Selasa, 5 Mei 2026

Berita Kesehatan

Kabar Baik, Calon Vaksin Covid-19 Buatan Oxford Tak Menimbulkan Efek Samping bagi Lansia

Data dari 560 partisipan, termasuk kelompok lansia, juga tidak menunjukkan adanya efek samping buruk yang tidak terduga.

Tayang:
Editor: rika irawati
dok.ist/via tribun padang
Ilustrasi vaksin virus corona (Covid-19). 

TRIBUNBANYUMAS.COM - Kabar baik datang dari tim peneliti Oxford. Mereka baru saja memublikasikan hasil awal uji coba fase 2/3 vaksin ChAdOx1 nCov-2019 yang menjanjikan, di The Lancet.

Dalam laporan tersebut, vaksin buatan Oxford yang akan diproduksi oleh Astrazeneca ini ditemukan dapat menimbulkan respons imunitas pada lebih dari 99 persen partisipan setelah pemberian dosis kedua.

Ini termasuk partisipan lansia berusia 60-an dan 70-an, yang juga merupakan kelompok paling rentan Covid-19.

Respons T-sel, yang bisa menunjukkan kekuatan respons sistem imun, ditemukan memuncak dua pekan setelah dosis pertama vaksin diberikan pada seluruh kelompok usia.

Data dari 560 partisipan, termasuk kelompok lansia, juga tidak menunjukkan adanya efek samping buruk yang tidak terduga.

Hal ini bisa menjadi pertanda bahwa bahwa vaksin ini bisa ditoleransi oleh semua kelompok usia.

Baca juga: Kandidat Vaksin Covid-19 dari 2 Perusahaan Menunjukkan Hasil Baik, Ini Kata Epidemiolog

Baca juga: Disamping Vaksin, Pemerintah Ingatkan Pentingnya Protokol Kesehatan dan Olahraga Guna Cegah Covid-19

Baca juga: BPOM: Izin Edar Vaksin Covid-19 Bisa Dikeluarkan Bila Sudah Terbukti Aman

Baca juga: Vaksin Covid-19 Didistribusikan Mulai Desember di Jateng, Cilacap Dapat Jatah Paling Banyak

Meski demikian, uji coba vaksin Oxford dan Astrazeneca belum berakhir. Tim peneliti masih mencari tahu apakah vaksin ini efektif mencegah Covid-19 atau tidak, dalam uji coba fase tiga.

Disampaikan Andrew Pollard, profesor imunitas dan kesehatan anak di University of Oxford yang juga direktur dari Grup Vaksin Oxford, hasil dari uji fase tiga akan bisa diketahui dalam hitungan pekan.

"Kami menjadi semakin dekat dan itu (hasil uji klinis fase tiga) pasti (akan keluar) sebelum Natal," ujarnya dalam wawancara dengan program Today BBC Radio 4.

Tentang Vaksin Oxford

Vaksin buatan Oxford yang dinamai ChAdOx1 nCov-2019 dibuat menggunakan virus pilek (adenovirus) simpanse yang telah dilemahkan dan dimodifikasi agar tidak dapat bertumbuh di dalam manusia.

Tim peneliti Oxford memulai pencarian vaksin pada bulan Januari dan berhasil mengembangkannya menjadi ChAdOx1 nCov-2019 dalam waktu tiga bulan.

Uji coba vaksin ini pada manusia pun mulai dilakukan pada bulan April di oxford.

Dalam uji coba, para partisipan ditempatkan dalam kelompok-kelompok untuk diberi satu atau dua dosis vaksin, atau plasebo.

Baca juga: Sempat Muncul Tawaran Ganti Rugi Rumah, Begini Akhir Kasus Kecelakaan Ayla Vs Honda CBR 1000 RR SP

Baca juga: Ingin Ganja Dilegalkan, 3 Ibu Ajukan Gugatan ke MK. Ini Alasannya

Baca juga: Seorang Pejabat di Bappeda Klaten Meninggal Berstatus Positif Covid-19

Baca juga: Bapak Anak Terseret Banjir Bandang di Boja Kendal, Hanyut saat Naik Motor Melintasi Desa Duwet

Reaksi sistem imunitas mereka lantas diperiksa pada hari pemberian vaksin, atau satu, dua, dan empat pekan setelah pemberian dosis pertama dan kedua.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved