Berita Internasional

Korban Tewas Banjir Korea Selatan Capai 40 Orang, Pemerintah Bakal Rombak Sistem Tanggap Bencana

Korban tewas banjir dan longsor di Korea Selatan terus bertambah. Selasa (18/7/2023), korban meninggal mencapai lebih dari 40 orang, 9 hilang.

Penulis: rika irawati | Editor: rika irawati
REUTERS/Kim Hong-ji
Tim SAR mencari korban banjir di underpass di Kota Cheongju, Korea Selatan, Minggu (16/7/2023). Hingga Selasa (18/7/2023), tercatat lebih dari 40 orang tewas dan sembilan orang hilang akibat banjir dan longsor di negara tersebut. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEOUL - Korban tewas banjir dan longsor di Korea Selatan terus bertambah. Selasa (18/7/2023), tercatat korban meninggal mencapai lebih dari 40 orang dan sembilan orang hilang.

Jumlah korban itu termasuk 14 orang yang tewas ketika banjir menjebak mereka di sebuah underpass di Kota Cheongju.

Dikutip dari Reuters, terkait kondisi ini, Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol menyerukan perombakan sistem tanggap bencana negara itu untuk mengatasi krisis yang disebabkan oleh perubahan iklim.

"Perubahan iklim menyebabkan bencana alam yang ekstrem," kata Yoon dalam rapat kabinet yang disiarkan langsung televisi, Selasa waktu setempat.

"Kami tidak dapat menanggapi cuaca abnormal yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, seperti yang telah kami lakukan sampai sekarang," kata Yoon.

Baca juga: Banjir Melanda Korea Selatan, 31 Orang Tewas. Korban Terjebak di Jalan Bawah Tanah Masih Dicari

Dia mengatakan, Korea Selatan harus memiliki sistem digital untuk menyimulasikan dan memantau prakiraan curah hujan yang akan memungkinkan para pejabat mengambil langkah-langkah keamanan pencegahan.

"Inilah yang saya tekankan sejak tahun lalu," katanya.

Pada Agustus tahun lalu, Seoul dilanda banjir besar akibat hujan deras.

Banjir ini tercatat sebagai terberat dalam 115 tahun di Seoul.

Banjir itu melumpuhkan area komersial dan menggenangi lingkungan dataran rendah di distrik Gangnam yang makmur.

Namun, banyaknya korban jatuh di banjir pekan lalu, memicu keraguan terhadap upaya pemerintah Korea Selatan mempersiapkan diri menghadapi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

Baca juga: BMKG Prediksi Jateng Dilanda Cuaca Ekstrem di Akhir Pekan, Wilayah Banyumas Raya Juga Terdampak!

Para ahli mengatakan, pemerintah gagal menyisihkan dana yang dibutuhkan untuk memenuhi janjinya dan malah terlalu fokus pada pemulihan.

Hujan deras di Korea Selatan bertepatan dengan panas ekstrem di tempat lain di seluruh dunia.

Juga, bertepatan dengan aksi AS dan China, dua penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia, melanjutkan diplomasi tingkat atas untuk membahas upaya bersama memerangi pemanasan global.

Utusan iklim AS, John Kerry mengatakan, China dan Amerika Serikat harus membuat kemajuan nyata dalam empat bulan sebelum pembicaraan iklim yang disponsori PBB dimulai di Dubai. (*)

Baca juga: PSSI Pertimbangkan Pengurangan Poin Klub Liga 1 yang Didukung Suporter Berulah

Baca juga: Janji Tak Ada PHK Massal, Pemerintah Masih Bahas Nasib 2,3 Juta Tenaga Honorer yang Dihapus November

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved