Jumat, 8 Mei 2026

Berita Regional

Potret Kerukunan Antarumat Beragama di Bali, 50 Persen Guru di Ponpes Ini Beragama Hindu

Potret Kerukunan Antarumat Beragama di Bali, 50 Persen Guru di Ponpes Ini Beragama Hindu

Tayang:
KOMPAS.com/IMAM ROSIDIN
Bangunan Ponpes Bali Bina Insani di Tabanan, yang patut menjadi contoh dalam toleransi beragama. 

Potret Kerukunan Antarumat Beragama di Bali, 50 Persen Guru di Ponpes Ini Beragama Hindu

TRIBUNBANYUMAS.COM, TABANAN - Nila-nilai toleransi antarumat beragama di Pulau Dewata tertanam cukup mendalam. Jarang sekali terjadi gesekan di masyarakat karena dipicu persoalan agama.

Mayoritas masyarakat Bali menganut agama Hindu. Di sana, sangat mudah menemukan pura-pura, sebgai tempat  peribadatan umat Hindu.

Namun, Islam di Bali juga cukup berkembang. Di Bali, antarumat beragama sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

Seperti yang tergambar dalam kehidupan sehari-hari warga di Pondok Pesantren (Ponpes) Bali Bina Insani, yang berada di sebuah desa dengan komunitas Hindu yang sangat kental.

Kisah Kakek Pemulung Sebatangkara Diusir Istri Karena Hanya Beri Rp 50 Ribu

Cerita Sebenarnya Video Viral Pria Kepergok Curi Susu Demi 2 Balita, Polisi: Nurani Saya Tersentuh

Kisah Alumni SMPN 3 Purbalingga yang Kembali ke Sekolah Setelah Sukses, Ini yang Dia Lakukan

Update Virus Corona: Awal Maret Hampir 3000 Orang Meninggal Dunia,China Terbanyak, Indonesia Nihil

Kompas.com berkesempatan menyambangi Ponpes yang beralamat di Desa Meliling, Kecamatan Karambitan, Kabupaten Tabanan, Bali, pada Sabtu (29/2/2020).

Pesantren yang berdiri di area seluas 5 hektar ini menjadi potret nyata gambaran indahnya toleransi antarumat beragama di Indonesia.

Ketika Kompas.com menyambanginya, kegiatan belajar mengajar di Madrasah Tsanawiyah (SMP) dan Madrasah Aliyah (MA) sedang diliburkan.

Rupanya, kegitan belajar diliburkan karena umat Hindu sedang merayakan hari besar keagamaan Kuningan.

Vatikan Mengkonfirmasi Paus Fransiskus Terinfeksi Corona Ternyata Hoaks, Begini Kondisi Aslinya

Yuli Saiful Bahri, Kepala Biro Pendidikan Bali Bina Insani mengatakan memang hampir 50 persen tenaga pengajar di Ponpes ini beragama Hindu.

Ada sekitar 49 guru yang mengajar di Lembaga Pendidikan yang menerapkan konsep boarding school (asrama) ini.

Jadi, ketika hari-hari besar keagamaan Hindu, kegiatan belajar mengajar diliburkan.

"Ini adalah cara kami untuk menghormati para guru yang merayakan hari besar keagamaannya," kata Yuli, Sabtu siang.

WNA Korea yang Bunuh Diri Karena Merasa Terinfeksi Corona di Solo Tinggalkan Catatan, Begini Isinya

Yuli mengatakan, sejak berdiri sekitar tahun 1991, Ponpes ini diterima baik oleh masyarakat setempat.

Tak pernah ada sekalipun konflik atau penolakan dari masyarakat sekitar.

Sementara itu, Ni Made Suardani, salah satu guru beragama Hindu di Ponpes ini mengatakan selama mengajar tak pernah merasa dibedakan.

Kepada para siswanya, ia memang selalu mengajarkan untuk saling menghormati meski berbeda keyakinan.

Duo Inzaghi Bersaudara: Filippo dan Simone Rajai Klasmen Liga Italia

" Toleransi yang kita ajarkan selama ini langsung dengan praktik bahwa kita walau berbeda agama tetap saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lain," katanya Minggu (1/3/2020) siang.

Para santri di Ponpes ini menurutnya juga tak pernah membeda-bedakan antara guru Muslim dan Hindu.

"Bila bertemu baik di sekolah maupun di luar mereka selalu bersalaman dan mencium tangan kami," katanya.

Pendiri Pondok Pesantren Bali Bina Insani Tabanan, Ketut Imaduddin Djamal mengatakan sebagai putra asli Bali, dia mengaku sangat paham bagaimana budaya dan adat istiadat di Bali.

