Opini
Imlek, Gus Dur, Toleransi dan Dampak Ekonomi
Melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000 di era Gus Dur dan kemudian pada tahun 2003 Imlek ditetapkan sebagai hari Libur Nasional.
Artinya sebuah kesadaran dan keterbukaan untuk menerima dan mengakui perbedaan yang ada sembari mengolahnya, dalam sikap saling menghormati.
Gus Dur telah memberi sebuah jejak perjuangan politik inklusif di tanah air sehingga pluralisme tidak hanya sebatas wacana, sebatas obrolan politis, atau rencana belaka, melainkan dalam aksi dan tindakan nyata, salah satunya dalam dengan kewenanganya memberi kebebasan merayakan Imlek bagi warga Tionghoa.
Perayaan Imlek bagi kalangan Tionghoa adalah kemenangan besar ketika dibelenggu oleh kekuasaan rezim masa lalu dengan dalih bahwa agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia yang berpusat pada negeri leluhurnya, yang dalam manifestasinya dapat menimbulkan pengaruh psychologis, mental dan moril yang kurang wajar terhadap warganegara Indonesia sehingga merupakan hambatan terhadap proses asimilasi, perlu diatur serta ditempatkan fungsinya pada proporsi yang wajar, tapi bagi keyakinan penulis ketakutan itu hanya “ilusi” belaka melainkan hanya untuk mereduksi kekuatan besar kaum minoritas yang barangkali dapat mengambil alih porsi kekuatan kekuasaan orde penguasa atau rezim orde baru.
Jika kemudian ketakutan yang terjadi itu benar, maka harusnya pasca orde baru ini akan tatanan pemerintahan akan akan selalu mendikotomikan atara pribumi non pribumi, asing dan non asing, namun pada kenyataannya istilah tersebut berangsur angsur tereduksi dengan tatatan toleransi yang tinggi antar umat beragama.
Perbauran keberagaman umat dalam kegiatan tradisi Imlek ini sangat kental dalam berbagai kegiatan yang dilakukan didaerah, dengan menggunakan dan memadukan budaya lokal tanpa meninggalkan tradisi awal, sehingga Perayaan Imlek harus dimaknai sebagai sarana toleransi beragama dalam lingkup berbangsa dan bernegara.
Baca juga: Manjakan Penumpang saat Imlek, Ada Atraksi Barongsai di Stasiun Purwokerto
Siklus Ekonomi
Momentum Imlek tidak hanya persoalan tradisi dan rutinitas saja, namun harusnya menjadi dasar pergerakan ekonomi baru.
Baik disadari atau tidak, Imlek adalah perayaan yang selalu membawa energi besar ke dalam perekonomian, seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir.
Ekonomi Imlek tidak hanya menggeliat di pusat-pusat perdagangan besar, tetapi juga meresap hingga ke lapisan ekonomi terkecil.
Imlek menyajikan suasana semarak dengan begitu banyak pusat perbelanjaan dihiasi ornamen merah dan emas, toko-toko makanan sibuk memenuhi pesanan kue keranjang, serta berbagai sektor jasa ikut menikmati berkah dari meningkatnya konsumsi.
Dampak perayaan Imlek yang bermetamorfosis menjadi kekuatan ekonomi dari bawah, dari tataran podusen skala kecil dan menengah jauh lebih kuat dibandingkan dengan sumber ekonomi yang bersumber dari kekuatan besar.
Kemudian turun ke bawah, sumber ekonomi inilah yang berpotensi menggerakan sektor ekonomi nasional, bukan tidak mungkin Imlek bagi Pemerintah dapat menggerakan Ekonomi secara Nasional. (*)
Penulis: Singgih Sugiharto, Pemerhati Ekonomi Desa. Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
| Bukannya Ibadah, Warga Sumbang Banyumas Bawa Narkoba di Area Musala SPBU Padamara |
|
|---|
| Sopir yang Ikut Blokade Jalan Pati saat Demo Sudewo Bebas dari Penjara |
|
|---|
| Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kabupaten Blora, Hari Ini Jumat 20 Februari 2026 |
|
|---|
| Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa di Kabupaten Tegal, Ramadan Hari ke-3, Sabtu 21 Februari 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/penulis-imlek-sugiharto.jpg)