Berita Pekalongan

Cerita Kakek Nenek Warga Pekalongan yang Tidak Dapat Bantuan dan Hidup Bareng Hewan Ternak

Di tengah pandemi virus corona atau Covid-19, pemerintah baik daerah, provinsi, maupun pusat menggelontorkan ratusan miliar untuk mencegah.

Editor: Rival Almanaf
Tribunbanyumas.com/ Indra Dwi Purnomo
Wasri (60) warga RT 8 RW 2, Dukuh Kaibahan, Desa Kaibahan, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah sedang menanak nasi 

TRIBUNBANYUMAS.COM, KAJEN - Di tengah pandemi virus corona atau Covid-19, pemerintah baik daerah, provinsi, maupun pusat menggelontorkan ratusan miliar untuk mencegah dan memutus rantai virus tersebut.

Bantuan-bantuan, seperti BST ataupun bantuan yang lain diberikan kepada masyarakat yang terdampak virus corona.

Namun, bantuan tersebut ternyata tidak pernah dirasakan oleh sepasang lansia yaitu Deman (75) dan Wasri (60) warga RT 8 RW 2, Dukuh Kaibahan, Desa Kaibahan, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

Saat Tribunjateng.com mendatangi rumahnya, kedua lansia ini tinggal di gubuk yang berukuran panjang sekitar 10 meter dan lebar 6 meter.

Pelaku Pembakar Posko Covid-19 Ditangkap Polisi, Alasannya Karena Tidak Terima Pembagian BLT

5.296 Napi di Jateng Dapat Remisi Sambut Idul Fitri

Pandemi Virus Corona Pemerintah Minta Shalat Idul Fitri di Rumah, Berikut Tata Cara dan Ketentuannya

Kapolda Jatim Usir Kapolsek Gubeng Dari Ruang Rapat Penanganan Corona Karena Tertidur

Gubul itu juga digunakan untuk kandang ayam, bebek, dan burung dara.

Meski kondisinya memprihatinkan, kedua lansia ini hidupnya tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah.

Bahkan, ditengah virus corona mereka juga belum pernah mendapatkan bantuan uang tunai maupun sembako.

Rumah yang berdinding anyaman bambu dan lantai beralas tanah liat, tidak membuat kedua lansia ini putus asa untuk hidup.

Nah untuk bertahan hidup, dirinya menjadi buruh tanam padi.

"Saya belum pernah mendapatkan bantuan, ketika ada panggilan saya bekerja sebagai buruh tanam, seperti nandur dan jemur gabah. Upahnya dalam bentuk beras sebanyak 3 piring."

"Sedangkan untuk suaminya sekarang hanya bisa di rumah. Karena sedang sakit sesak nafas," kata Wasri kepada Tribunjateng.com, Sabtu (23/4/2020) siang.

Kemudian, untuk hidup bersama hewan ternak ini sudah belasan tahun.

Wasri mengatakan, hidup seperti ini sudah biasa dijalani. Mau makan saja susah apalagi untuk perbaiki rumah.

"Kalau hujan gubuknya sering bocor tapi gimana lagi," imbuh Mak Wasri panggilan akrabnya sambil tersenyum.

Sejauh ini, Wasri mengaku belum pernah didata atau didatangi petugas.

"Sering sekali anak saya mengurus bantuan ke desa tapi gagal terus. Hanya sampai di desa selanjutnya tidak ada bantuan sama sekali," imbuhnya.

Saat disinggung apakah masih mempunyai anak, ia mengungkapkan masih mempunyai anak empat dan semuanya sudah berkeluarga.

"Sudah berkeluarga semua dan jauh-jauh tinggalnya. Tapi sering juga kesini untuk tengok orangtuanya," ungkapnya.

Terpisah, Deman (75) menuturkan, ia selama ini belum mendapatkan bantuan pemerintah baik itu kesehatan ataupun yang lainnya.

"Tidak pernah dapat bantuan saya dan tidak tahu juga kalau ada bantuan dari pemerintah," tuturnya.

Deman juga mengatakan, ia bersama istrinya tidur bareng hewan ternak ini sudah 5 tahun.

"Wis biasa mas turu pitik dan Meri (sudah biasa tidur bareng ayam sama bebek). Kalau hewannya sudha besar akan dijual untuk kebutuhan makan," katanya.

Ia mengungkapkan, sebelum jatuh sakit dirinya bekerja sebagai buruh tani.

"Saya sakit nafas sudah hampir satu tahun. Sebelum sakit, saya kerjanya di sawah buruh pacul. Sekarang hanya di rumah dan yang kerja istri saya," ungkapnya.

Sementara itu, Roni ketua RT setempat membenarkan bahwa keluarga Deman memang belum pernah mendapatkan bantuan baik dari pemerintah daerah, provinsi, dan pusat.

Dibakar Cemburu, Pria Bacok Istri dan Pamannya yang Anggota TNI AD Hingga Tewas

Pasca Akhri PSBB, 10 Masjdi di Kota Tegal Ini Akan Gelar Shalat Idul Fitri

Enam Pemudik Tewas Dalam Kecelakaan Kapal Motor di Laut Aru

Jateng Masih Peringkat Empat, Simak 10 Provinsi Dengan Penularan Virus Corona Tertinggi di Indonesia

"Sebenarnya mbah deman sudah terdata di bantuan provinsi. Tapi bantuannya belum turun. Tapi untuk bantuan PKH, terus BST dan lainnya memang mbah Deman tidak terdata," katanya.

Ia mengungkapkan, seringkali nama mbah Deman diajukan ke desa untuk mendapatkan bantuan, tapi tidak pernah tercatat di desa.

"Ada beberapa warga yang dinilai layak, tapi masih mendapatkan bantuan. Ada juga yang sudah mendapatkan PKH dapat lagu bantuan BST," ungkapnya.

Kemudian, mengenai bantuan yang didapatkan warga agar tidak dua kali, ia mendata kembali warganya.

"Ada warga yang mendapatkan bantuan BST dan PKH. Nah itu kan dobel, nanti saya akan mencoret salah satu bantuan yang didapatkan warga tersebut. Agar, bisa dilemparkan ke warga yang membutuhkan," imbuhnya. (Dro)

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved