Berita Kriminal
Perawat Korban yang Ditampar Satpam Mulai Buka Suara, Diancam Hendak Dibunuh
Hidayatul Munawaroh (30), perawat di Klinik Pratama Dwi Puspita Semarang, yang menjadi korban penamparan, mulai buka suara.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: deni setiawan
Dia ketakutan selepas mengalami peristiwa yang menimpa dirinya.
Bahkan dia merasakan pusing kepala karena mengalami luka-luka memar.
Dia lantas melaporkan tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh Budi tersebut kepada pihak Polsek Semarang Timur.
• Belajar dari Rumah, Ini Jadwal Senin 13 April di TVRI
• PDP Cilacap Dinyatakan Negatif Virus Corona, Sempat Dirawat di RSUD Banjar Patroman
• Tangani Pasien Virus Corona, Dance Usulkan Pelibatan Psikolog di RSPAW Salatiga
• Laboratorium PCR Masih Terbatas di Jateng, Saat Ini Cuma di Salatiga, Terpaksa Harus Antre
"Betul kejadian ini sudah kami laporkan ke Polsek Semarang Timur untuk dimintai keterangan."
"Selanjutnya baru ditindaklanjuti ke Polrestabes Semarang," ujarnya.
Tidak hanya itu, Hidayatul sudah melakukan visum untuk menguatkan bukti dalam proses penyelidikan kasus tersebut.
Dia juga berharap agar pelaku dihukum seadil-adilnya sehingga tidak ada lagi korban lain yang direndahkan dengan tindakan tidak manusiawi.
Selain itu, dia meminta tolong agar profesinya dihargai lantaran telah bekerja secara ikhlas membantu warga atau masyarakat.
"Tentu saya berharap semoga tidak terulang lagi kejadian serupa."
"Tidak ada profesi atau pekerjaan lain yang direndahkan apalagi sampai memukul," pintanya.
Pelaku Meminta Maaf
Diberitakan sebelumnya, Budi Cahyono (43) warga Kemijen, Semarang Timur mengaku menyesal setelah melakukan tindakan pemukulan.
Sembari menahan tangis, Budi menerangkan melakukan aksi penganiayaan lantaran disuruh memakai masker.
Padahal saat itu dia memohon agar anaknya yang sakit diperiksa terlebih dahulu.
"Saat itu saya bingung. Sebab saya akan memeriksakan anak yang sedang sakit panas dan batuk tapi disuruh pakai masker," ujarnya di Mapolrestabes Semarang, Minggu (12/4/2020).