Berita Semarang
Okupansi Tinggal 40 Persen, Pemkot Semarang Pertimbangkan Tutup Rumah Isolasi Asrama Haji
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, tingkat hunian di rumdin maupun asrama haji, rata-rata tinggal 30-40 persen.
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Kasus Covid-19 di Kota Semarang terus menurun. Ini berdampak pada tingkat keterisian rumah isolasi yang dikelola Pemerintah Kota Semarang yakni Rumah Dinas (rumdin) Wali Kota Semarang dan ruang transit Asrama Haji Manyaran.
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, tingkat hunian di rumdin maupun asrama haji, rata-rata tinggal 30-40 persen.
Jumlah itu, menurun dibanding awal tahun 2021, dimana ada 250 kasus baru per hari. Akibatnya, kondisi di tempat isolasi, saat itu, hampir penuh.
Terkait penurunan kasus ini, Hendi, sapaannya, mengatakan, ada banyak faktor yang mempengaruhi. Satu diantaranya, kesadaran masyarakat semakin jauh lebih baik.
"Kesadaran masyarakat ini menjadi hal yang paling penting," ujar Hendi, sapaannya, Minggu (7/3/2021).
Baca juga: Disnakertrans Kabupaten Semarang: 10 Ribu Pekerja yang Dirumahkan Sudah Mulai Bekerja
Baca juga: Tak Usah Galau, Dinkes Kota Semarang Mengatakan, Vaksin Sinovac Juga Ampuh Tangkal Virus Corona B117
Baca juga: Catatan Sejarah Banjir Bandang di Kota Semarang: Terparah Tahun 1990, Ketinggian Air Hampir 10 Meter
Baca juga: Hakim PN Semarang Dilaporkan ke Bawas MA. Putusan Terkait Permohonan Pailit Jadi Pemicu
Menurut Hendi, kesadaran masyarakat yang semakin baik juga tidak lepas dari peran Satgas Covid-19, baik dari unsur TNI, Polri, maupun Pemerintah Kota Semarang. Mereka terus melakukan edukasi kepada masyarakat terkait pemahaman protokol kesehatan.
Di samping itu, program vaksinasi yang kini masih terus berjalan juga berpengaruh pada penurunan kasus di Kota Semarang.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Moh Abdul Hakam mengatakan, tingkat hunian di isolasi terpusat yang dikelola Pemkot Semarang masih sekitar 60 orang.
Rinciannya, rata-rata keterisian rumdin di angka 40 pasien dan rata-rata keterisian transit asrama haji sekitar 20 pasien.
Disebutkan Hakam, perjanjian kerjasama antara Pemerintah Kota Semarang dan Kementrian Agama mengenai pemanfaatan ruang transit Asrama Haji Manyaran sebagai tempat isolasi hanya sampai Maret ini.
Baca juga: 2 Korban Selamat Pohon Randu Maut di Pemalang Sudah Boleh Pulang, 2 Masih di Rumah Sakit
Baca juga: Menyandang Status Istri Bupati, Artis Chacha Frederica Tak Akan Tinggalkan Dunia Hiburan
Baca juga: Lewat Surat, Pencuri Motor di Jakarta Minta Maaf dan Kembalikan Motor ke Pemilik
Jika akhir Maret tingkat hunian di asrama haji rendah, tidak menutup kemungkinan, pemkot akan menutup asrama haji sebagai tempat isolasi.
"Kemarin, waktu perjanjian dengan Kemenag, hanya sampai Maret. Kalau sudah rendah (huniannya), kami akan laporkan ke Pak Wali. Nanti, pasien bisa digeser ke rumdin," jelasnya.
Penurunan keterisian tempat isolasi juga tidak hanya diisolasi terpusat milik Pemkot Semarang.
Hakam menyebutkan, jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit juga sudah menurun.
Tingkat hunian rumah sakit tipe C, misalnya Pantiwilasa, saat ini, hanya berada di angka 20-24 pasien.
Sedangkan di RS William Both, jumlah pasien biasanya mencapai delapan orang, saat ini sekitar empat orang.
Bahkan, RSUD Wongsonegoro, saat ini, menutup tempat isolasi di gedung diklat Pemerintah Kota Semarang.
"Yang masih banyak di RS Kariadi, kisaran 60-70 persen. Begitu juga di RSUD Wongsonegoro, tapi saat ini RSUD juga sudah menutup isolasi di gedung diklat," ujarnya.
Baca juga: Bukan Moeldoko, Pemerintah Masih Akui AHY sebagai Ketum Partai Demokrat. Begini Penjelasan Mahfud MD
Baca juga: 5 Berita Populer: Kisah Gadis Pelukis Banjarnegara-5 Pejabat PDAM Kota Tegal Diperiksa Kejaksaan
Baca juga: Abaikan Papan Peringatan, 2 Remaja Tewas Tenggelam di Kubangan Bekas Galian di Paketiban Tegal
Senada dengan Hendi, Hakam memaparkan, penurunan kasus Covid-19 di Kota Semarang juga dirasakan dari adanya program vaksinasi yang telah berjalan sejak Januari lalu.
Persentase kasus Covid-19 di kalangan nakes turun mencapai 40 persen.
"Itu dari nakes. Itu belum sempurna karena nakes masih ada yang divaksin," imbuhnya.
Setelah vaksinasi tahap dua suntikan kedua dilaksanakan, Hakam akan menganalisa penurunan kasus, terutama di wilayah yang menjadi penyumbang kasus terbesar di Semarang, antara lain Tembalang, Banyumanik, Semarang Barat, dan Pedurungan.
"Nanti kami lihat jumlahnya, sudah berapa yang kami vaksin (di wilayah itu), penurunan kasusnya berapa," katanya.
Sementara itu, berdasarkan data di laman siagacorona.semarangkota.go.id, hingga Minggu pukul 13.00, Covid-19 aktif di Semarang masih 381 kasus.
Rinciannya, 285 merupakan warga Semarang dan 96 merupakan warga lua kota. (*)