Beredar Kabar Pembunuh Driver Online Grab Asal Kudus Pecatan TNI, Begini Tanggapan Kapendam

Maka, ia ingin para santri di Ponpesnya menghargai dan kenal dengan budaya Bali. Sebab mereka hidup dan tinggal di Bali.

Menurutnya, perbedaan itu memang ada di dunia ini. Namun, bukan untuk dijadikan alasan bermusuhan atau perpecahan.

Jadi kepada para santri sangat ditanamkan nilai untuk menghargai perbedaan.

"Di Islam juga kan diajarkan, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat sesama tanpa melihat ideologi, etnis, geografis, dan agama."

Perempuan Warga Negara Korea Bunuh Diri di Solo, Diduga Depresi karena Merasa Terpapar Virus Corona

"Kita disuruh berbuat baik saja. Kalau kamu beebuat baik, maka kebaikan itu akan kembali pada kamu," katanya.

Selain itu, kepada para santrinya juga ditekankan agar berbaur dengan warga sekitar.

Misalnya, saat ada warga yang mendapat musibah seperti meninggal dunia, maka ditekankan untuk datang dan membantu sebisanya.

Kemudian, saat Idul Adha, Ponpes juga mengundang warga sekitar untuk ikut mengibung atau makan bersama di areal Ponpes.

"Saya hanya ingin santri tak terjerabut dari budaya Bali karena mereka hidup di Bali," kata mantan Ketua Pengadilan Agama Denpasar ini.

Mitos Keangkeran Jalan Raya Kebun Krumput Banyumas, yang Justru Banyak Undang Pengemis

Djamal lalu menceritakan awal mula pendirian Ponpes ini. Sebagai putra Bali yang lahir di sebuah kampung Islam Pegayaman, Buleleng, dia merasa kondisi pendidikan dan pengasuhan umat Islam di Bali sangat minim.

Pria yang kini menjadi hakim di Pengadilan Tinggi NTB ini sering mendengar cerita umat Islam di Bali kesulitan untuk menyekolahkan anaknya di bidang agama.

Mereka terbentur masalah ekonomi karena untuk mondok harus ke luar Bali, yakni ke Jawa dan Lombok.

Kemudian, sekitar tahun 1991, dia mengisi pengajian di sebuah komunitas muslim asal Sulawesi Selatan di Denpasar.

Di sana, ada seorang warga yang menanyakan cara implementasi yang disampaikannya terkait umat, anak yatim dan sebagainya.

BREAKINGNEWS: Bukan Karena Corona, Laga Uji Coba PSCS Lawan PSIM Dihentikan Sementara Karena Ini

"Saya tertampar di sana. Saya kemudian mulai melihat-lihat untuk membuat sebuah lembaga pendidikan," katanya.

Hingga akhirnya ada seorang ibu mualaf yang merupakan istri seorang tentara menawarkan rumah di atas tanah seluas 4 hektar di Tabanan untuk dijadikan Ponpes.

Pertama, ada sekitar 7 anak yatim piatu yang ditampung di Ponpes tersebut.

"Kita bina mereka, anak-anak yatim ini. Rupanya setiap ada acara, mereka menonjol dengan maju berpidato dan bisa bahasa Arab dan Inggris sedikit-sedikit. Mereka dianggap hebat," ceritanya.

Pemuda Ini Bunuh Ibu Kandung dan Tetangga, Lalu Gantung Diri di Depan Rumah

Deddy Corbuzier Ungkap Alasan Berhenti Jadi Mentalis dan Tolak Tawaran Go International

Fenomena Semburan Lumpur Setinggi Puluhan Meter di Grobogan, Warga: Ini Bukan Kali Pertama Terjadi

Cerita Jamaludin Gagalkan Pencurian Sepeda Motor, Duel dengan Pelaku hingga Bibir Tergores Golok

Seiring berjalannya waktu, jumlah santri terus bertambah dan banyak orang tua yang ingin menitipkan anaknya.

Karena tempat pertama sudah tak cukup, maka Ponpes dipindah ke lahan yang lebih luas pada 1996.

Ponpes ini kemudian semakin berkembang ketika Agustus 1997 didirikan Madrasah Tsanawiyah (SMP). Kemudian menyusul pada 2000 didirikan Madrasah Aliyah.

Hingga, Ponpes ini terus berkembang sampai saat ini. Kini jumlah santrinya sudah mencapai 420 orang yang didominasi dari Bali dan Lombok. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Toleransi dalam Pondok Pesantren di Bali yang 50 Persen Gurunya Beragama Hindu

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved