Breaking News:

Berita Semarang

Kisah Mbah Tun Nenek Renta dan Buta Huruf Gugatannya Dikabulkan Hakim, Sawahnya Tak Jadi Dieksekusi

Air mata Sumiatun, warga Desa Balerejo, RT 5 RW 2, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak, langsung meleleh setelah mendengar kabar gugatannya.

Editor: Rival Almanaf
Istimewa
Sumiatun atau Mbah Tun didampingi tim advokasi Koalisi Peduli Mbah Tun, saat sidang di PTUN Sarang, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Air mata Sumiatun, warga Desa Balerejo, RT 5 RW 2, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak, langsung meleleh setelah mendengar kabar gugatannya di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang dikabulkan majelis hakim, Kamis (6/8/2020).

Kabar baik tersebut diterima nenek renta dan buta huruf yang akrab disapa Mbah Tun itu dari Koalisi Peduli Mbah Tun yaang terdiri dari BKBH Fakultas Hukum Unisbank, Unit Bantuan Hukum DPC PERADI RBA dan LBH Demak Raya.

Wajar saja jika Mbah Tun menangis bahagia. Pasalnya, majelis hakim PTUN Semarang menyatakan tanah sawah seluas 8.250 meter persegi adalah miliknya.

Dengan demikian Pengadilan Negeri (PN) Demak tak berhak melakukan ekskusi atas tanah sawah tersebut.

Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbud: Pembelajaran Tatap Muka Adalah Pilihan Orangtua

Ahli Bahasa Sebut Unggahan Jerinx ada Muatan Pencemaran Nama Baik

Siap-siap! Perwal yang Mengatur Sanksi Tak Kenakan Masker Sedang Digodok Pemkot Semarang

Besok Terakhir Pendaftaran Petugas Sensus Penduduk, BPS Kendal Cari 852 Tenaga Lapangan

"Mbah Tun langsung menangis haru begitu kami kabari jika majelis hakim PTUN mengabulkan gugatan," kata Ketua BKBH FH Unisbank sekaligus Koordinator Koalisi Peduli Mbah Tun, Sukarman.

Sukarman menuturkan, gugatan Mbah Tun teregister dalam perkara No.23/G/2020/PTUN. Dalam putusannya, majelis hakim mengabulkan semua gugatan. Hakim menyatakan tidak sah peralihan SHM No 11 terancam oleh pemenang lelang bernama Dedy Setyawan Haryanto.

"Hakim memerintahkan kepada tergugat dalam hal ini BPN Demak untuk mengembalikan kedudukan SHM No 11 dari Dedy Setyawan kepada Sumiatun atau Mbah Tun," jelasnya.

Selain itu, hakim PTUN Semarang juga mewajibkan kepada tergugat dalam hal ini BPN Demak untuk mencoret peralihan SHM atas nama Dedy Setyawan.

Dengan demikian, katanya, status kepemilikan lahan sawah tersebut kembali kepada Mbah Tun. Oleh karenanya, Sukarman memberikan apresiasi kepada hakim PTUN Semarang karena jeli dan cermat dalam memutus perkara tersebut.

"Putusan tersebut menegaskan bahwa pengadilan masih layak dijadikan tempat mencari keadilan bagi setiap orang di antaranya Mbah Tun," tuturnya.

Ketua DPC PERADI RBA, Broto Hastono menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan membuat surat kepada Ketua Pengadilan Negeri (PN) Demak dengan melampirkan salinan putusan PTUN yang sudah memenangkan Mbah Tun.

Dengan adanya dua putusan sekaligus, yaitu putusan No. 23/G/2020/PTUN oleh pengadilan PTUN Semarang dan Putusan Mahkamah Agung No. 139 K/Pdt/2015.

"Kedua putusan ini sudah tegas bahwa Mbah Tun adalah pemegang sah secara hukum atas tanah sawah seluas 8.250 meter persegi. Dengan putusan itu, tidak selayaknya PN Demak tetap melakukan eksekusi atas permintaan pemenang lelang," katanya.

Pihaknya mengatakan, Tim Koalisi Peduli Mbah Tun tidak akan lengah sedikitpun. Tim koalisi akan terus mengawal kasus Mbah Tun jika BPN Demak menyatakan banding atau sampai kasasi nantinya. (Nal)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved