Jumat, 1 Mei 2026

Berita Jepara

Duh, 4 dari 36 Anak di Jepara Mengalami Gangguan Pendengaran. Apa Penyebabnya?

Dinkes Jepara menemukan hampir 10 persen anak di bawah usia 16 tahun mengalami gangguan pendengaran.

Tayang:
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/TITO ISNA UTAMA
Dinkes Jepara mengecek kesehatan mata dan telinga siswa SDN 4 Mindahan, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Rabu (14/8/2024). Dinkes Jepara menemukan 4 dari 36 siswa SD di Jepara mengalami penurunan kesehatan telinga yang bisa mengganggu proses belajar. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, JEPARA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng), menemukan hampir 10 persen anak di bawah usia 16 tahun mengalami gangguan pendengaran.

Hal ini diketahui dari hasil pengecekan kesehatan telinga dan mata kepada siswa SD di Jepara.

Kepala Dinkes Jepara Mudrikatun mengatakan, pengecekan ini dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan mata dan telinga siswa sehingga diketahui penanganan agar proses pembelajaran bisa dilaksanakan optimal.

Menurutnya, kesehatan indera pendengaran dan pengelihatan sangat penting dalam meningkatkan kualitas serta produktivitas daya manusia.

Dalam pemeriksaan yang dilakukan Dinkes Jepara kepada 36 anak, ditemukan sekiranya 10 persen atau empat anak mengalami permasalahan penglihatan.

"Data WHO menunjukkan bahwa sekitar 466 juta atau 6,1 persen orang dari seluruh dunia mengalami gangguan pendengaran. Di dalamnya terdiri dari 432 juta atau 93 persen penduduk dewasa dan 34 juta atau 7 persen anak-anak. Ini yang perlu kita waspadai," kata Mudrikatun, Rabu (14/8/2024).

Baca juga: Berusia 124 Tahun, Tarpani Bakal Jadi Pemilih Tertua di Jepara Pada Pilkada 2024

Mengacu dari data WHO, diperkirakan, pada tahun 2050, penderita gangguan pendengaran akan mencapai 900 juta orang.

Dia menjelaskan, 60 gangguan pendengaraan pada anak di bawah usia 16 tahun dipicu aktivitas atau penyakit yang dapat dicegah. 

Semisal akibat infeksi gondok, campak, rubela, meningitis, infeksi sitomegalovirus, dan otitis media kronis.

"Selebihnya, bisa dari komplikasi pada saat kelahiran, semisal kelahiran asfiksia, berat badan lahir rendah, prematur, dan penyakit kuning, serta penggunaan obat-obatan ototoxic pada ibu hamil dan bayi," jelasnya.

Baca juga: Wiwit Sodorkan Nama Gus Hajar sebagai Pasangan di Pilkada Jepara, Nasdem Tunggu Restu PPP

Selain masalah pendengaran atau telinga, jumlah penderita gangguan mata juga cukup tinggi.

Bagi dia, masalah kesehatan ini perlu ditangani secara serius melalui program deteksi gangguan pada pendengaran dan penglihatan yang menyasar siswa SD di Jepara.

"Kami lakukan pemeriksaan telinga. Tahap ini, sasarannya 73 anak, ada 38 anak yang serumen," katanya. (*)

Baca juga: Dapat Bonus Rp6 Miliar, Rizki Juniansyah Pastikan Atlet Angkat Besi di Banten Bakal Ikut Rasakan

Baca juga: Tergiur Cuan Hingga Rp3 Juta Per Unit, Warga Kudus Jalankan Bisnis Motor Bodong Tarikan Leasing

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved