Penanganan Corona
Kisah 83 Warga Karanggambas Purbalingga Sembuh Covid-19, Kini Mereka Percaya dan Disiplin Prokes
Persepsi warga berubah setelah virus itu benar-benar menyerang keluarga, tetangga, kerabat, bahkan mereka sendiri.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA - Siang itu, Jumat (25/12/2020), beberapa warga tengah menyiapkan kegiatan salat Jumat di Masjid Istiqomah Desa Karanggambas, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga.
Mereka menggelar tikar di pelataran sehingga tempat salat di masjid menjadi lebih lapang.
Di beberapa titik bangunan masjid, banyak terpasang imbauan tentang protokol kesehatan.
Baca juga: Kapolres Purbalingga Kembali Ingatkan Warga Soal Perayaan Malam Tahun Baru, Ini Pesannya
Baca juga: Horor, Pelanggar Prokes Dimasukkan ke Keranda Jenazah, Operasi Yustisi Gabungan di Purbalingga
Baca juga: Minimalisir Penumpukan Sampel Swab, Dinkes Purbalingga Wacanakan Penggunaan Rapid Test Antigen
Semisal wajib mengenakan masker, serta jaga jarak.
Satu persatu warga berdatangan ke masjid untuk menunaikan salat.
Masker kain menutupi sebagian wajah mereka yang hendak beribadah.
Kesadaran warga Desa Karanggambas akan pentingnya menjaga kesehatan kini meningkat.
Ini diakui Sekretaris Desa Karanggambas yang juga pernah menjadi pasien Covid-19, Widianto.
Dahulu, sebelum kasus Covid-19 meledak di desa itu, sebagian warga kurang percaya akan adanya Covid-19.
Karenanya, banyak warga abai terhadap protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.
Tetapi persepsi warga berubah setelah virus itu benar-benar menyerang keluarga, tetangga, kerabat, bahkan mereka sendiri.
"Hikmahnya sekarang warga percaya kalau ada Covid-19," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (26/12/2020).
Kasus Covid-19 di Desa Karanggambas sempat menyita perhatian publik.
Bagaimana tidak, dalam kurun waktu yang berdekatan, 83 warga dinyatakan positif Covid-19, pada November 2020.
Kemunculan klaster baru ini berawal dari terdeteksinya seorang pasien positif yang memiliki riwayat perjalanan dari luar kota.
Pria itu sempat mengeluh sakit dan dibawa ke Puskesmas, lalu dirujuk ke rumah sakit.
Hingga ia dinyatakan positif Covid-19 dari hasil tes swab.
Hasil tracing, ibu pasien yang tinggal juga positif terinfeksi Covid-19.
Ibu tersebut rupanya sempat mengikuti pengajian rutin Jumat bersama yang lain sedesanya.
Baca juga: Dampak Longsor di Desa Bantar Banjarnegara Masih Terasa, Begini Cerita Perjuangan Warga Saat Ini
Baca juga: Sistem Prokes Sudah Siap, SMAN 1 Batur Banjarnegara Ingin Segerakan Pembelajaran Tatap Muka
Baca juga: Vaksin Sinovac Sudah Masuk Indonesia, Berikut Rekomendasi Resmi ALMI Banjarnegara
Siapa sangka, 35 anggota pengajian yang sempat satu majelis dengan pasien juga dinyatakan positif seusai dilakukan tes usap.
Tracing tidak berhenti di situ.
Seorang mantri atau perawat yang sempat memeriksa pasien pertama pun turut dites usap.
Ibu dan pembantunya yang tinggal serumah ikut terpapar positif Covid-19.
Mantri tersebut ternyata sempat mengikuti pertemuan warga di kampungnya.
Sebanyak 20 warga yang hadir dalam pertemuan itu kemudian dites usap.
10 orang di antaranya dinyatakan positif Covid-19.
Selain mereka yang mengikuti tes usap massal, ada pula warga yang menjalani tes usap secara mandiri di Puskesmas Padamara.
"Awal 52 warga positif, kemudian tambahan terakhir 31 warga."
"Total 83 warga positif Covid-19," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (26/12/2020).
Banyaknya warga yang terpapar Covid-19 menuntut perhatian lebih.
Sehingga virus itu tidak menyebar ke warga lain.
Beruntung rata-rata pasien hanya bergejala ringan.
Sehingga mereka diperbolehkan menjalani isolasi mandiri di rumah.
Peran Satgas Covid-19 Desa Karanggambas dikuatkan untuk membantu menangani dan menekan penyebaran di desa.
