Berita Regional

Kisa Pilu Siswa di Simalungun, Panjat Pohon demi Sinyal Internet: Andaikata Bisa Dibeli, Pasti Beli

Kisa Pilu Siswa di Simalungun, Panjat Pohon demi Sinyal Internet agar Dapat Ikuti Sekolah atau Belajar Daring: Andaikata Bisa Dibeli, Pasti Beli

Facebook.com/Reni Rosari Sinaga
Sejumlah siswa terpaksa memanjat pohon agar bisa dapat signal untuk proses belajar secara daring. 

Bahkan jangankan untuk mengakses internet, di Pegunungan Simbolon atau tepatnya Nagori Siporkas, Kecamatan Raya, untuk sekadar komunikasi via seluler juga terhambat.

"Makanya kita mau, Dinas Pendidikan bisa mengambil inisiatif, seperti siap membuka kelas agar murid bisa ambil soal atau materi pelajaran ke sekolah," ujar Bernhard.

Bila ada sedikit interaksi antara murid dan siswa, ia yakin tak ada murid murid yang ketinggalan materi pelajaran, meski harus mematuhi protokol kesehatan di Simalungun yang saat ini masih belum keluar dari zona merah.

"Kita sempat rapat soal ini dan mungkin akan rapat lagi dengan Dinas Pendidikan," terangnya.

Adapun Dinas Pendidikan Kabupaten Simalungun hingga kini belum dapat dikonfirmasi awak Tribun Medan.

Perlu diketahui, ada 500 lebih usia angkatan pelajar di Nagori Siporkas yang terhambat kegiatan belajar mengajar secara daring.

Hal ini pun diakui oleh Pengulu Nagori (Setingkat Kepala Desa) Siporkas, Hendra Putra Saragih.

Salah satu kepala desa termuda di Kabupaten Simalungun ini menyampaikan, desanya memiliki 7 dusun, dengan jumlah kepala keluarga mencapai 584 atau penduduk sekitar 2000 lebih. Ia pesimis pendidikan secara daring dapat dimaksimalkan para pelajar di wilayahnya, mengingat lokasi mereka di ketinggian.

"Saat ini aja kita duduk di ketinggian 947 meter. Ada beberapa puncak gunung di sini yang menghalangi (sinyal internet)," ujar salah satu kepala desa termuda di Kabupaten Simalungun ini.

"Kita sempat surati perusahaan telekomunikasi pemerintah untuk dibangunkan tower jaringan di sini. Tapi gak ada tindak lanjut mereka untuk mau meng'iya' kan," ujar Hendra.

Di Balai Desa atau Balai Nagori tempatnya bekerja sebenarnya memiliki antena internet. Namun bandwidth-nya terbatas bila dibuka untuk pelajar dan masyarakat memanfaatkannya.

"Kita punya tower kecil. Cuma kalau dibuat ramai ramai malah gak bisa dimanfaatkan di kita sendiri untuk kirim file atau dokumen. Dan, kalau kita bukan untuk masyarakat lainnya, justru nanti ada yang iri iri," terang Hendra.

Dari 7 dusun di wilayahnya, 3 dusun terparah untuk sinyal internet adalah Dusun Bah Pasungsang, Dusun Butu Ganjang dan Dusun Borno. Parahnya, jangankan untuk internet, untuk menelpon dari ketiga dusun ini pun tidak mungkin terakses.

Khusus untuk kegiatan belajar mengajar anak-anak pegunungan ke depan seperti apa, ia mengaku belum menerima evaluasi ataupun komunikasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Simalungun.

"Belum ada, mungkin nanti kita lihat dulu," tutupnya.

(tribun-medan.com/Alija Magribi/Atum)

Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Demi Ikut Belajar Daring, Siswa di Daerah Ini Terpaksa Memanjat Pohon, Berjalan 2 KM dari Permukiman

Ganjar Sebut Dua Penyakit Bawaan Ini Sebabkan Tingginya Angka Kematian karena Covid-19 di Jateng

Otto Hasibuan Jadi Kuasa Hukum Joker: Banyak Ketidakadilan yang Terjadi pada Djoko Tjandra

Kabar Gembira, Alhamdulillah Seluruh Santri Pondok Gontor yang Positif Covid-19 Sembuh

Begini Syarat Penerapan New Normal Menurut WHO dan Bappenas, Daerah Mana Sudah Siap?

Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved