Berita Semarang

Kelurahan Dibolehkan Karantina, Begini Konsep Jogo Tonggo yang Dipilih Kota Semarang Dibanding PSBB

Pemerintah Kota Semarang memutuskan memilih konsep Jogo Tonggo untuk mencegah penyebaran virus corona dibanding menerapkan PSBB

Editor: Rival Almanaf
Istimewa
Warga Pusponjolo Timur, Kota Semarang lakukan 'lockdown' lokal sebuah gang setelah di lingkungan tersebut terdapat seorang warga yang dinyatakan positif virus corona. 

TRIBUNBANYUMAS.COM - Pemerintah Kota Semarang memutuskan memilih konsep Jogo Tonggo untuk mencegah penyebaran virus corona dibanding menerapkan PSBB.

Lalu bagaimana sebenarnya konsep Jogo Tonggo yang rencananya akan diterapkan pada 27 April 2020 tersebut?

Apakah lebih efektif daripada menerapkan PSBB?

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi tengah mempersiapkan Perwalkot terkait Jogo Tonggo tersebut.

Ganjar: Mulai Senin 27 April Warga Semarang, Kendal dan Demak Tak Gunakan Masker akan Ditindak Tegas

Cukup Dekatkan Tangan, Air dan Sabun Mengucur Otomatis, Karya Mahasiswa UKSW Salatiga Cegah Corona

Wali Kota Solo Rudy: Larangan Mudik Itu Telat, Siapapun yang ke Solo Harus Dikarantina Meski VVIP

Presiden Jokowi Disebut Menghubungi Donald Trump Terkait Corona, Berikut Kesepkatan Mereka

Gerakan Jogo Tonggo tersebut akan mulai diterapkan di Kota Semarang pada Senin (27/4/2020).

Sementara Sabtu dan Minggu dimanfaatkan untuk persiapan dan sosialisasi ke masyarakat.

"Sudah kami rapatkan Perwalkot pembatasan wilayah non PSBB yaitu dengan model Jogo Tonggo."

"Hari Senin gerakan itu kita berlakukan. Dasarnya semangat kondisi tanggap bencana, yang nanti akan mengatur tempat kerja, usaha, pendidikan dan kegiatan masyarakat," kata Hendi usai mengikuti rapat bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta bupati dan wali kota di Semarang Raya, Jumat (24/4/2020).

Dalam Konsep Jogo Tonggo Hendi menjelaskan di tingkat kelurahan dipersilakan melakukan karantina wilayah dengan portal, kalau tidak ada dari bambu atau apa saja.

"Saat ini kami juga sudah melaksanakan sistem lumbung pangan kelurahan, meskipun basis kegiatannya ada di tingkat RW. Tapi ini sudah ready," katanya.

Saat Dilakukan Jogo Tonggo Pemkot akan membentuk 16 pos pantau.

Selain itu juga bakal mendapat dukungan dari 48 tim patroli gabungan di pos pantau Jogo Tonggo.

"Kita menaruh 16 pos pantau, 8 pos ditaruh di perbatasan dengan wilayah lain, 8 pos pantau di kota."

"Yang setiap pos pantau ada tiga tim patroli. Anggotanya TNI Polri, dishub, Satpol-PP dan tenaga kesehatan. Total ada 48 tim patroli," katanya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan dalam pemberantasan Covid-19 ini jangan sampai membiarkan tenaga medis jadi benteng terdepan.

Masyarakat lah yang mestinya menjadi garda terdepan dengan bersenjatakan air mengalir, sabun dan masker.

Simak Kriteria Pelanggaran Mudik yang Akan Didenda Rp 100 Juta

Ketua DPRD Jateng Minta Warga Tutup Jalan Kampung Agar Tidak Digunakan Pemudik Hindari Penyekatan

Viral Ketua RT Aniaya Warganya yang Menanyakan Bantuan Sosial, Begini Penjelasan Warga Sekitar

Mabuk dan Plesetkan Lagu Rasulullah, Pemuda di Surabaya Merengek Setelah Ditangkap Polisi

Dan menerapkan strategi inti, tetap tinggal di rumah dan jaga jarak.

"Basisnya desa atau kampung. Kenapa? Ruang yang lebih kecil bisa kita lakukan kendali yang lebih manageable."

"Kalau kita mau tetapkan PSBB, sudahkah kita menghitung dan siap? Kalau belum, kita latihan dulu dengan melakukan tindakan seperti PSBB."

"Pasar mulai kita ubah mulai besok. Yang ke sana harus cuci tangan, wajib pakai masker, kalau tidak suruh pulang," kata Ganjar. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Belum Terapkan PSBB, Kota Semarang Pilih Berlakukan "Jogo Tonggo"", 

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved