Berita Banyumas
Cerita Keluarga Pasien Kecewa Pelayanan Rumah Sakit di Banyumas, Ditolak Karena Pakai BPJS
Cerita kekecewaan keluarga pasien terhadap beberapa rumah sakit di Banyumas ramai jadi perbincangan.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: mamdukh adi priyanto
TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Cerita kekecewaan keluarga pasien terhadap beberapa rumah sakit di Banyumas ramai jadi perbincangan.
Akun twitter bernama @meysetiawati membagikan sebuah cerita dan pengalamannya dalam merawat adiknya yang terbaring sakit.
Dalam postingan yang dibagikan sejak 18 jam yang lalu dan telah dilihat sebanyak 89 ribu kali, ia menceritakan perjuangannya dalam merawat adiknya bernama Geta Ramdhani (18) warga Ajibarang Kulon, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas.
Akun @meysetiawati juga sekaligus menumpahkan keluh kesahnya terhadap pelayanan kurang baik di beberapa rumah sakit di Banyumas.
Baca juga: Kemenag Banyumas Ingatkan, Calon Jemaah Umrah dan Haji Khusus Kini Wajib Jadi Peserta BPJS Kesehatan
TribunBanyuamas berusaha konfirmasi kebenaran cerita dalam postingan twitter tersebut ke pihak keluarga Geta.
Salah satu yang bisa ditemui adalah Nizar (31) yang merupakan suami dari pemilik akun @meysetiawati.
Ia membenarkan semua cerita dalam postingan itu.
"Ingin menulis cerita itu di twitter lantaran ingin berbagi pengalaman perjuangan keluarganya saja.
Supaya pasien dapat pelayanan yang baik," katanya saat ditemui TribunBanyumas.com, Kamis (9/3/2023).
Baca juga: RSUD Ajibarang Banyumas Kini Miliki 16 Kamar Kelas 3 Standar BPJS, Fasilitas Komplit
BPJS Kelas III
Cerita bermula pada Jumat (10/2/2023) lalu ketika adiknya Geta mengeluh sakit sepulang dari Purwokerto
Keesokan harinya ia bersama dengan suami, mengantarkan Geta ke dokter umum di daerahnya.
Geta mengeluh demam, kekurangan selera makan, lemas, dan mudah lelah.
Namun usai dibawa ke dokter umum kondisinya tidak berubah.
Kamis malam (16/3/2023) kondisi Geta terus-menerus mengeluarkan liur dari mulutnya.
Tenggorokannya juga susah menelan.
Ia juga merasa pusing dan lemas.
"Bapaku mengira Geta darah rendah, kemudian dibelikan sate kambing.
Setiap malam Geta menggerutu karena 3 hari setelah berobat, Ia merasa tak ada perubahan," tulis akun @meysetiawati.
Akhirnya Geta dibawa ke dokter umum lain, namun kondisinya tidak kunjung membaik malah terus memburuk.
Karena tidak kunjung membaik, keluarga akhirnya membujuk Geta yang takut jarum suntik itu berobat ke salah satu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di dekat rumahnya.
Ia sebut dengan RSUD A.
Baca juga: Alhamdulillah, 2000 Penderes di Banyumas Kini Jadi Peserta BPJS Ketenagakerjaan. Dibantu Baznas
Kondisi Geta saat itu tidak bisa mengunyah dan susah berbicara.
Badanya panas, lemas, namun masih sanggup berjalan dan berboncengan saat diantar ke rumah sakit.
Sesampainya di RSUD A, Geta ditangani dan masuk IGD pukul 12.30 WIB.
Pihak keluarga menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan kelas III yang dibayarkan setiap bulannya.
Usai mssuk IGD pada pukul 16.00 Geta dipindah ke ruang perawatan Camar.
Namun ketika sudah dipindah di ruang Camar kesadarannya makin menurun, tangan dan kaki kiri sulit digerakkan.
Tangan kanannya bergerak seperti tak bisa dikontrol.
"Atas saran dokter, Sabtu (18/3/2023) Geta dibawa ke ICU," cuitnya dalam twitter.
Dokter mendiagnosa Geta terkena Encephalitis (Radang Otak).
Baca juga: Aturan Baru! Calon Jemaah Umrah dan Haji Khusus Kini Wajib Terdaftar sebagai Peserta BPJS Kesehatan
Hal itu sontak membuat pihak keluarga kaget dan tidak menyangka dengan sakit semacam itu.
Setelah 10 hari di ICU Geta dinyatakan membaik dan dipindahkan ke ruang perawatan Cendrawasih Atas.
Diminta Pulang
Di hari ke 5 di ruang Cendrawasih, perawat RSUD A mengatakan Geta bisa pulang ke rumah esok harinya.
Namun ketika dinyatakan boleh pulang, pihak keluarga justru ragu karena kondisi Geta terlihat masih belum pulih.
"Bagi keluargaku, waktu itu adalah kebimbangan dan ragu yang luar biasa.
Dengan kondisi selang oksigen masih menempel, infus, kateter, dan selang NGT untuk makan terpasang di tubuh yang tak bisa digerakkan, kecuali mata.
Nafasnya pun masih tersendat-sendat," terangnya dalam postingan twitter.
Karena ragu dengan kondisi yang dilihat keluarga belum benar-benar pulih, keluarga menanyakan ke dokter saraf yang menangani.
Baca juga: Pengobatan 21 Kondisi Ini Tak Ditanggung BPJS Kesehatan, Cek Daftarnya
"Kami menanyakan pada dokter mengenai isu kepulangan Geta, dokter saraf menjawab:
Kesehatannya mulai stabil, tinggal menunggu dokter paru," tambahnya dalam cuitan twitter.
