Breaking News:

Berita Semarang

14 PKL Liar di Tanah Milik MAJT Ditertibkan, Pedagang Menyewa ke Oknum Rp 600 Ribu/Kapling

Satpol PP Kota Semarang membongkar 14 lapak PKL liar di Jalan Pelabuhan Ratu kawasan MAJT, Kamis (17/6/2021).

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/EKA YULIANTI FAJLIN
Satpol PP Kota Semarang membongkar 14 lapak pedagang kaki lima (PKL) liar di Jalan Pelabuhan Ratu, Sambirejo, Gayamsari, atau arah menuju Pasar Relokasi Johar, Kamis (17/6/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Satpol PP Kota Semarang membongkar 14 lapak pedagang kaki lima (PKL) liar di Jalan Pelabuhan Ratu, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari atau arah menuju Pasar Relokasi Johar, Kamis (17/6/2021). Pembongkaran dilakukan menggunakan alat berat.

Sebelumnya, Petugas Satpol PP Kota Semarang membantu para pedagang mengeluarkan barang-barang yang masih berada di dalam lapak.

Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto mengatakan, pembongkaran dilakukan lantaran para PKL tersebut menempati tanah milik Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Baca juga: Mantan Bos Pabrik Plastik Tewas di Kamar Mandi di Gabahan Kota Semarang, Sepekan Tak Terlihat Warga

Baca juga: Selamat Tinggal KMC Kartini 1, Kapal Semarang-Karimunjawa, Dipensiunkan Setelah 17 Tahun Berlayar

Baca juga: Cerita Relawan Pemakaman Jenazah Covid-19 di Semarang: Pastinya Lelah Tapi Bangga Bisa Mengabdi

Baca juga: 500 Warga Binaan Lapas Kedungpane Semarang Dikarantina, Imbas 2 Petugas Lapas Positif Covid

Pihaknya menerima laporan dari pihak MAJT dan lurah setempat bahwa ada 14 PKL yang berdiri di lahan mereka.

"Kami ratakan 14 lapak PKL. Saya minta tidak ditempati lagi. Daerah sini mau dibuat saluran. Jadi, jangan bermain di sini," tegas Fajar.

Fajar menduga, ada oknum yang sengaja memanfaatkan lahan di sepanjang Jalan Pelabuhan Ratu untuk disewakan kepada pedagang. Sehingga, mereka berani mendirikan lapak liar.

Informasi yang dia dapat, harga sewa yang ditawarkan sebesar Rp 600 ribu per kapling.

Namun demikian, soal sewa lahan ilegal di MAJT, bukan menjadi ranah Satpol PP. Pihaknya hanya membongkar dan menertibkan PKL liar tersebut.

"Ada warga yang ngontrakkan tanah di sini sehingga berdiri PKL. Silakan, ini menjadi kewenangan aparat penegak hukum," ucapnya.

Selain di Jalan Pelabuhan Ratu, sebelumnya, Fajar telah menertibkan PKL di Jalan Soekarno Hatta yang juga masih dalam satu kawasan.

Baca juga: 22 Warganya Positif Covid, Desa Manduraga Purbalingga Sempat Di-lockdown. Kini, Dibuka Kecuali Pasar

Baca juga: 99 Pegawai Lapas Purwokerto Jalani Tes Urin, Imbas Seorang Pegawai Ditangkap lantaran Miliki Sabu

Baca juga: Baru Dibuka Lagi, RSDC Kendal Langsung Rawat 20 Warga Positif Covid-19

Baca juga: 2 Pencuri Spesialis Pecah Kaca Mobil di Demak Diringkus, Sasar Kendaraan Berkaca Transparan

Hanya saja, PKL di Jalan Soekarno Hatta tersebut menempati lahan milik perorangan.

"Yang depan (Jalan Soekarno-Hatta) lahan punya Pak Setiawan, (ditempati) hampir 40a-n PKL. Saat ini sudah diratakan," tambahnya.

Seorang PKL, Muhammad, mengaku, baru berjualan di tempat tersebut selama enam bulan.

Dia menyadari mendirikan lapak di tanah milik MAJT. Dia juga sudah mendapat dua kali peringatan dari pihak MAJT dan Satpol PP. Namun demikian, ia tetap berjualan mengingat harus mencari nafkah.

"Ini memang bukan hak saya, ya saya tidak kecewa (saat dibongkar). Nanti, jualan paling tetap di sini tapi tidak boleh mendirikan bangunan. Jadi, pakai gerobokan saja," paparnya. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved