Berita Pendidikan
Karena Kondisi Ini, Mayoritas SMP Tunda Simulasi KBM Tatap Muka Lanjutan di Temanggung
Dari total 78 SMP, hanya 2 SMP di Kecamatan Parakan yang belum melangsungkan simulasi PTM karena terdampak zona merah Covid-19.
Penulis: Saiful Masum | Editor: deni setiawan
"Tujuannya agar tidak menjadi klaster penyebaran Covid-19," jelasnya.
Dari beberapa sekolah yang sudah melaksanakan simulasi PTM lanjutan meliputi SMP Negeri 3 Temanggung, SMP Negeri Kandangan.
SMP Negeri Kedu 1, SMP Al Kautsar, SMP PGRI, dan beberapa sekolah lainnya.
Kata Yuli, untuk bisa melaksanakan simulasi PTM lanjutan, pihak sekolah harus mengantongi izin dari orangtua, komite sekolah, juga Satgas Covid-19.
Apabila syaratu tersebut tidak dapat dipenuhi, misal terkendala izin orangtua atau Satgas Covid-19, pihak sekolah tidak bisa melangsungkan simulasi PTM secara mandiri.
"Memang persyaratan harus ada dukungan komite sekolah, Satgas Covid-19, hingga orangtua siswa."
"Baru kemudian bisa melaksanakan simulasi PTM mandiri."
"Dinas pun akan terus memantau terlaksananya simulasi PTM mandiri yang berjalan agar tetap mematuhi protokol kesehatan," jelasnya.
Kabid SMP Dindikpora Kabupaten Temanggung, Suharti menambahkan, meski terdapat 2 SMP yang belum sama sekali melaksanakan simulasi PTM, hal itu tidak mengurangi persiapan menghadapi pembelajaran tatap muka.
Dia juga mengimbau kepada SMP yang akan melangsungkan simulasi PTM lanjutan agar tetap bersabar sembari menunggu perkembangan Covid-19 menjadi lebih aman.
"Dalam simulasi ini, PTM pun harus didampingi Satgas lengkap untuk memastikan penerapan protokol kesehatan."
"Apalagi situasi sampai saat ini masih rawan."
"Bersabar terlebih dahulu, menunggu situasinya aman," terangnya. (Saiful Ma'sum)
Baca juga: Masih Ada 12 Ribu Pemilih Belum Rekam Data E-KTP, Ini Kata Dispermadesdukcapil Jateng
Baca juga: Pemprov Jateng Tak Cepat Merespon, Bupati Banjarnegara Tambal Jalan Gunakan Uang Pribadi
Baca juga: Kirim Logistik Pilkada Via Demak, KPU Kabupaten Semarang: Bahaya Bila Melintasi Sungai Jragung
Baca juga: Kisah Bocah Penderita Pterigium di Batang, Windy Terpaksa Kubur Impian Jadi Ahli Agama Karena Biaya