Selama masa karantina, Pemerintah Desa Karanggambas menanggung biaya makan Rp 50 hari per Kepala Keluarga (KK) setiap harinya.
Ini untuk meringankan beban mereka yang perekonomiannya terganggu karena harus isolasi.
Satgas Covid-19 menyuplai kebutuhan pasien tiap harinya agar mereka tenang menjalani proses penyembuhan.
Musibah ini membuat warga saling berempati dan bahu membahu untuk melawan virus itu.
Bukan hanya masyarakat di desa yang peduli.
Warga yang bekerja di perantauan, khususnya Jakarta pun turut menunjukkan kepeduliannya.
Mereka rela iuran untuk membantu memenuhi kebutuhan para pasien yang tengah berjuang melawan penyakitnya, termasuk untuk membeli vitamin.
"Warga yang bekerja di Jakarta iuran, lalu dibelikan untuk kebutuhan warga yang isolasi, termasuk vitamin," katanya.

Baca juga: Merokok Tingwe Sudah Jadi Gaya Hidup Anak Muda Purwokerto, Berikut Pengakuan Mereka
Baca juga: Banyumas Menuju Puncak Pandemi dan Lanjut Hingga 2021, Berikut Penjelasan Ahli Epidemiologi Unsoed
Tiap RT juga rela merogoh kas kampung untuk penanggulangan Covid-19, termasuk untuk penyemprotan disinfektan di lingkungan masing-masing.
Musibah ini bukan untuk diratapi, namun diatasi dengan langkah konkret.
Kasus Covid-19 yang meluas di desa itu nyatanya tidak membuat warga, khususnya pasien frustasi.
Terlebih, pemerintah maupun tenaga medis selalu memotivasi para pasien agar semangatnya bangkit.
Hingga mereka berhasil melewati masa sulitnya.
Satu persatu pasien mandiri akhirnya sembuh setelah beberapa waktu menjalani isolasi.
Hasil tes swab ulang sebagian besar pasien telah menunjukkan hasil negatif alias sembuh.
Warga kembali bisa menghirup udara segar di luar.
Mereka kembali beraktivitas normal.
Covid-19 mungkin telah hengkang dari tubuh mereka.
Tetapi ada yang masih menancap pada kesadaran warga.
Perilaku hidup bersih dan sehat telah membudaya.
Meski situasi desa tak lagi mencekam, warga tetap mengenakan masker saat keluar.
"Saya sendiri olahraga masih melakukan, termasuk kebiasaan minum vitamin," katanya.
Kepala Dinkes Kabupaten Purbalingga, Hanung Wikantono mengatakan, seluruh pasien Covid-19 di Desa Karanggambas yang sempat menjalani karantina mandiri telah dinyatakan sembuh.
Ia menjelaskan, kriteria sembuh dari Covid-19 tidak melulu berdasarkan tes PCR kedua dan seterusnya yang menunjukkan hasil negatif.
Mereka dinyatakan sembuh ketika telah berhasil melewati masa isolasi dan tidak menunjukkan gejala klinis.
"Asal yang bersangkutan sudah isolasi mandiri 14 hari sejak positif dan tanpa gejala, sudah bisa dikatakan sembuh."
"Ini menurut WHO dan ada Permenkesnya," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (26/12/2020).
Hanung pun mengimbau warga agar tetap mematuhi protokol Kesehatan.
Utamanya 3 M (mencuci tangan, menjaga jarak, dan mengenakan masker) untuk mengurangi risiko penularan Covid-19.
Perilaku hidup bersih dan sehat bukan hanya untuk mencegah penularan Covid-19, namun juga penyakit menular lain yang sudah dikenal sebelumnya.
Dengan demikian, diharapkan derajat kesehatan masyarakat bisa meningkat seiring perubahan perilaku ke arah positif.
"Tetap disiplin protokol kesehatan," katanya. (Khoirul Muzakki)
Disclaimer Tribun Banyumas
Bersama kita lawan virus corona.
Tribunbanyumas.com mengajak seluruh pembaca untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan.
Ingat pesan ibu, 3M (Memakai masker, rajin Mencuci tangan, dan selalu Menjaga jarak).
Baca juga: Buaya Muara Ditemukan Mati di Perairan Segara Anakan Cilacap, Bobotnya Capai 100 Kilogram
Baca juga: Bupati Cilacap dan Istri Sudah Negatif Covid-19, Tatto Pamuji Beri Tips Mempercepat Kesembuhannya
Baca juga: Luwesnya Sinterklas Menari Sufi di Gereja St Theresia Majenang, Begini Suasana Misa Natal di Cilacap