Features

Fauzan, Bocah Lumpuh Asal Banjarnegara Temukan Dunianya Lewat Melukis Wayang

Di tengah keterbatasan fisiknya, Ahmad Fauzan (8), warga RT 01 RW 07 Dusun Krajan, Desa Brengkok, Kecamatan Susukan, Banjarnegara, berprestasi.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/KHOIRUL MUZAKI
Fauzan bersama guru seninya, Faras, menunjukkan hasil karya lukisan wayang di rumahnya di Desa Brengkok, Banjarnegara, Kamis (20/8/2020). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Di tengah keterbatasan fisiknya, Ahmad Fauzan (8), warga RT 01 RW 07 Dusun Krajan, Desa Brengkok, Kecamatan Susukan, Banjarnegara, punya prestasi gemilang.

Bocah yang mengalami lumpuh di bagian kaki itu dikenal jago menggambar. Bahkan, dia mampu melukis tokoh pewayangan yang rumit untuk digambar, bahkan oleh orang dewasa sekalipun.

Di sela aktivitas belajar, siswa kelas 2 SD itu terus mengasah kemampuannya menggambar.

Bakat anak ini pun belakangan terendus tim relawan kemanusiaan The Plegia Banjarnegara yang prihatin atas kondisi kesehatan anak tersebut.

Fauzan bukan hanya mendapat bantuan untuk kesembuhan fisik tetapi juga mencarikan guru seni lukis untuk memaksimalkan bakat melukis Fauzan.

Berkat Pompa Hidrolik Buatan Sudiyanto, Kini Warga Glempang Banyumas Tak Kesulitan Dapat Air Bersih

Pendakian Gunung Prau Via Patakbanteng Dibuka, 100-an Pendaki Muncak Per Hari

Lewat Semarang, Truk Pengangkut Pesawat N250 Gatot Kaca Sempat Nyangkut di Gerbang Tol Banyumanik

Faras Mubarok, guru seni budaya SMA Negeri 1 Klampok Banjarnegara terketuk menjadi relawan untuk membimbing Fauzan. Ia justru merasa beruntung menemukan murid yang menyimpan bakat luar biasa.

Menurutnya, anak bertalenta, sekaligus punya kemauan keras seperti Fauzan, susah dicari di dunia ini.

"Dia punya bakat. Anak seusia itu sudah pandai melukis wayang yang rumit," kata Faras, Kamis (20/8/2020).

Awal-awal mengajar Fauzan di rumah, Faras sudah dibuat takjub. Saat ia masih mencari referensi di internet tentang detail gambar wayang, Fauzan ternyata sudah hafal karakter tokoh yang akan digambar.

Faras pun lebih mudah mengajari anak itu. Faras telah mengajari banyak hal kepada Fauzan, antara lain mengenai teknik memegang kuas maupun pengolahan warna atau gradasi.

Di tangan sang guru, keterampilan anak itu kian matang. Baru empat kali pertemuan, Fauzan sudah mengalami kemajuan signifikan.

Detik-detik Pelawak Qomar Dieksekusi ke Lapas Brebes karena Kasus Pemalsuan SKL

ICW Ungkap Besaran Anggaran dari Pemerintah untuk Influencer, Angkanya Capai Rp 90,45 Miliar

Pesawat N250 Gatot Kaca Buatan BJ Habibie Bakal Tambah Koleksi Museum Pusdirla Yogyakarta

Fauzan, kini sudah mampu mengolah warna hingga lukisannya terlihat lebih ekspresif.

"Awalnya, dia hanya menggambar tokoh sesuai patokan aslinya, kini saya dorong dia bebas berkreasi mengubah bentuk. Saya ajarkan juga gradasi," imbuh Faras.

Faras optimistis, Fauzan bisa menjadi maestro lukis jika konsisten belajar dan terus berusaha mengasah kemampuan.

Terlebih, usianya masih sangat belia. Masa depannya masih panjang. Keterbatasan fisik tak akan menghambat anak itu mengembangkan bakat.

Hanya, menurut Faras, Fauzan tidak perlu dipaksa menggunakan media lukis yang justru memberatkannya.

Ia mengamati, tangan anak itu gemetar atau seperti kurang kuat ketika mengangkat botol cat.

Ia pun akan memberikan pilihan media lukis lain yang lebih ringan untuk dipegang sesuai kondisi fisiknya, semisal crayon.

"Nanti juga akan diarahkan melukis objek lain di luar wayang," katanya. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved