Berita Regional
Potret Kerukunan Antarumat Beragama di Bali, 50 Persen Guru di Ponpes Ini Beragama Hindu
Potret Kerukunan Antarumat Beragama di Bali, 50 Persen Guru di Ponpes Ini Beragama Hindu
Djamal lalu menceritakan awal mula pendirian Ponpes ini. Sebagai putra Bali yang lahir di sebuah kampung Islam Pegayaman, Buleleng, dia merasa kondisi pendidikan dan pengasuhan umat Islam di Bali sangat minim.
Pria yang kini menjadi hakim di Pengadilan Tinggi NTB ini sering mendengar cerita umat Islam di Bali kesulitan untuk menyekolahkan anaknya di bidang agama.
Mereka terbentur masalah ekonomi karena untuk mondok harus ke luar Bali, yakni ke Jawa dan Lombok.
Kemudian, sekitar tahun 1991, dia mengisi pengajian di sebuah komunitas muslim asal Sulawesi Selatan di Denpasar.
Di sana, ada seorang warga yang menanyakan cara implementasi yang disampaikannya terkait umat, anak yatim dan sebagainya.
• BREAKINGNEWS: Bukan Karena Corona, Laga Uji Coba PSCS Lawan PSIM Dihentikan Sementara Karena Ini
"Saya tertampar di sana. Saya kemudian mulai melihat-lihat untuk membuat sebuah lembaga pendidikan," katanya.
Hingga akhirnya ada seorang ibu mualaf yang merupakan istri seorang tentara menawarkan rumah di atas tanah seluas 4 hektar di Tabanan untuk dijadikan Ponpes.
Pertama, ada sekitar 7 anak yatim piatu yang ditampung di Ponpes tersebut.
"Kita bina mereka, anak-anak yatim ini. Rupanya setiap ada acara, mereka menonjol dengan maju berpidato dan bisa bahasa Arab dan Inggris sedikit-sedikit. Mereka dianggap hebat," ceritanya.
• Pemuda Ini Bunuh Ibu Kandung dan Tetangga, Lalu Gantung Diri di Depan Rumah
• Deddy Corbuzier Ungkap Alasan Berhenti Jadi Mentalis dan Tolak Tawaran Go International
• Fenomena Semburan Lumpur Setinggi Puluhan Meter di Grobogan, Warga: Ini Bukan Kali Pertama Terjadi
• Cerita Jamaludin Gagalkan Pencurian Sepeda Motor, Duel dengan Pelaku hingga Bibir Tergores Golok
Seiring berjalannya waktu, jumlah santri terus bertambah dan banyak orang tua yang ingin menitipkan anaknya.
Karena tempat pertama sudah tak cukup, maka Ponpes dipindah ke lahan yang lebih luas pada 1996.
Ponpes ini kemudian semakin berkembang ketika Agustus 1997 didirikan Madrasah Tsanawiyah (SMP). Kemudian menyusul pada 2000 didirikan Madrasah Aliyah.
Hingga, Ponpes ini terus berkembang sampai saat ini. Kini jumlah santrinya sudah mencapai 420 orang yang didominasi dari Bali dan Lombok. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Toleransi dalam Pondok Pesantren di Bali yang 50 Persen Gurunya Beragama Hindu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/bangunan-ponpes-bali-bina-insani-di-tabanan-yang-patut-menjadi-contoh-dalam-toleransi-beragama_.jpg)