Berita Tegal
Dilema Pedagang Gorengan di Kota Tegal, Kurangi Bahan Baku Karena Tingginya Harga Minyak Goreng
Pedagang gorengan di Jalan Pantura Tegal, Satrio (32) mengatakan, mahalnya harga minyak goreng sangat berpengaruh terhadap penghasilannya.
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: deni setiawan
RIBUNBANYUMAS.COM, TEGAL - Tingginya harga minyak goreng di pasaran, menjadi kondisi dilema tersendiri bagi para pedagang gorengan.
Menaikkan harga diprotes, mengecilkan ukuran gorengan pun tidak mungkin.
Pantauan Tribunbanyumas.com, Sabtu (8/1/2022), harga minyak goreng hingga pekan pertama tahun ini masih tinggi.
Baca juga: Pengunjung Sektor Pariwisata Kota Tegal Dibatasi Maksimal 50 Persen, Efek Berstatus PPKM Level II
Baca juga: Muncul Tiga Kasus Baru Covid di Kabupaten Tegal, Ketiganya Sudah Divaksin Dua Kali
Baca juga: Warga Kota Tegal Diminta Waspada Omicron, Ini Gejala Hingga Cara Penanganannya
Baca juga: Yuliati Lega dan Makin Tenang, 154 Siswa SDN 10 Panggung Kota Tegal Sudah Disuntik Vaksin
Minyak goreng curah rata-rata Rp 19.500 per liter.
Sedangkan kemasan Rp 19.500 hingga Rp 20.000 per liter.
Pedagang gorengan di Jalan Pantura Tegal, Satrio (32) mengatakan, mahalnya harga minyak goreng sangat berpengaruh terhadap penghasilannya.
Dia mau tidak mau, akhirnya mengurangi belanja bahan baku untuk menutup kebutuhan minyak goreng.
Satrio mengatakan, ada pilihan menaikkan harga atau memperkecil ukuran.
Tetapi itu tidak mungkin, karena pelanggan pasti akan protes.
"Akhirnya saya pilih mengurangi produksi gorengan bakwan."
"Karena bakwan banyak menyerap minyak," kata Satrio kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (8/1/2022).
Satrio bersyukur, penjualan gorengan di warungnya masih normal.
Pembeli pun masih banyak tidak berkurang.
Untuk harga gorengannya Rp 1.000, baik itu gorengan tempe, tahu, bakwan, maupun pisang.
"Saya berharap tingginya harga minyak tidak berkepanjangan."