Di hari ke 6 dokter paru didampingi perawat datang ke ruang Cendrawasih mengecek keadaan Geta yang akan pulang.
Dokter langsung mengajarkan treatment perawatan di rumah.
Padahal pihak keluarga masih ragu membawanya pulang dengan keadaan seperti itu.
Pada Jumat (3/3/2023) Geta dinyatakan tetap harus pulang.
Hanya selang NGT yang masih terpasang, kateter dilepas, infus dilepas.
Lagi-lagi hanya matanya yang bergerak.
Keluarga masih terkejut dengan pernyataan dokter dan staf RSUD A.
"Keluarga bingung, apa bisa keluarga bisa merawat Geta dengan keadaan tersebut.
Keluarga ingin Geta masih dirawat di RSUD supaya bisa dikontrol secara medis.
Tapi RSUD menolak dengan alasan dokter sudah menyatakan Geta membaik dan bisa dirawat di rumah," ungkapnya dalam postingan.
Keluarga mendesak pihak RSUD membuat rujukan ke salah satu rumah sakit besar RSUD M di Kota Purwokerto.
Sayangnya keluarga mendapat respon yang membingungkan karena RSUD A tempat Geta dirawat menolak membuat rujukan dengan alasan:
"Nanti ketika di RSUD M di Purwokerto juga belum tentu diterima karena belum tentu ada ruang di IGD dan ICU,"
Pernyataan itu disampaikan salah satu staf RSUD A yang bekerja.
Ditolak Rumah Sakit
Karena harus tetap pulang, keluarga Geta mencoba menghubungi ambulans dari komunitas sosial di desanya.
Yaitu untuk membawa Geta ke salah satu Rumah Sakit Umum swasta yaitu RS H di Purwokerto.
Kateter dan infus dilepas, ambulans pun datang.
Keluarga berinisiatif membawa Geta langsung ke RS H karena keluarga bingung dengan kondisi yang dialami Geta.
Apalagi Geta tidak tahu ilmu medis.
Di RS H, Geta justru bertemu dengan dokter yang sama seperti di RSUD A.
Yang lebih mengecewakan, RS H menolak dengan dalih ICU di tempatnya penuh.
RS H menyatakan bisa menerima bila pembiayaan tidak ditangguhkan pada BPJS dengan kata lain menggunakan umum.
Kesedihan tidak sampai di situ.
Karena tidak jadi dirawat di RS H, Geta dibawa pulang ke rumah.
Keluarganya hanya pekerja serabutan atau buruh harian lepas, harus membiayai perawatan Geta.
Keperluannya adalah seperti susu pengganti makanan, vitamin otak, oksigen, pampers, dan lain-lain yang tidak murah.
Pada Sabtu (4/3/2023) keluarga Geta menghubungi Dinas Sosial lewat hotline dan menemui beberapa penggiat sosial untuk meminta bantuan advokasi.
Pada Minggu (5/3/2023) keluarga juga berkonsultasi dengan Puskesmas setempat terkait apa yang dialami, yaitu dipulangkan Geta dari RSUD A dan ditolaknya di RS H.
Pihak RSUD A juga tidak mau memberikan tanggapan soal kemarin itu.
"Mereka malah mengatakan, 'Kalau mau dirawat lagi, ya, datang lagi aja ke IGD dan mulai seperti awal.
Kalau tidak, tunggu jadwal kontrol aja nanti tanggal 8.
Dicek dulu keadaannya seperti apa?' kata petugas yang ditemui di IGD," ungkap akun twitter tersebut.
Pada malam harinya, @meysetiawati mengaku mendapatkan bantuan komunitas sosial.
Relawan akan membantu Geta masuk ke RSUD di Purwokerto.
Pada Senin (6/3/2023) pukul 08.30 sebelum ambulans relawan datang, ambulans dari RSUD A datang.
Ambulan RSUD A datang dengan 2 dokter dan 1 petugas mengunjungi Geta.
Mereka mau melihat keadaan Geta.
Setelah diperiksa oleh 3 petugas RSUD A, ambulans relawan datang.
Keluarga bergegas berbenah dan menandu Geta ke dalam ambulans relawan.
Sesampainya di RSUD M di Purwokerto, keluarga sudah ditunggu teman relawan dan Geta langsung ditangani di IGD.
Geta dipindahkan dari ruangan HCU ke ruangan Inap Anyelir.
Geta dipindahkan ke rawat inap Anyelir lantai 4 dan kondisnya saat ini semakin membaik.
"Semoga kedepannya tidak ada lagi Geta-Geta lain yang bernasib sama.
Kalian tidak sendiri masih banyak orang baik diluar sana.
Doakan Geta supaya lekas pulih, ya," tulisnya.
Ia mengatakan kondisi Geta saat ini berangsur pulih dan dapat mengedipkan mata dan berinteraksi. (*)
Lagu Di Tepinya Sungai Serayu Masih Diputar di Stasiun Daop 5 Purwokerto, Kena Royalti? |
![]() |
---|
Warga di Bantaran Sungai Banyumas Diminta Waspada Bencana, Hujan Lebat Masih Berpotensi Terjadi |
![]() |
---|
Sembilan Tahun Pacaran Akhirnya Kandas, Warga Kembaran Banyumas Siap Gugat Mantan Pacar Rp1 Miliar |
![]() |
---|
Harga Beras dan Minyak Goreng Premium di Banyumas Masih Tinggi, Telur Ayam dan Tepung Relatif Stabil |
![]() |
---|
Motor Honda Jadi Primadona Tempat Rental di Purwokerto: Disukai Wisatawan, Stylish dan Irit |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.