Berita Banjarnegara Hari Ini

Inilah Masjid Pemersatu Dua Desa di Banjarnegara, Namanya Masjid At Taqwa, Begini Asal Muasalnya

Di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, sebuah masjid kuno masih berdiri kokoh. Namanya adalah Masjid At Taqwa. Begini ceritanya.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
TRIBUN BANYUMAS/KHOIRUL MUZAKKI
Fisik bangunan utama Masjid At Taqwa, Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara yang berusia ratusan tahun, Kamis (6/5/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Kabupaten Banjarnegara bukan hanya terkenal dengan peninggalan peradaban Hindu (pra Islam) di kawasan dataran tinggi Dieng.

Di pegunungan sisi selatan daerah itu, jejak syiar Islam zaman dahulu masih kentara.

Di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, sebuah masjid kuno masih berdiri kokoh.

Baca juga: Amankan Idulfitri, Polres Banjarnegara Siapkan 8 Pos Pengamanan

Baca juga: Masih Tradisional di Pemandian Air Panas Pingit Banjarnegara, Dialirkan Gunakan Bambu

Baca juga: Bu Dokter Ini Rajin Kunjungi Ponpes di Banjarnegara, Periksa Kesehatan Gigi Santri, Begini Ceritanya

Baca juga: Ngabuburit Asyik di Taman Patung Jerami Gili Lori Banjarnegara, Wisata Dadakan Hingga Libur Lebaran

Dari luar, bangunan itu terlihat biasa, seperti umumnya bangunan masjid di tempat lain.

Tetapi suasana berubah ketika memasuki ruang utama masjid itu.

Bangunan di ruang utama masjid, mulai saka atau tiang, blandar hingga usuk masih berupa kayu.

Uniknya, bangunan berbahan kayu Jati itu diperkirkaan sudah berusia ratusan tahun.

Masjid itu diyakini dibangun pada 1559.

Pembangunan masjid diinisiasi oleh toko penyebar Islam atau ulama bernama Nur Daiman.

Kala itu, saat nama Desa Gumelem masih bernama Karangtiris, masyarakatnya masih kuat memegang kepercayaan lama atau Hindu.

Menurut Kades Gumelem Kulon, Arief Mahbub, Nur Daiman adalah utusan Kerajaan Mataram yang datang ke Karangtiris untuk mengemban misi mensyiarkan Islam.

Dakwah di tengah komunitas yang masih memegang adat tentunya bukan perkara gampang. 

Ia, sebagaimana Walisongo, berdakwah tanpa menabrak budaya atau kearifan lokal yang masih dipegang kuat warga.

Makanya, sebelum berdiri masjid, kata Arief, di tempat itu terlebih dahulu didirikan Balekambang atau tempat pertemuan warga.

Halaman
123
Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved