Breaking News:

Berita Banyumas

Ini Kata Pengamat Lingkungan Unsoed Soal Sumpiuh dan Kemranjen Banyumas Langganan Banjir

Banjir di Kabupaten Banyumas, terutama di Kecamatan Kemranjen dan Sumpiuh, diperkirakan masih akan terjadi jika daerah resapan air tak diperluas.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/Istimewa
Pengamat Lingkungan sekaligus Dosen Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dr Hernayanti. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Banjir di Kabupaten Banyumas, terutama di Kecamatan Kemranjen dan Sumpiuh, diperkirakan masih akan terjadi jika daerah resapan air tak diperluas.

Hal ini diungkapkan Pengamat Lingkungan sekaligus Dosen Fakultas Biologi, Dr Hernayanti.

Hernayanti mengatakan, selama ini, banjir di dua kecamatan tersebut dipicu minimnya daerah resapan air.

Ini ditandai dengan genangan air yang bertahan berhari-hari meski kadang, hujan sudah reda.

Hernayanti mengatakan, saat ini, banyak lokasi yang kaya pepohonan di Kemranjen dan Sumpiuh, yang kini berubah menjadi pemukiman warga.

"Dulu, masih banyak daerah resapan air dan banyak pepohonan. Sekarang dibuat menjadi perumahan sehingga daerah resapan air sudah tidak ada karena beralih fungsi," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (19/11/2020).

Baca juga: Laporan BPBD Banyumas: Enam Kecamatan Terdampak Longsor, Dua Warga Tewas Tertimbun

Baca juga: Khawatir Longsor Susulan, Pemkab Ungsikan Semua Warga Sekitar Rumah Basuki di Banjarpanepen Banyumas

Baca juga: Detik-detik Longsor Banyumas, Adik Basuki: Gelap, yang Terdengar Hanya Petir dan Derasnya Sungai

Baca juga: Video Satu Keluarga Tertimbun Longsor di Banjarpanepen Banyumas

Selain faktor minimnya daerah resapan air, ada juga faktor lain yang mempengaruhi penyebab banjir, yakni faktor cuaca yang tidak menentu.

Menurut Hernayanti, cuaca tak menentu saat ini dipicu pemanasan global sehingga cuaca semakin ekstrem.

Kendati demikian, ada sejumlah langkah yang bisa diterapkan guna mencegah terjadinya banjir. Di antaranya, menyiapkan tempat resapan baru lewat reboisasi.

Reboisasi atau penanaman pohon kembali bisa dilakukan menggunakan jenis pohon semisal mahoni, jati, trembesi, juga pohon tabebuya.

Sementara, terkait longsor, Hernayanti menambahkan, faktor utama longsor di sejumlah titik di Banyumas saat ini adalah tekstur tanah.

Banyaknya korban akibat tanah longsor disebabkan warga membangun rumah dekat tebing atau perbukitan yang sebenarnya memiliki potensi tanah longsor.

Menurutnya, bencana tanah longsor tidak bisa diantisipasi. Hanya saja, lebih baik jika penduduk tidak membangun rumah di perbukitan karena masuk wilayah rawan longsor.

"Bencana alam itu susah diprediksi karena itu tanah bergerak, sekelas pohon pun tidak dapat mencegah tanah longsor itu," ujarnya. (Tribunbanyumas/jti)

Baca juga: Disapu Angin Ribut, 2 Kelas di SD 01 Ngaliyan Rusak

Baca juga: Waspada Banjir dan Longsor, Hujan Diperkirakan Guyur Banjarnegara dan Purbalingga Siang Hingga Malam

Baca juga: Semut Peneror Warga di Pageraji Banyumas Diduga Jenis Bau, Begini Saran Memberantas dari Ahli Unsoed

Baca juga: Kasus Covid-19 di Banyumas Bertambah Lebih dari 10 Per Hari, Bupati: Nyaris Tidak Terkendali

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved