Berita Banyumas
Kisah Arky Dirikan Greenprosa: Sampah Terkelola, LingkunganTerjaga, Ketahanan Pangan Pun Tercipta
Pada 2021, Arky mendirikan PT Greenprosa Adikara Nusa (Greenprosa) yang memiliki sistem Integrated Waste Management (Pengelolaan Sampah Terpadu).
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: mamdukh adi priyanto
TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - “Kalau makan enggak habis, nanti nasinya nangis, lo!”
Perkataan itu tentu tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Kalimat tersebut seolah jadi semacam konsensus tak tertulis bagi para orang tua di Indonesia tentang cara menasihati anak agar tak menyia-nyiakan makanan.
Anak-anak Indonesia diberi imajinasi bahwa butiran-butiran sisa nasi di piring akan bersedih dan menangis jika tidak dimakan sampai tandas.
Sayangnya, imajinasi kolektif orang-orang Indonesia itu seperti tidak berarti apa-apa. Hingga kini, limbah pangan masih jadi persoalan pelik di negeri ini. Masih banyak orang yang menyia-nyiakan makanan.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sampah sisa makanan masih mendominasi total timbulan sampah di Indonesia.
Menurut data dari laman SIPSN, dari total timbulan sampah sebesar 38,6 juta ton pada 2023, sebesar 39,77 persen di antaranya merupakan sampah sisa makanan. Jumlah tersebut bahkan jauh lebih besar dari sampah plastik yang berada di urutan kedua dengan persentase 19,23 persen.
Kondisi tersebut menjadi kegelisahan Arky Gilang Wahab (38), pria asal Desa Banjaranyar, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas.
Dia mengatakan, masalah sampah sisa makanan tidak bisa disepelekan. Sebab, hal ini bisa menjadi pemicu masalah lebih besar.
Sampah sisa makanan bisa menimbulkan gas metana yang jadi pemicu kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan pemanasan global. Sampah sisa makanan juga bisa jadi pemicu pencemaran tanah dan krisis pangan.
Merasa prihatin dengan permasalahan limbah makanan, pada 2018 Arky merintis upaya pengelolaan sampah organik dengan memanfaatkan maggot atau larva lalat jenis Black Soldier Fly (BSF).
Berawal dari lingkungan tempat tinggalnya sendiri, skala pengelolaan limbah organik yang dilakukan Arky terus berkembang.
Pada 2021, Arky mendirikan PT Greenprosa Adikara Nusa (Greenprosa) yang memiliki sistem Integrated Waste Management (Pengelolaan Sampah Terpadu).
Kini, dalam sehari Greenprosa bisa mengolah puluhan ton sampah, baik sampah organik maupun anorganik.
Berkat perannya di bidang lingkungan, Arky Gilang Wahab menerima penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards tingkat nasional pada 2021.
Penghargaan itu didapatkan Arky atas sistem konversi limbah organik yang dia jalankan di Greenprosa demi mewujudkan ketahanan pangan.
| Perkutut Asli Banyumas Diyakini Bawa Kebaikan, Penghobi Burung Kicau Mulai Memburu di Pasar |
|
|---|
| 34 Perlintasan Kereta Api di Daop 5 Purwokerto Tak Dijaga, Warga Diimbau Disiplin Jaga Keselamatan |
|
|---|
| Gen Z Banyumas Gandrungi Burung Kicau, Penjualan di Pasar Burung Peksi Bacingan Purwokerto Naik |
|
|---|
| Hamil 8 Bulan, Warga Lumbir Banyumas Dianiaya Suami Gara-gara Tak Terima Motor Digadaikan |
|
|---|
| Banyumas Raya Alami Deflasi, Dipicu Penurunan Harga Daging Ayam dan Cabai Rawit |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/budidaya-magot-di-banyumas-pt-greenprosa-arky-gilang-wahab.jpg)