Breaking News:

Berita Boyolali

Pakai Alat Pembuat Palet Ini, Peternak di Boyolali Tak Kesulitan Cari Pakan saat Hujan Abu Merapi

Rumput yang tertutup abu vulkanik menjadi persoalan serius bagi peternak di Desa Sangup, Kecamatan Musuk, Boyolali, saat Merapi erupsi.

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/Dok Tim BEM FMIPA Unnes
Tim dari BEM FMIPA Unnes memeragakan pembuatan pelet menggunakan mesin pembuat pelet sebagai bagian dari aplikasi teknologi tepat guna di Desa Sangup, Kecamatan Musuk, Boyolali. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Rumput yang tertutup abu vulkanik menjadi persoalan serius bagi peternak di Desa Sangup, Kecamatan Musuk, Boyolali, Jawa Tengah, saat Gunung Merapi mengalami erupsi.

Namun, persoalan tersebut kini mendapat solusi lewat pakan alternatif buatan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang (BEM FMIPA Unnes).

Selain sebagai petani, beberapa warga Desa Sangup memang memelihara hewan ternak, di antaranya sapi, kambing, dan burung puyuh.

Saat Gunung Merapi erupsi dan memicu hujan abu, para peternak tersebut kesulitan mencari rumput untuk pakan ternaknya.

"Tujuan dari program ini adalah untuk mengatasi permasalahan yang ada di Desa Sangup. Kemudian, untuk memberikan manfaat dalam bidang sosial ekonomi," kata Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FMIPA Dr Parmin, dalam keterangan tertulis, Minggu (19/9/2021).

Baca juga: Hujan Abu Merapi Meluas ke Boyolali, Warga Tunda Panen Daun Tembakau

Baca juga: Diguyur Hujan Abu Akibat Erupsi Merapi, Warga Tamansari Boyolali Kesulitan Cari Rumput Pakan Ternak

Baca juga: Seleksi Mandiri Unnes, Berikut Program Studi Paling Banyak Diminati Tahun Ini

Baca juga: Mahasiswa Unnes Protes, Nurdin Halid Bakal Diberi Gelar Doctor Honoris Causa, Ini Jawaban Rektorat

Dalam program tersebut, tim Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) BEM FMIPA Unnes dinisiasi 15 mahasiswa dan 1 dosen pendamping, bersama Kelompok Tani Mudi Makmur Desa Sangup, membuat pakan ternak alternatif berupa pelet.

Bahan pokok yang digunakan dalam pembuatan pelet tersebut ialah 95 persen hijauan pakan ternak (HPT).

Pemilihan bahan dasar tersebut disesuaikan ketersediaan sumber daya alam yang ada di desa sehingga dapat meminimalkan biaya yang diperlukan.

"HPT berupa rerumputan yang telah dicacah, dicampurkan bahan tambahan berupa cairan, semisal vitamin, ragi, dan probiotik sebanyak 2 persen," jelasnya.

Selain itu, ditambahkan 5-6 persen tepung tapioka.

Halaman
12
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved