Berita Semarang

Semakin Banyak Tenaga Kesehatan Jadi Korban Covid-19, IDI Kota Semarang Minta Fasilitas Tes Berkala

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang berharap adanya jaminan perlindungan bagi tenaga kesehatan, khususnya yang menangani Covid-19.

TRIBUN BANYUMAS/EKA YULIANTI FAJLIN
ILUSTRASI Rapid test massal yang dilakukan Pemkot Semarang di Paragon Mall Semarang beberapa waktu lalu. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang berharap adanya jaminan perlindungan bagi tenaga kesehatan, khususnya yang menangani Covid-19.

Mereka meminta ada pemeriksaan Covid-19 secara berkala untuk para tenaga kesehatan.

Seperti diketahui, baru-baru ini dua dokter di Kota Semarang, meninggal karena terpapar virus covid-19.

Keduanya masih memiliki hubungan saudara sebagai kakak-adik yakni dr Sang Aji Aneswara dan dr Ellianna Widiastuti.

Wajib Belajar Jarak Jauh di Banyumas, Bunda PAUD Diminta Bantu Siswa Tak Miliki Akses Internet

Salatiga Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh Hingga Desember 2020, Sesuai Edaran Gubernur Jateng

BERITA DUKA, Dokter Puskesmas Karanganyar Meninggal, Jadi Relawan Covid-19 di Kota Semarang

Revitalisasi Terminal Bulupitu Purwokerto Dimulai, Ada Eskalator dan Hall Transit Layaknya Bandara

Menyoal dua dokter yang meninggal karena covid-19 tersebut, Ketua IDI Kota Semarang dr Elang Sumambar berharap ada jaminan pemeriksaan berkala bagi para tenaga kesehatan (nakes).

Hal itu diperlukan guna mengetahui kondisi kesehatan para nakes.

Dengana begitu akan tercipta rasa aman bagi sesama tenaga medis dalam bertugas menjalankan pelayanan ke masyarakat.

"Pada intinya kami mengimbau ke pemerintah ada perlindungan dengan cara dilakukan pemeriksaan berkala," ungkapnya kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (9/7/2020).

"Supaya kami sebagai nakes juga ayem."

"Toh kalau ketahuan ada yang positif covid-19 dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG) harus isolasi mandiri."

"Jangan sampai itu menularkan ke yang lain. Itu yang kita harap ada perhatiannya di sana," jelasnya.

Elang mengatakan, tak mempermasalahkan apakah nantinya pemeriksaan berkala ini dilakukan secara menyeluruh atau hanya dengan model sampling.

"Mau rapid test mau swab test monggo, kalau mau swab sekalian monggo tidak apa-apa."

"Tapi kita tidak memaksa untuk swab, karena kita melihat kondisi juga. Dan itu tidak murah kan?"

"Pada intinya di situ ada sesuatu perlindungan lewat pemeriksaan berkala," tegas mantan dokter tim PSIS Semarang ini.

Terkait penyebab penularan terhadap dokter di Kota Semarang, Elang mengatakan saat ini pihaknya juga masih melakukan penelusuran.

"Itulah yang juga kita kaji dari mana. Ada yang namanya audit medisnya seperti apa. Tracingnya seperti apa. Ini yang harus kita lihat dari mana," katanya.

Lelaki yang hobi bermain sepakbola ini turut menambahkan, tak menutup kemungkinan penularan terjadi dari sesama tenaga medis lainnya.

Maka dari itu, Elang menegaskan agar semua pihak sadar akan penerapan protokol kesehatan.

"Takutnya, mungkin sesama nakesnya (tertular), saya tidak menyalahkan."

"Mungkin ini kenapa protokol kesehatan harus dipatuhi untuk semuanya. Di saat kita keluar dari rumah, kadang-kadang dengan aktivitas masing-masing," ungkapnya.

Ia menyebut, saat ini virus covid-19 masih mengancam siapapun.

Bahkan jika melihat kasus yang ada saat ini, penyebarannya justru semakin masif.

Sekolah Negeri Maupun Swasta Terapkan Pembelajaran Daring, Ini Pertimbangan Bupati Banyumas

Saat Siswa Berprestasi Justru Tidak Lolos Sistem PPDB Saat Ini dan Pilih Putus Sekolah

Kisah Mbah Tarso Hidup di Gubuk Karung di Purwokerto dan Tidak Tersentuh Bantuan Pemerintah

Jelang Real Madrid vs Alavez, Luka Jovic Justru Harus Jalani Karantina Mandiri

Elang tak memungkiri, situasi yang ada saat ini memang harus disikapi dengan bijak.

Terutama dengan pelonggaran pembukaan sektor-sektor ekonomi.

"Yang pada intinya kita ini harus menyikapi. Kalau kita melihat di lockdown beneran, ekonominya ambruk."

"Itupun juga belum jaminan penyakitnya hilang. Kan begitu. Artinya kita harus seimbang."

"Kita berbicara antara masalah kesehatan dan ekonomi. Artinya ada keseimbangan, kebijaksanaan yang harus kita sikapi bersama."

"Baik itu nakes ataupun masyarakat. Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Artinya, ada sesuatu yang tidak pas di sini. Jadi ikuti protokolernya semuanya," pungkasnya. (Arl)

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved