Berita Kudus

Warga Masin Kudus Bagi-bagi Paha Ayam di Tradisi Sewu Sempol, Digelar Setiap Jelang Ramadan

Masyarakat Dukuh Masin, Desa Kandangan, Kudus, bagi-bagi paha ayam di tradisi 'Sewu Sempol'. Tradisi ini digelar menjelang Ramadan.

Penulis: Saiful Masum | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/SAIFUL MA'SUM
Pengurus Makam Keramat Punden Masin menyiapkan Sempol ayam yang merupakan sedekah warga Dukuh Masin, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, dalam tradisi 'Sewu Sempol' di Makam Keramat Punden Masin, Kamis (7/3/2024). Acara ini digelar di hari Kamis akhir bulan Ruwah sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas berkah yang diterima dalam setahun terakhir. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, KUDUS - Masyarakat Dukuh Masin, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, mempunyai tradisi budaya unik yang digelar setahun sekali pada hari Kamis terakhir di Bulan Ruwah atau Sya'ban menjelang datangnya Ramadan, seperti hari ini.

Tradisi bernama "Sewu Sempol" ini dipusatkan di Makam Keramat Punden Masin, tempat di mana Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku dimakamkan.

Sempol merupakan sebutan warga untuk paha ayam bagian bawah.

Sementara 'sewu' berarti seribu atau 'sewu sempol' memiliki arti seribu paha ayam.

Saat acara, masyarakat melakukan sedekah kubur di Punden Masin sambil membawa nasi dan ingkung ayam.

Setiap warga juga memberikan satu sempol atau paha ayam kepada pengurus makam untuk selanjutnya dibagi-bagikan.

Ketua Pengurus Makam Keramat Punden Masin, Sumartono mengatakan, tradisi sedekah kubur atau sewu sempol pada awalnya merupakan tradisi sedekah biasa yang dilakukan masyarakat Masin, Desa Kandangmas.

Dalam pelaksanaannya, warga yang hendak melakukan sedekah kubur, mengundang saudara dan tetangga untuk mendoakan keluarga dan sudara-saudaranya yang sudah meninggal.

Baca juga: Caleg Muda 29 Tahun dari Kudus Berpotensi Raih Kursi di DPRD

Tradisi tersebut kemudian disederhanakan dan difasilitasi pengurus Makam Keramat Punden Masin menjadi satu kegiatan bersama yang dilakukan sekali dalam setahun.

"Ini tradisi sudah ada sejak jaman dahulu, sejak saya lahir, kurang lebih 70 tahun lalu, sudah ada."

"Sekarang, menjadi tradisi budaya yang harus dilestarikan dan dijaga baik," terangnya, Kamis (7/3/2024).

Pelaksanaan tradisi Sewu Sempol melibatkan seribuan warga dari masyarakat Desa Kandangmas dan beberapa pengunjung dari berbagai daerah lain.

Semua warga yang hadir mendapat nasi dan sempol ayam yang dikumpulkan dari sedekah warga, sebagai berkat pelaksanaan tradisi budaya.

Sumartono menyebut, sempol ayam dijadikan sebagai media berbagi atau sedekah masyarakat Desa Kandangmas kepada pengunjung makam.

Sedekah sempol ayam ini bentuk ungkapan syukur warga atas kelimpahan rizki, kesehatan, dan ketentraman selama setahun terakhir.

"Ada dua kegiatan yang menjadi kegiatan rutin di makam keramat. Pertama, sedekah kubur atau sewu sempol, serta khol Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku," tuturnya.

Baca juga: Pemilik Biro Umrah Kudus Tilep Dana Jemaah Rp4,9 Miliar, Diduga untuk Beli Mobil hingga Judi Online

Selain membagikan sempol atau paha ayam, masyarakat melakukan doa bersama dengan membaca tahlil di komplek Makam Keramat Punden Masin.

Tujuannya, mendoakan keluarga yang sudah meninggal supaya mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

"Sempol ayam ini simbolis keselamatan dalam tradisi budaya," jelasnya.

Kepala Desa Kandangmas, Sofyan menyampaikan, sedekah kubur atau sewu sempol sudah ada sejak jaman dahulu.

Sehingga, menjadi tugas masyarakat saat ini untuk menjaga agar tidak punah.

Menurut dia, tradisi ini bagian dari ikhtiar dan doa masyarakat mengharapkan keberkahan kepada Allah SWT.

Baik keberkahan dalam keselamatan, berkah Rizki, berkah kesehatan, dan berbagai keberkahan lain.

"Tujuannya, untuk mengambil berkah kegiatan, ngalap berkah supaya diberikan kesehatan, ketentraman, dan rizki melimpah. Harus dijaga dan dilestarikan dengan baik," ujarnya.

Baca juga: Pulang Sekolah, Bocah 4 Tahun Tenggelam di Sungai Gelis Kudus. Ditemukan Dalam Kondisi Tak Bernyawa

Sementara, Camat Dawe Famny Dwi Arfana menambahkan, wujud rasa syukur yang dicurahkan masyarakat melalui sebuah tradisi budaya ini patut diapresiasi.

Pihaknya memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya tradisi budaya khas Masin, Kandangmas, supaya bisa dijalankan rutin setiap tahun.

"Masyarakat hadir dalam kegiatan untuk mengharap berkah. Kami dukung penuh pelestarian tradisi budaya ini, selain bagian dari upaya nguri-uri budaya, sekaligus ajang bersilaturahim antar warga," harap dia.

Seorang warga, Setiasih mengatakan, sudah beberapa tahun mengikuti tradisi budaya sewu sempol atau sedekah kubur.

Kata dia, tradisi ini bagian dari upaya masyarakat dalam mengungkapkan rasa syukur sembari berdoa bersama.

"Ya, ini pelaksanaan tradisinya diikuti banyak orang, mungkin lebih dari seribu orang bersama-sama serentak," tutur dia. (*)

Baca juga: Tempat Tidur di RSUD Soewondo Kendal Penuh, Jumlah Pasien Melonjak karena DBD dan Demam

Baca juga: Belum Jadi WNI, 3 Pemain Ini Sudah Dipanggil Timnas Indonesia untuk Kualifikasi Piala Dunia 2026

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved