Breaking News:

Berita Banjarnegara Hari Ini

Mengintip Tradisi Ngelik yang Hampir Punah di Banjarnegara, Nyanyi Shalawatan Bernada Tinggi

Di Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara misalnya, sekarang hanya ada 5 orang anggota kelompok seni Ngelik yang usianya sudah senja.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
TRIBUN BANYUMAS/KHOIRUL MUZAKKI
Sejumlah warga di Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara memainkan seni Ngelik, shalawatan diiringi tabuhan terbang dan kendang, Sabtu (13/11/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Banyaknya budaya, tradisi, dan sejarah di Kabupaten Banjarnegara bisa saja suatu saat punah jika tidak dilestarikan.

Ini yang melatarbelakangi Program Organisasi Penggerak (POP) Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) untuk menggerakkan 20 sekolah sasaran mendokumenterkan itu dalam media audio visual. 

Baca juga: Rasa Frustasi Peternak Ayam Mulai Menghilang, Harga Telur Berangsur Normal di Banjarnegara

Baca juga: Perjuangan Kurir Antar Pesanan Permen Rp 135 ke Clapar Banjarnegara, Kisahnya Jadi Viral di Medsos

Baca juga: Tiga Pasangan Lagi Asyik Ngamar Diciduk Polisi, Razia Hotel Polres Banjarnegara, Begini Nasib Mereka

Baca juga: Ada Ikan Hias di Bak Penampungan Air Rumah Warga Bawang Banjarnegara, Pemberian RSI untuk Cegah DBD

Di antaranya tradisi seni yang hampir punah adalah Ngelik.

Tradisi yang nyaris punah ini punya kekhasan tersendiri. 

Ngelik adalah seni melantunkan shalawat diiringi rebana dengan nada yang sangat tinggi laiknya penyanyi rock. 

Instruktur POP YSMI, Aziz Arifianto mengatakan, pihknya berusaha mendokumentasikan kesenian itu agar tidak punah. 

Terlebih narasumber atau pelestari seni itu sudah banyak yang ditelan usia.

Di Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara misalnya, ia menyebut sekarang hanya ada 5 orang anggota kelompok seni Ngelik yang usianya sudah senja. 

Beruntung, meski sudah sepuh, semangat mereka untuk melestarikan Ngelik tak pernah hilang. 

Meski sudah tak pernah mementaskan kesenian itu, mereka masih sering memainkan kesenian itu di sela waktu luang mereka. 

"Kalau tidak didokumentasikan, bisa hilang tradisi ini," jelas Aziz kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (13/11/2021). 

Aziz mengatakan, kesenian ini memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. 

Anggota harus melantunkan nada-nada tinggi diiringi alat musik berupa terbang dan kendang yang menjadi karakteristik Ngelik. 

"Alunan nadanya memang unik dan sulit."

"Mungkin hal itu yang menyebabkan hampir tidak ada generasi muda yang tertarik untuk melestarikan Ngelik," katanya. (*)

Baca juga: Motor Tabrak bagian Belakang Truk Boks di Jalan Pantura Kendal, 1 Orang Tewas dan 1 Terluka

Baca juga: Bakal Jadi Pertama di Indonesia, Kendal Miliki Kawasan Integrated UMKM Center, Dibangun Tahun Depan

Baca juga: Sudah Sembilan Kejadian Longsor, Data BPBD Kota Semarang Sepanjang November 2021

Baca juga: Sambut Hari Ayah, Sineas Kota Semarang Produksi Film Tiga Babak Bapak. Cerita 3 Bapak Hadapi Masalah

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved