Senin, 4 Mei 2026

Berita Internasional

Mendapat Ancaman Pembunuhan Selama Wabah Corona, Kepala WHO: Saya Tidak Peduli

Kepala Badan Kesehatan Dunia ( WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pada Rabu (8/4/2020) bahwa dirinya untuk pertama kali mendapat ancaman.

Tayang:
Editor: Rival Almanaf
(SALVATORE DI NOLFI)
Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Covid-19 sebagai pandemi global EPA-EFE/SALVATORE DI NOLFI 

TRIBUNBANYUMAS.COM - Kepala Badan Kesehatan Dunia ( WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pada Rabu (8/4/2020) bahwa dirinya untuk pertama kali mendapat serangan pribadi.

Dilansir dari media Perancis AFP, Serangan itu termasuk penghinaan rasial dan ancaman kematian selama wabah virus corona.

Menanggapi hal itu, Tedros menyatakan, "Saya tak peduli."

"Saya orang kulit hitam dan bangga. Saya tidak peduli disebut negro. Ketika seluruh komunitas kulit hitam dihina, ketika Afrika dihina, maka saya tidak (bisa) menolerir," kata Tedros.

Belum Ada Kejelasan soal Pelaksanaan Ibadah Haji, Menag: Harus Lunasi, Bisa Diambil jika Dibatalkan

Razia Hotel, Polisi Temukan Oknum PNS Pria Bersama 4 PSK di Sebuah Kamar

Lagi, Vanessa Angel Menjadi Tersangka, Kali Ini Terkait Kasus Narkoba

Tak Peduli Anjuran Physical Distancing Saat Pandemi Corona, Remaja Semarang Gelar Tawuran

Ungkapannya itu ternyata buntut dari saran dua ilmuwan Perancis yang menyatakan kalau vaksin corona bisa diuji coba pada orang-orang Afrika.

Pada pekan lalu, dua dokter di Perancis, Jean-Paul Mira dan Camille Locht dikecam dan dianggap rasialis setelah mengusulkan agar tes vaksin virus corona dilakukan kepada orang-orang Afrika.

Pernyataan itu ditayangkan di kanal televisi LCI pada Rabu (1/4/2020).

Di program kanal televisi tersebut, diskusi yang dibahas seputar vaksin tuberkulosis BCG yang bisa digunakan untuk melawan virus bernama resmi Covid-19.

Pada Rabu malam (8/4/2020) Tedros me-retweet dukungan pribadi yang telah dia terima dari Uni Afrika dan presiden Afrika Selatan, Nigeria dan Rwanda terkait pelecehan terhadapnya.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres juga memberikan dukungannya juga, dengan mengatakan bahwa ini bukan waktunya untuk mengkritik tanggapan awal terhadap wabah tersebut.

"Sekarang adalah waktu untuk bersatu bagi komunitas internasional untuk bekerja bersama dalam solidaritas untuk menghentikan virus ini dan konsekuensinya yang menghancurkan," kata Guteres dalam sebuah pernyataan.

Sebelumnya, WHO dianggap terlalu khawatir ketika menghadapi epidemi H1N1 pada 2009 lalu.

Akan tetapi, lima tahun kemudian, WHO juga dituduh terlalu berlebihan dalam menyatakan darurat atas wabah Ebola di Afrika barat, yang menewaskan lebih dari 11.000 orang.

Sekarang badan kesehatan internasional tersebut dituduh menunda membunyikan peringatan atas wabah Covid-19 karena takut menyinggung Beijing.

Mereka dianggap telah menunggu terlalu lama untuk menyatakan virus corona sebagai pandemi global dan gagal mengoordinasikan respons internasional yang koheren.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved