Banjir Cilacap
Banjir di Cilacap Dipicu Gangguan Cuaca, BMKG: Tetap Waspada, Potensi Terjadi Minimal Tiga Hari
BMKG mengatakan, hujan yang memicu banjir di dua kecamatan di Cilacap, Rabu (21/7/2021), disebabkan gangguan cuaca.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Hujan deras yang mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah di Kecamatan Jeruklegi dan Kawunganten, Cilacap, Rabu (21/7/2021), menurut pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), disebabkan gangguan cuaca.
Hal itu disampaikan Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Metereologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo.
Teguh mengatakan, sebenarnya, wilayah Kabupaten Cilacap, secara keseluruhan, telah memasuki musim kemarau.
"Akan tetapi, saat ini, terdapat gangguan cuaca bersifat regional yang berdampak terhadap peningkatan curah hujan," ujarnya melalui keterangan resmi, Rabu.
Baca juga: BNPB Keluarkan Peringatan Dini: Banyumas dan Cilacap Diminta Waspada Banjir
Baca juga: Banjir Rendam 320 Rumah di Cilacap, Akses Wangon-Cilacap dan Sidareja-Cilacap Putus
Baca juga: Hujan Reda dan Banjir Mulai Surut, Akses Wangon-Cilacap Mulai Bisa Dilewati Kendaraan Roda Dua
Baca juga: Dukung Percepatan Penanganan Covid, 13 Rumah Sakit di Cilacap Kompak Tambah 150 Tempat Tidur
Berdasarkan pengamatan, terjadi dinamika atmosfer pada tanggal 21 Juli 2021, yang berpengaruh terhadap curah hujan, khususnya di Jateng.
Ini terjadi, antara lain, karena perbedaaan nilai anomali suhu permukaan laut atau disebut Dipole Mode Indeks (DMI).
DMI positif umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat.
Sedangkan DMI negatif (-) berdampak pada meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.
DMI dianggap normal ketika nilainya negatif 0,4 hingga positif 0,4.
Saat ini, DMI terpantau negatif 0,46 sehingga suplai uap air dari wilayah Samudra Hindia ke wilayah Indonesia bagian barat, signifikan.
Dengan kata lain, aktivitas pembentukan awan di wilayah Indonesia bagian barat signifikan.
Selain DMI, keberadaan Madden Julian Oscillation (MJO) di Kuadran 5 (Indian Ocean/Samudra Hindia, netral), berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.
"Gangguan cuaca lain berupa gelombang atmosfer Rossby Ekuator di atas wilayah Jawa, Lampung, Kalimantan Utara, dan Sulawesi bagian utara," jelasnya.
Baca juga: Seorang Buruh di Purbalingga Nekat Curi HP dan Uang untuk Bayar Utang Biaya Pernikahan
Baca juga: PPKM Darurat Diperpanjang, Objek Wisata di Dieng Banjarnegara Tetap Tutup
Baca juga: Keliling Bawa Bronjong, Kapolsek Pasar Kliwon Solo Bagikan Sembako ke Warga Terdampak PPKM Darurat
Baca juga: PPKM Darurat Diperpanjang, Berikut Aturan Bepergian Mengendarai Mobil Pribadi dan Angkutan Umum
Sedangkan gelombang atmosfer tipe Low Frequency berada di atas wilayah Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
Teguh memaparkan, saat ini juga terdapat anomali suhu permukaan laut (sea surface temperature/SST) dengan nilai SST anomali berkisar 1-3 derajat Celcius.