Selasa, 5 Mei 2026

Iran Vs Israel dan Amerika

Gencatan Senjata Kolaps, Perang Terbuka AS-Iran Pecah di Selat Hormuz: Dunia Terancam Krisis Energi

Gencatan senjata AS-Iran batal total. Eskalasi militer di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak Brent hingga 5?n ancaman perang terbuka.

Tayang:
Editor: Rustam Aji
Tribunnews.com/tribunnews.com
SALING SERANG DI HORMUZ - Perang antara Amerika-Israel vs Iran, memicu ketidakpastian pasar sehingga menyebabkan krisis energi. 
Ringkasan Berita:
  • Gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berada di ujung tanduk pada Senin (4/5/2026), ketika kedua negara saling melancarkan aksi militer di Selat Hormuz
  • Iran tampak tidak gentar dan menegaskan, akan terus mempertahankan kendali atas Selat Hormuz
  • Pejabat militer senior Iran tidak membantah serangan tersebut, tetapi menegaskan bahwa Iran tidak memiliki program yang direncanakan sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak yang dimaksud.

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEHERAN – Stabilitas keamanan global berada di titik nadir setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinyatakan kolaps pada Senin (4/5/2026). Eskalasi militer besar-besaran pecah di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak dunia dan menyeret negara-negara kawasan seperti Uni Emirat Arab (UEA) serta Oman ke dalam pusaran konflik.

Ketegangan memuncak setelah Presiden AS Donald Trump meluncurkan operasi militer "Project Freedom" untuk mengawal kapal-kapal di jalur pasokan minyak paling vital di dunia tersebut. Trump bahkan mengeluarkan peringatan keras bahwa Iran akan "dihapus dari muka bumi" jika nekat menyerang aset-aset Amerika Serikat.

Eskalasi di Jalur Minyak Dunia

Konflik fisik dilaporkan terjadi setelah armada AS mengklaim telah menenggelamkan enam kapal kecil milik Iran. Teheran segera membantah klaim tersebut, namun menegaskan bahwa kendali penuh atas Selat Hormuz—yang mengalirkan seperlima pasokan minyak global—adalah harga mati bagi kedaulatan mereka.

Situasi kian keruh setelah UEA melaporkan serangan rudal jelajah dan drone Iran yang menargetkan fasilitas energi di Fujairah serta kapal tanker milik ADNOC. Serangan ini merupakan pelanggaran kesepakatan damai pertama dalam sebulan terakhir.

Baca juga: Gedung Putih Mencekam: Penembakan Pecah Usai Konvoi Wapres JD Vance Melintas

"Ini adalah eskalasi berbahaya dan ancaman langsung terhadap stabilitas wilayah," tegas kementerian luar negeri UEA dalam pernyataan resminya. Akibat serangan ini, tiga warga negara India di Fujairah dilaporkan terluka, sementara sekolah-sekolah di UEA terpaksa kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh.

Ekonomi Global Terguncang

Reaksi pasar terhadap pecahnya gencatan senjata ini berlangsung instan. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak tajam melampaui lima persen untuk pengiriman Juli. Tekanan ekonomi ini menjadi batu sandungan politik bagi Trump di dalam negeri menjelang pemilu kongres, mengingat biaya energi yang terus merangkak naik sejak perang pecah Februari lalu.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan Washington agar tidak terjebak dalam "kubangan" militer. Melalui platform X, ia menyebut operasi militer AS sebagai proyek buntu. "Project Freedom adalah Project Deadlock. Tidak ada solusi militer untuk krisis politik ini," tulis Araghchi.

Diplomasi Menemui Jalan Buntu

Di tengah upaya militer AS melakukan pengawalan kapal, data menunjukkan sedikitnya 900 kapal komersial masih terjebak di kawasan Teluk hingga akhir April. Upaya diplomasi antara Washington dan Teheran dilaporkan macet total, termasuk pembatalan rencana perundingan kunci di Pakistan.

Kondisi diperparah dengan meluasnya konflik di Lebanon, di mana serangan Israel telah menewaskan lebih dari 2.700 orang. Sementara itu, Korea Selatan juga melaporkan salah satu kapal mereka mengalami ledakan hebat di Selat Hormuz, menambah daftar panjang kerugian sipil akibat kebuntuan geopolitik ini. (inas/kps)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved