aceh, Adee, dengan merek "Adee Kak Aina."

Ia memulai usaha baru setelah dibantu pemerintah Jepang melalui lembaga JICA.

“Adee adalah kue khas Aceh, kami mendapat modal dan pendampingan dari pemerintah Jepang setelah tsunami,” kata Aina. 

Seperti Salawati, Aina juga merasakan krisis usaha akibat pandemi Covid-19.

"Tapi itu bukan seberapa. Kami pernah hancur lebih parah saat gempa dan tsunami, jadi kami tetap semangat berusaha,” ujar Aina.

Penjabat Gubernur Aceh Safrizal ZA mengatakan, pemerintah dan masyarakat mengucapkan terima kasih kepada negara dan lembaga donor yang membantu proses rekonstruksi Aceh setelah bencana.

"Sekarang, dua dekade telah berlalu. Tsunami 2004 merenggut lebih dari 230 ribu jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur, mengubah kehidupan masyarakat," ucap Safrizal pada pembukaan Aceh International Forum, Senin (23/12/2024).

Safrizal menekankan, proses pemulihan Aceh dari 2005 hingga 2009 menunjukkan bahwa dengan gotong royong, Aceh mampu bangkit.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved