Selasa, 21 April 2026

Banyumas

Jualan Pakai Kebaya, Cara Unik Bakul Purwasera Banyumas Peringati Hari Kartini

Pedagang kuliner Purwasera Banyumas kompak berjualan pakai kebaya dan lurik untuk peringati Hari Kartini pada Selasa (21/4/2026).

Tribun Banyumas/Permata Putra Sejati
JUALAN PAKAI KEBAYA - Suasana aktivitas di Zona Kuliner Purwasera, Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Selasa (21/4/2026). Para pedagang memperingati Hari Kartini dengan cara unik, yakni tetap melayani pembeli sambil mengenakan kebaya dan lurik tradisional. 
Ringkasan Berita:
  • Pedagang Zona Kuliner Purwasera peringati Hari Kartini dengan memakai baju adat saat berjualan, Selasa (21/4/2026).
  • Perempuan tampil anggun berkebaya, sedangkan pedagang laki-laki memakai lurik dan iket kepala.
  • Aksi unik ini menjadi simbol penghormatan atas perjuangan R.A. Kartini tentang kesetaraan.
  • Paguyuban menjadikan giat ini agenda rutin demi memotivasi kemandirian perempuan sebagai pejuang keluarga.

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Semangat emansipasi tak hanya diperingati lewat seremoni pemerintahan semata, tetapi juga diwujudkan dalam denyut aktivitas masyarakat sehari-hari.

Di Zona Kuliner Purwasera, Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, para pedagang memiliki cara tersendiri untuk memperingati Hari Kartini.

Mereka tetap gigih berjualan mencari nafkah namun dengan mengenakan busana tradisional.

Baca juga: Kartini dan Relasi yang Tak Sederhana: Cerita yang Jarang Dibicarakan

Pakai busana tradisional

Suasana berbeda dan unik tampak pada Selasa (21/4/2026). Sederet pedagang tampil nyentrik mengenakan pakaian adat di tengah hiruk-pikuk kesibukan melayani pesanan pembeli.

Para pedagang perempuan terlihat sangat anggun mengenakan kebaya lengkap. Tak mau kalah, para pedagang laki-laki juga tampil khas dengan balutan kain lurik serta iket blangkon di kepala.

Penampilan nyentrik tersebut tak pelak mencuri perhatian setiap pengunjung yang datang untuk bersantap, sekaligus menjadi simbol penghormatan terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan.

Simbol perjuangan perempuan

Salah seorang pedagang, Susi (45), mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk cara sederhana dari rakyat kecil untuk menjaga semangat Kartini agar tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat modern.

"Kami ingin terus mengobarkan semangat nilai juang Kartini. Sebagai perempuan, harus tetap kuat, mandiri, dan tidak boleh kalah," ujarnya penuh semangat kepada Tribunbanyumas.com.

Balutan kebaya yang dikenakan para pedagang perempuan di area dapur tersebut pun seolah mempertegas pesan bahwa seorang perempuan dapat tetap tampil anggun sekaligus berdaya, termasuk dalam menjalankan aktivitas keras ekonomi sehari-hari.

Jadi agenda rutin

Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Zona Kuliner Purwasera, Fachrudin (58), menuturkan bahwa peringatan Hari Kartini dengan pakaian adat ini ternyata telah menjadi agenda rutin tahunan di kawasan kulinernya.

"Hari Kartini di sini sudah menjadi agenda rutin agar semangat juang Raden Ajeng Kartini menempel pada ibu-ibu yang berjualan di sini. Karena mereka sebagai pejuang keluarga," ujarnya mengapresiasi.

Ia berharap besar, agar gelora semangat Kartini tidak berhenti sekadar pada peringatan seremonial saja. Lebih dari itu, semangat tersebut harus terus hidup dalam keseharian, khususnya dalam mendorong perempuan menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, serta mampu memberikan motivasi positif bagi lingkungan sekitarnya. (jti)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved