Berita Jawa Tengah
Kisah Ponem dan Turah di Batang, Dua Nenek Pemetik Teh Ini Huni Gubuk Reyot, Makan Dibantu Warga
Beratap seng dan dinding papan kayu serta bambu, berlantai tanah, gubuk itu jauh dari kata layak, di situlah Ponem dan Turah tinggal di Batang.
Penulis: budi susanto | Editor: deni setiawan
TRIBUNBANYUMAS.COM, BATANG - Gubuk kecil berukuran tak lebih dari 5X6 meter menjadi saksi kerasnya kehidupan yang dijalani Ponem dan Turah, dua wanita lanjut yang berusia lebih dari 60 tahun.
Gubuk kecil tersebut terletak di belakang permukiman penduduk yang berdekatan dengan ladang.
Beratap seng dan dinding papan kayu serta bambu, berlantai tanah, gubuk itu jauh dari kata layak untuk ditinggali.
Menengok ke dalam, tidak ada tempat tidur.
Baca juga: Digelontor Dana Rp 7,8 Miliar, Akses Menuju Pantai Jodo Batang Kini Mulus
Baca juga: Jalur Pantura Batang Rusak, Pengendara: Seperti Daun Tanaman Janda Bolong, Lubang Dimana-mana
Baca juga: Dana Alih Fungsi Pangkalan Truk Bantuan Kemensos Tidak Bisa Dicairkan, Pemkab Batang Janjikan Ini
Baca juga: Kisah Bocah Penderita Pterigium di Batang, Windy Terpaksa Kubur Impian Jadi Ahli Agama Karena Biaya
Alhasil dua wanita lanjut usia itu hanya mengandalkan kursi kayu untuk merebahkan diri.
Untuk makan ke duanya hanya mengandalkan uluran tangan warga sekitar.
Pasalnya uang hasil bekerja sebagai pemetik teh tak cukup untuk menanggung beban keseharian.
Hanya Turah yang masih bekerja.
Sementara Ponem hanya bisa berbaring karena menderita penyakit stroke.
Gaji Turah pun hanya Rp 12 ribu setiap kali berangkat untuk memetik teh.
Pekerjaan tersebut juga tak bisa dilakoni setiap hari karena usianya tak lagi muda.
Meski demikian, Ponem dan Turah masih melanjutkan kehidupan meski terhimpit kondisi yang benar-benar memprihatinkan.
"Ya begini ini hidup kami, jauh dari keluarga."
"Kami masih beruntung warga desa merawat kami."
"Padahal kami bukan warga asli desa ini," kata Ponem kepada Tribunbanyumas.com, Rabu (9/12/2020).