Berita Tegal
Mengungkap Sejarah Tugu Shuttlecock di Kota Tegal, Wijanarto: Pernah Jadi Refensi Internasional
Menurut Wijanarto, hal menarik di masa jayanya industri shuttlecock di Tegal adalah terciptanya sirkular ekonomi bagi masyarat di sekitar pabrik.
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: deni setiawan
“Sejak ada kemunduran, rumah-rumah pembuat selongsong itu kemudian hilang."
"Padahal itu menarik."
"Bahwa ada hubungan antara pabrik dan masyarakat yang menjadi sirkulasi dan saling menunjang,” jelasnya kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (15/1/2022).

Baca juga: Berawal dari Hobi, Petugas Rekam Medis asal Linggasari Banyumas Hasilkan Rupiah dari Buat Cosplay
Baca juga: Bupati Husein Apresiasi Bakat Menggambar Anak-anak Banyumas: Jadi Ajang Mengekpresikan Suasana Hati
Wijanarto mengatakan, berkembangnya industri shuttlecock saat itu, juga sempat meningkatkan antusiasme masyarakat dalam menggeluti olahraga badminton.
Terutama bagi masyarakat yang merupakan peranakan Tionghoa.
Saat itu, juga sempat ada pendidikan atlit badminton di Banjaran, Kabupaten Tegal.
Sementara atlet badminton dari Tegal, seperti Hariamanto Kartono dan Simon Santoso.
“Olahraga badminton sejak dulu sudah banyak digemari oleh masyarakat Tegal."
"Terutama banyak diikuti oleh anak-anak peranakan Tionghoa,” katanya.
Perlu Pengkajian
Wijanarto menilai, baik Pemkot Tegal maupun Pemkab Tegal mestinya melakukan pengkajian atas transisi yang dialami industri shuttlecock.
Karena industri shuttlecock kian meredup.
Padahal, industri tersebut memiliki nilai strategis yang tinggi.
Misalnya dengan tumbuhnya sentra pengrajin shuttlecock di Desa Lawatan, Kabupaten Tegal.
Tetapi dalam beberapa tahun terakhir industri tersebut justru stagnan.