Erupsi Kawah Sileri
Lahan Pertanian Rusak di Sekitar Kawah Sileri Dieng, Tertutup Lumpur Hitam Pekat
Menurut warga, letusan kali ini paling parah dari dua letusan sebelumnya yang dia ingat, antara lain pada 2017 yang melukai belasan wisatawan.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
Erupsi kali ini lebih disebabkan over pressure (tekanan berlebih) dan aktivitas permukaan.
"Potensi erupsi freatik jelas masih bisa terjadi tanpa harus didahului peningkatan aktivitas visual maupun kegempaan," kata Aziz kepada Tribunbanyumas.com, Jumat (30/4/2021).
Sehingga ada potensi ancaman bahaya berupa semburan batu dan lumpur di sekitar kawah.
Meski begitu, tingkat aktivitas gunung api Dieng saat ini masih di level normal.
Aktivitas Kawah Sileri pasca erupsi tidak mengalami gejala perubahan sifat atau peningkatan potensi ancaman bahaya.
"Sebaran material saat erupsi terjadi masih di radius kawasan rawan bencana yang direkomendasikan," terangnya.
Untuk saat ini, masyarakat diimbau tidak memasuki kawasan Kawah Sileri dengan radius 500 meter dari bibir kawah.
Ini untuk menghindari ancaman gas vulkanik konsentrasi tinggi yang dapat membahayakan jiwa. (Khoirul Muzakki)
Baca juga: Pelaku Masukkan Ikan Mas Koki Hasil Curian ke Bagasi Motor, Beraksi di Tasikmadu Karanganyar
Baca juga: Eks Kades Ayamputih Kebumen Ini Kembali Berurusan dengan Hukum, Mantan Istri Dipukul Gunakan Gelas
Baca juga: Awas! Penipuan Menggunakan Nama Wakil Bupati Cilacap Terjadi Lagi, Minta Korban Transfer Uang
Baca juga: Hasil Tracking Covid-19 Jemaah Salat Tarawih di Banyumas, Sedang Sakit Namun Berangkat ke Masjid