Berita Tegal
Kasus Kematian Akibat Demam Berdarah Meningkat di Kabupaten Tegal
Selain dihadapkan pada pandemi penyakit menular virus corona, masyarakat juga masih dihadapkan pada masalah kesehatan lain
Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: Rival Almanaf
TRIBUNBANYUMAS.COM, SLAWI – Selain dihadapkan pada pandemi penyakit menular virus corona, masyarakat juga masih dihadapkan pada masalah kesehatan lain, yaitu demam berdarah dengue (DBD).
Jika tidak mendapat pertolongan secara cepat dan tepat, ancaman penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypty ini dapat berujung kematian.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal, mencatat kasus kematian akibat DBD pada semester satu tahun 2020 meningkat, dibandingkan semester yang sama tahun lalu.
Informasi ini disampaikan Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Tegal, Ari Dwi Cahyani, Senin (20/7/2020) kemarin.
• Anji Meminta Maaf dan Menghapus Postingan Berisi Opini Tentang Karya Foto Jurnalistik Covid-19
• Hujan Disertai Petir, Berikut Prakiraan Cuaca BMKG di Kabupaten Pekalongan, Selasa 21 Juli 2020
• Seorang Ibu Berhubungan Intim Dengan Putra Kandungnya saat Suami Pergi Melaut
• Ibu Melahirkan Tanpa Berhubungan Intim di Tasikmalaya, Begini Penjelasan dari Sudut Pandang Medis
Ari menuturkan, jumlah kasus kematian akibat DBD selama enam bulan terakhir, sejak Januari hingga Juni tahun 2020 ada empat orang.
Sedangkan di tahun 2019, pada periode yang sama, hanya ditemukan dua kasus kematian.
“Peningkatan jumlah kasus DBD memang tidak ada, bahkan cenderung menurun, tapi ada peningkatan pada jumlah kasus kematiannya hingga dua kali lipat,” tutur Ari, dalam rilis yang diterima Tribunjateng.com, Senin (20/7/2020).
Meskipun tidak ada peningkatan dari sisi jumlah kasusnya, Ari menyebutkan bahwa kondisi tersebut tidak bisa serta merta disimpulkan sebagai penurunan, karena masih ada waktu enam bulan ke depan yang harus diwaspadai.
“Jumlah kasus DBD di bulan Januari hingga Juni tahun 2020 ada 277 orang, sedangkan tahun 2019 lalu pada periode yang sama mencapai 330 orang,” ujar Ari.
Angka DBD tertinggi, menurut Ari, ada di Kecamatan Kramat dengan jumlah kasus mencapai 30 orang. Ada lonjakan kasus DBD di Kecamatan Kramat ini yang tahun 2019 lalu hanya ditemukan 19 orang.
"Kasus DBD di Kabupaten Tegal didominasi oleh anak-anak, termasuk kematian akibat DBD sampai dengan akhir Juni tahun ini semuanya adalah anak-anak. Yaitu tiga orang berusia lima tahun, dan satu orang berusia delapan tahun," ungkapnya.
Ari menambahkan, memasuki musim pancaroba atau masa pergantian musim seperti saat ini, dari penghujan ke kemarau, kasus DBD cenderung meningkat.
Untuk itu, Ia pun meminta masyarakat agar mewaspadai ancaman penyakit DBD ini dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN 3M plus.
Pertama, menguras atau membersihkan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air di lemari es dan lain-lain, minimal satu minggu sekali.
• Berikut Daftar 18 Lembaga yang Dibubarkan Presiden Joko Widodo
• Prediksi Pengamat Tentang Peluang Gibran di Pilkada Solo 2020
• Viral Postingan Twitter RS Paksakan Diagnosa Pasien Covid-19 Agar Dapat Insentif, RS Angkat Bicara
• Bawa Juventus Tundukan Lazio, Cristiano Ronaldo Puncaki Daftar Top Skor Serie A Liga Italia
Kedua, menutup rapat tempat penampungan air, termasuk toren air.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/nyamuk-aedes-aegypti-penyebab-demam-berdarah-satu-di-antara-penyakit-langganan-musim-hujan.jpg)