Berita Banjarnegara

SD Terpencil di Banjarnegara Tak Lagi Terkendala Internet, Pembelajaran Gunakan Satelit LAPAN

Dalam uji coba SSTV ini, mereka bekerja sama dengan LAPAN RI dan AMSAT-ID melalui Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI).

Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
ISTIMEWA
Uji coba berkirim media pembelajaran melalui SSTV Satelit IO-86 LAPAN A2 ORARI di SD Negeri 4 Kalisat Kidul, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Sabtu (3/4/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Di daerah perkotaan, penerapan pembelajaran dalam jaringan (daring) mungkin tidak jadi soal.

Tetapi bagi masyarakat di pedesaan terpencil, pelaksanaan pembelajaran dengan cara itu jadi ujian tersendiri bagi siswa maupun tenaga pendidik. 

Seperti halnya di SD Negeri 4 Kalisat Kidul, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara.

Di desa terpencil itu, jaringan telepon maupun internet sangat susah.

Baca juga: 23 Desa Terima Dana Hibah Upland, Bupati Banjarnegara: Gunakan Secara Cermat, Jangan Dikorupsi

Baca juga: Tiang Jembatan Ambrol di Penusupan Banjarnegara, Hanya Motor dan Pejalan Kaki yang Boleh Melintas

Baca juga: Evakuasi Butuh Waktu 10 Jam, Mobil Boks Es Krim yang Terseret Longsor di Plumbungan Banjarnegara

Baca juga: DAK Pertanian di Banjarnegara, Tahun Ini Diterimakan Kepada 14 Kelompok Tani, Berikut Rinciannya

Ini jelas menghambat para siswa dan guru yang dituntut menggunakan jaringan internet untuk mendukung pembelajaran. 

Beruntung, mahasiswa peserta program Kampus Mengajar di SD Negeri 4 Kalisat Kidul, datang menawarkan solusi atas persoalan itu. 

Sabtu (3/4/2021), mereka melakukan uji coba berkirim media pembelajaran melalui SSTV Satelit IO-86 LAPAN A2 ORARI.

Para mahasiswa itu tengah menjalankan program Kemendikbud untuk membantu pembelajaran di SD Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T).

Di Kabupaten Banjarnegara, sekira 100 mahasiswa yang diterjunkan di 16 SD dengan klasifikasi 3T.

Havid Adhitama, mahasiswa PGSD Unnes yang bertugas di SD Negeri 4 Kalisat Kidul mengatakan, uji coba SSTV ini bukan tanpa alasan.

SD Negeri 4 Kalisat Kidul, menurut dia, benar-benar terisolasi dari sinyal komunikasi digital.

“Di sini sinyal untuk akses internet tidak ada, jangankan internet, untuk SMS saja tidak bisa," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (6/4/2021).

Siswa dan guru bahkan sulit berkomunikasi maupun mengakses media dari daerah lain.

Padahal, untuk mengambil LK atau bahan pembelajaran menuju ke daerah lain, akses jalan cukup sulit. 

Havid dan rekan satu timnya, Faris, Ismi, serta Dwi akhirnya berinisiatif melakukan uji coba berkirim media melalui mode SSTV.

Diharapkan, ke depan guru yang mengajar di sekolah itu tidak lagi kesulitan mendapatkan selembar LK ataupun bahan ajar. 

Dalam uji coba SSTV ini, mereka bekerja sama dengan LAPAN RI dan AMSAT-ID melalui Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI).

Sebelumnya, pihaknya terlebih dahulu berkoordinasi dengan LAPAN agar diberikan slot khusus SSTV Satelit IO86. 

"Kami menerima media tersebut di lokasi kami mengajar."

"Sedangkan pengirimnya berada di Jakarta yaitu Stasiun YD0NXX."

"Ini murni tanpa internet, kami menerimanya pada downlink satelit IO-86 di 435.880mhz.” imbuhnya kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (6/4/2021).

Ke depan, untuk berkirim media seperti ini, kata dia, tidak harus melalui satelit LAPAN ataupun radio amatir berizin.

Pemerintah, menurut dia, bisa bekerja sama dengan RRI untuk mentransmisikan SSTV melalui radio siaran biasa.

Ini lebih terjangkau oleh masyarakat dengan perangkat yang sederhana.

“Secara teknis, sederhananya pengirim mengubah gambar menjadi suara."

"Suara tersebut dikirim ke satelit IO-86 melalui radio di frekuensi Uplink."

"Kemudian kami menerima suara tersebut dari frekuensi downlink yang kami ubah menjadi gambar kembali melalui aplikasi decoder SSTV," katanya.

Sebenarnya, menurut dia, fitur satelit ini sudah biasa digunakan untuk komunikasi darurat dalam peristiwa kebencanaan di Indonesia. 

Tetapi pihaknya diberi izin oleh LAPAN untuk mencobanya di bidang pendidikan

“Terkait jarak, sebenarnya tidak hanya menjangkau Jakarta-Banjarnegara, bisa lebih jauh lagi hingga ke Thailand, Filipina, India."

"Bahkan Australia sebab footprint dari satelit IO-86 cukup lebar," terangnya. 

Dalam uji coba tersebut, mereka tidak hanya berkirim media pembelajaran, juga berkirim beberapa ucapan dan foto Mendikbud, Nadiem Makarim.

Kepala SD Negeri 4 Kalisat Kidul, Surur Anwar mengapresiasi terobosan para mahasiswa tersebut yang membantu pihaknya sehingga lebih mudah melaksakan proses pendidikan

"Kami tidak terpikir kalau di sekolah kami bisa diterapkan alat secanggih ini untuk mendukung pembelajaran," ujar Surur. (Khoirul Muzakki)

Baca juga: Pemkab Kebumen Izinkan Salat Tarawih Berjemaah, Pengawasan Protokol Kesehatan Masjid Diperketat

Baca juga: Karyawan UT Purwokerto Dirampok, Pelaku Diduga Tiga Orang, Kabarnya Beraksi Juga di Kebumen

Baca juga: Silaturahim dengan Bupati Husein, Danlanal Cilacap Bahas Pengoperasian Dermaga Serayu Banyumas

Baca juga: Istri Kaget Lihat Gaji Pertama Saya, Biasanya Sehari Rp 5 Juta, Cerita Pengusaha Jadi Bupati Cilacap

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved