Berita Semarang
Nasib PSK di Jateng selama Pandemi Covid, OPSI: Belum Dapat Bantuan, Mudah Akses Vaksin
Organisasi Perubahan Sosial Indonesia wilayah Jawa Tengah mengungkapkan kemudahan para pekerja seks di Jateng dalam mengakses vaksinasi Covid-19.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) wilayah Jawa Tengah mengungkapkan kemudahan para pekerja seks di Jateng dalam mengakses vaksinasi Covid-19.
Bahkan, menurut mereka, tak ada diskriminasi dari pihak tenaga kesehatan saat para pekerja seks mengakses vaksin.
Kondisi ini pun dimanfaatkan sebagian besar pekerja seks untuk mendapat vaksin Covid-19.
"Hanya saja, kami tak pernah sekalipun mendapatkan bantuan dari pemerintah. Padahal, pekerjaan kami, satu di antara yang paling terdampak di masa pandemi," ucap Pejabat Smentara (Pjs) ketua OPSI Jateng Dyah Sri Utami, Senin (9/8/2021) malam.
Baca juga: PSK Buka Praktik di Rumah Warga di Bandungan Banjarnegara, Terbongkar saat Digerebek Satpol PP
Baca juga: Mangkal di Tepi Jalan di Siang Bolong, 9 PSK Dikukut Satpol PP Kota Semarang, Bersama 23 PGOT
Baca juga: Ikut Program Sertifikasi Massal PTSL, Warga Kudu Kota Semarang Dipungut Rp 900 Ribu-Rp 1,5 Juta
Baca juga: Lagi! Biaya Pemakaman Jenazah Pasien Covid di Kota Semarang Capai Rp 11,5 Juta: Kami Harus Utang
OPSI merupakan organisasi yang menaungi ratusan pekerja seks, baik wanita, laki-laki, maupun transpuan.
Ratusan pekerja seks tersebut berserikat untuk mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara.
"Maka, kami berinisiatif mengajukan proposal ke OPSI pusat di Jakarta. Dua kali proposal kami di-Acc sehingga bisa memberikan bantuan paket sembako kepada teman-teman pekerja seks yang membutuhkan," terang Uut, sapaannya.
Bantuan itu disalurkan bagi pekerja seks di enam kabupaten/kota di Jateng, meliputi Kota Semarang, Salatiga, Solo, Kota Magelang, Kota Tegal, dan Kabupaten Wonosobo.
Menurutnya, kriteria penerima bantuan di antaranya tidak memiliki akses penghasilan lain.
"Kasihan mereka sebab sektor hiburan yang jadi ladang penghasilan menjadi paling terdampak. Akan tetapi, bantuan ga bisa menyeluruh karena anggota banyak budget terbatas," paparnya.
Ia mengaku, banyak para pekerja seks banting setir beralih pekerjaan.
Bagi yang memiliki tabungan, mayoritas mereka membuka usaha jualan kuliner atau jadi reseller produk secara daring.
"Adapula yang menjadi buruh cuci piring demi menyambung hidup," terangnya.
Baca juga: 2 Pencuri Gasak Uang Rp 8 Juta di SPBU Kemiri Karanganyar, Pantau Suasana dari Depan Toilet
Baca juga: PPKM Diperpanjang, Kantor Imigrasi Pati Hentikan Sementara Layanan Tatap Muka
Baca juga: Geledah Kantor DPUPR Banjarnegara, KPK: Terkait Dugaan Korupsi dan Gratifikasi Proyek 2017-2018
Baca juga: Jelang Liga 1 Bergulir, PSIS Semarang Ditinggal Pelatih Utama Dragan Djukanovic
Di sisi lain, ia menyebut, banyak pekerja seks yang terpapar Covid-19.
Uut mengatakan, kelompok tersebut memang berisiko tinggi tertular Covid-19.
"Teman-teman pekerja seks kerjanya malam. Secara kondisi kesehatan, memang rentan. Tapi, sejauh ini belum ada yang pernah meninggal karena Covid-19," ujarnya. (*)