Berita Jepara
Solusi Cerdas Sawah Pesisir: Padi Biosalin di Jepara Mampu Hasilkan 7 Ton Meski Dihantam Rob
Petani Jepara mulai panen padi Biosalin inovasi BRIN. Tahan air asin & uap laut, varietas ini jadi solusi gagal panen di lahan pesisir.
Penulis: Saiful Masum | Editor: Rustam Aji
Ringkasan Berita:
- Kehadiran varietas padi Biosalin, hasil inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), terbukti mampu bertahan di lahan marginal dan memberikan harapan baru bagi swasembada pangan di wilayah pesisir Kabupaten Jepara.
- Zubaedi (55), seorang petani asal Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo, mengaku selama 30 tahun bertani selalu dihantui ancaman gagal panen total akibat rob, terutama pada Musim Tanam (MT) II.
- Namun, dalam masa panen kali ini, Sabtu (25/4/2026), ia mulai bernapas lega.
TRIBUNBANYUMAS.COM, JEPARA – Fenomena air asin dan uap air laut yang selama puluhan tahun menjadi musuh bebuyutan petani di pesisir Kabupaten Jepara kini mulai menemukan tandingan.
Kehadiran varietas padi Biosalin, hasil inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), terbukti mampu bertahan di lahan marginal dan memberikan harapan baru bagi swasembada pangan di wilayah pesisir.
Zubaedi (55), seorang petani asal Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo, mengaku selama 30 tahun bertani selalu dihantui ancaman gagal panen total akibat rob, terutama pada Musim Tanam (MT) II. Namun, dalam masa panen kali ini, Sabtu (25/4/2026), ia mulai bernapas lega.
"Kalau dulu kena rob atau uap laut, tanaman pasti mati dan hanya bisa pasrah tunggu musim berikutnya. Sekarang coba padi Biosalin, hasilnya memuaskan bisa mencapai 6-7 ton per hektare," ungkap Zubaedi.
Uji Coba Meluas di Garis Pantai Jepara
Sejak akhir 2025, BRIN telah melakukan uji coba penanaman padi Biosalin di 22 hektare lahan sawah yang tersebar di Desa Suwawal (Mlonggo), Desa Bandungharjo (Donorojo), hingga Kemujan di Kepulauan Karimunjawa.
Meski sempat terkendala hama di beberapa titik, hasil panen di Bandungharjo tercatat cukup tinggi di angka 6-7 ton per hektare. Angka ini diprediksi bisa melonjak hingga 9 ton per hektare jika didukung saluran irigasi yang lebih memadai.
Baca juga: Legenda PSIS Emmanuel De Porras Kembali ke Semarang, Dapat Tugas Khusus
Kepala BRIN, Prof. Arif Satria, menjelaskan bahwa Biosalin 1 dan 2 dirancang khusus untuk lahan dengan tingkat salinitas (kadar garam) tinggi. Dengan masa tanam yang relatif singkat, yakni 84-107 hari, varietas ini memungkinkan petani panen tiga kali setahun.
"Inovasi ini adalah jawaban atas ancaman rob di Pantura. Kami mengidentifikasi sekitar 1.100 hektare lahan pesisir yang rawan terdampak. Desa Bandungharjo ini menjadi miniatur pengembangan solusi pertanian, industri, hingga kesehatan," jelas Arif Satria.
Dukungan Swasembada Pangan Nasional
Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan RI, Widiastuti, menegaskan bahwa padi Biosalin selaras dengan program strategis nasional. Inovasi ini diharapkan mampu mendongkrak produktivitas lahan pesisir yang selama ini hanya menyumbang sekitar 30 persen dari potensi maksimalnya.
"Melalui varietas unggulan ini, kita targetkan produktivitas lahan pesisir naik di atas 50 persen. Kami sudah berkoordinasi dengan Kementan untuk pengadaan benih secara masif agar petani mudah mengaksesnya," kata Widiastuti.
Baca juga: Anggaran Pemeliharaan Nihil, Rohmat Berjuang Rawat Candi Mataram Kuno di Kayen Pati
Senada, Bupati Jepara Witiarso Utomo mengapresiasi kehadiran teknologi ini di wilayahnya. Mengingat Jepara memiliki garis pantai sepanjang 82,73 kilometer, potensi sawah yang terdampak salinitas sangat luas.
"Kami memiliki 25.640 hektare lahan baku sawah. Panen padi Biosalin ini diharapkan menjadi solusi inovatif bagi wilayah pesisir dan lahan marginal, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah maupun nasional," pungkas Witiarso. (Sam)
| Legenda PSIS Emmanuel De Porras Kembali ke Semarang, Dapat Tugas Khusus |
|
|---|
| Anggaran Pemeliharaan Nihil, Rohmat Berjuang Rawat Candi Mataram Kuno di Kayen Pati |
|
|---|
| Potensi Pendapatan Jateng Rp 50 M Hilang Gegara Kendaraan Listrik Batal Dipajaki |
|
|---|
| Abdul Mu'ti Tepis Anggaran Pendidikan untuk MBG, Program Revitalisasi Sekolah Masih Jalan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260425-petani-jepara.jpg)