Berita Jawa Tengah
Kisah Pelajar Berjuang Lawan Anemia Akut, Warga Singorojo Kendal Ini Bolak-Balik ke Rumah Sakit
Ahmad tercatat beberapa kali keluar masuk IGD rumah sakit karena terbaring lemas disertai panas tinggi hingga keluar darah dalam hidungnya.
Penulis: Saiful Masum | Editor: deni setiawan
TRIBUNBANYUMAS.COM, KENDAL - Ahmad Nur Hakimi, pelajar 13 tahun asal Dusun Slento Rt 05 Rw 03 Desa Kaliputih, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal kini harus istirahat total di rumahnya.
Laki-laki yang sebelumnya sedang menimba ilmu di sebuah sekolah swasta di Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal itu terpaksa menjalani rutinitas di gubuknya lantaran mengidap penyakit anemia akut.
Orangtuanya sementara waktu harus menghentikan semua aktivitas sang anak, baik pembelajaran, mengaji, hingga bermain selama menjalani perawatan.
• Empat Perwira Polres Kendal Pindah Tugas, Ini Pesan Kapolres AKBP Ali Wardana
• Sepuluh Pegawai Kejaksaan Kendal Dipastikan Negatif Covid-19, Termasuk Panitia SKB CPNS
• Pilkada Kabupaten Kendal, Kapolres: Paslon Pelanggar Protokol Kesehatan Bisa Dipidanakan
• Unit Reskrim Polsek Boja Diganjar Penghargaan, Kapolres Kendal: Ungkap Kasus Terbanyak
Ahmad pun tercatat sudah beberapa kali keluar masuk IGD rumah sakit karena terbaring lemas disertai panas tinggi hingga keluar darah dalam hidungnya saat melawan penyakit itu.
Semua yang dialami Ahmad pada awalnya tidak diketahui oleh orangtuanya.
Dia lahir dari seorang ibu bernama Sofiyatun (31) dalam keadaan normal.
Sedangkan ayahnya sudah meninggal saat dirinya masih di dalam kandungan.
Saat ditemui di kediamannya, Senin (28/9/2020), Sofiyatun menceritakan, tumbuhkembang Ahmad di bawah asuhan dirinya dan ayah angkatnya Mukhlasin (42).
Saat usia 6 tahun, Sofiyatun banyak dilapori para tetangganya yang melihat wajah Ahmad sering pucat.
Dia pikir kondisi tersebut wajar lantaran sang anak tidak mengeluh sakit dan tidak timbul gejala-gejala lainnya.
"Memang saat itu banyak yang bilang, anakmu wajahe (wajahnya) pucat, sakit?" katanya menirukan perkataan warga pada 6 tahun lalu.
Meski awalnya tidak diambil pusing, Sofiyatun mulai mencemaskan anaknya hingga memperhatikan kondisinya setiap hari.
Sempat dikira terkena sawan, Ahmad pun sempat dibawa ke dukun desa untuk berobat, namun tidak ada hasilnya.
Hingga memasuki usia ke-12 tahun, ia merasa kondisi Ahmad mulai menurun drastis.
Katanya, setiap kali kelelahan, kehujanan, kepanasan, dan banyak kegiatan lain, wajah Ahmad pucat disertai tubuh lemas serta panas tinggi.