Berita Regional
Puluhan Anak-anak Ini Belajar di Kuburan, Ternyata Malah Diinisiasi Polisi, Begini Ceritanya
Puluhan Anak-anak Ini Belajar di Kuburan, Ternyata Malah Diinisiasi Polisi, Begini Ceritanya. Ternyata karena tak mampu ikuti pembelajaran online
“Banyak anak-anak dari keluarga tidak mampu, tidak bisa sekolah online. Orangtua mereka kesulitan membeli kuota internet sehingga saya memasukkan jaringan internet (ke area pekuburan). Setelah ada internet, banyak anak-anak dari tingkat SD, SMP, SMA terpaksa duduk di atas kuburan sambil belajar."
TRIBUNBANYUMAS.COM – Potret anak-anak miskin yang tak mampu mengikuti pembelajaran online, karena keterbatasan infrastruktur dan ketiadaan biaya membeli kuota internet, tersaji di Kota Makassar.
Sekitar 80 anak-anak miskin terpaksa belajar di pekuburan umum. Karena keadaan, bagi mereka, kini kuburan merupakan tempat yang menyenangkan, bukan menyeramkan.
Belajar bersama di atas area kuburan ini, ternyata diiniasi oleh seorang anggota polisi, Aiptu Palewari.
Puluhan anak-anak yang belajar bersaama di atas area makan ini adalah anak-anak dari keluarga miskin yang bermukim di pinggir Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dadi, Makassar.
• Pembelajaran Jarak Jauh akan Diterapkan Permanen, Mendikbud: Adaptasi Teknologi Itu Pasti
• Raja Jogja Tak Izinkan Siswa Kembali Belajar di Sekolah, Sri Sultan HB X: Saya Belum Berani
• Menteri Muhadjir: Sekolah Dibuka Awal 2021 atau Akhir Tahun Ini, Semester Depan Masih Online
• Begini Syarat Penerapan New Normal Menurut WHO dan Bappenas, Daerah Mana Sudah Siap?
Kondisi anak-anak yang tak bisa mengikuti pembelajaran online, karena tak mempunyai smartphone dan juga tak mampu membeli kuota internet itu menggugah hati Polsekta Mamajang, yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas tersebut.
Paleweri kemudian menginisiasi penyediaan fasilitas internet di kompleks TPU Dadi hingga mendirikan tempat belajar bersama.
Kompleks TPU Dadi dipilih menjadi lokasi belajar karena daerah sekitarnya penuh dengan rumah penduduk.
Tak ada lagi lokasi untuk bisa mendirikan bimbingan belajar (bimbel).
Paleweri juga tidak segan mengeluarkan dana pribadi untuk membangun tempat tersebut, misalnya untuk tenda, kursi, meja, serta fasilitas internet.
“Saya lihat banyak anak-anak dari keluarga tidak mampu, tidak bisa sekolah online."
"Orangtua mereka kesulitan membeli kuota internet sehingga saya memasukkan jaringan internet (ke area pekuburan)."
"Setelah ada internet, banyak anak-anak dari tingkat SD, SMP, dan SMA terpaksa duduk di atas kuburan sambil belajar."
"Jadi saya bersama warga sekitar kemudian mendirikan tenda dan membuat kursi serta meja,” ujar Paleweri saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (4/7/2020).
Anak-anak yang mengikuti pendidikan berasal dari Kampung Tumpang, Kelurahan Maricaya Selatan.
Jumlahnya untuk murid SD sebanyak 26 orang, 24 siswa SMP, 7 siswa SMA, dan 4 anak putus sekolah.
“Mereka itu berbeda-beda sekolah. Jadi selain bisa menikmati wifi gratis, mereka juga ada yang bimbing dari senior-seniornya."
"Jadi murid SD diajar kakak-kakaknya yang sudah SMP dan SMA. Jadi mereka saling belajar dan mengajar."
"Saya dan beberapa masyarakat mengawasi dan ikut juga memberi pelajaran,” ucap Paleweri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/belajar-di-atas-kuburan-makassar-aiptu-palewari.jpg)