Selasa, 2 Juni 2026

Opini

Imlek, Gus Dur, Toleransi dan Dampak Ekonomi

Melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000 di era Gus Dur dan kemudian pada tahun 2003 Imlek ditetapkan sebagai hari Libur Nasional.

Tayang:
Editor: Rustam Aji
ISTIMEWA/dok.pribadi
Singgih Sugiharto, Pemerhati Ekonomi Desa. Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) 

TRIBUNBANYUMAS.COM - Sejak dicabutnya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan dan adat  Istiadat Cina, yang membatasi Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina secara menyolok dan hanya boleh dilakukan dalam lingkungan keluarga.

Maka melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000 di era Gus Dur dan kemudian pada tahun 2003 Imlek ditetapkan sebagai hari Libur Nasional.

Bagaikan “angin surga" bagi warga Tionghoa, bagaimana selama 3 dekade, mereka secara sembunyi-sembunyi merayakan tradisi nenek moyang mereka dengan perasaan “was-was”.

Meskipun jika dilihat dari sejarah Indonesia di era Soekarno dahulu, telah memulai dan membolehkan Imlek diakui sebagai hari besar keagamaan Tionghoa melalui Penetapan Pemerintah No. 2/OEM-1946.

Di situ warga Tionghoa bebas merayakan Imlek, termasuk barongsai di tempat umum, sampai kemudian rezim berganti, dan melarang peringatan Imlek secara terbuka.

Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kabupaten Blora, Hari Ini Jumat 20 Februari 2026

Bagi warga Tionghoa, Imlek merupakan hari penting yang rutin dirayakan setiap tahun. Momentum ini adalah bentuk syukur atas datangnya musim semi yang membawa harapan baru.

Istilah Imlek sendiri berasal dari dialek Hokkien (Yinli dalam bahasa Mandarin) yang secara harfiah berarti kalender bulan.

Sejarah perayaan Tahun Baru Imlek berkembang seiring bergantinya dinasti di Tiongkok.

Pada masa Dinasti Shang (1600-1046 SM), masyarakat terbiasa menggelar ritual pengorbanan demi menghormati dewa dan leluhur setiap pergantian tahun.

Penghormatan Bapak Pluralisme, Ketua Kelenteng Hok Tik Bio Purwokerto, Suryana menunjukkan foto Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di ruang kantornya, Rabu (11/2/2026) sebagai simbol kedekatan sejarah dan emosional.
Penghormatan Bapak Pluralisme, Ketua Kelenteng Hok Tik Bio Purwokerto, Suryana menunjukkan foto Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di ruang kantornya, Rabu (11/2/2026) sebagai simbol kedekatan sejarah dan emosional. (Tribun Banyumas/Fajar Bahruddin Achmad)

tanggal perayaan Imlek kemudian ditetapkan secara resmi pada masa Dinasti Han (202 SM-220 M), yakni pada hari pertama bulan pertama kalender lunar, di periode ini, tradisi membakar bambu untuk menciptakan suara keras mulai populer sebagai simbol penolak bala atau mengusir roh jahat.

Sementara di Indonesia, Tradisi Imlek telah ada sejak ribuan tahun lalu, meskipun secara pasti kapan dan tahun berapa masuk, belum diketahui secara jelas, yang pasti tradisi itu dibawa oleh masyarakat Tionghoa yang bermigrasi ke Nusantara dan kemudian berkembang di tengah keberagaman budaya Indonesia.

Gus Dur dan Jejak Plurisme

Gus Dur adalah seorang pahlawan pluralis sejati karena berani melawan arus utama (mainstream) yang bersuara tak kalah nyaring untuk yang mengharamkan pluralisme.

Tidak diragukan bahwa karakter pluralis Gus Dur memlikiki pemahaman agama yang benar dan juga cinta yang tulus pada bangsa Indonesia.

Baca juga: Sejarah Panjang Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas, Dibangun Mataram Bergaya Jawa - Eropa

Gus Dur bukan hanya menjadi pahlawan pluralisme melainkan juga ikon perjuangan pluralisme di Indonesia yang dibangun dalam tatanan demokrasi yang plural.

Artinya sebuah kesadaran dan keterbukaan untuk menerima dan mengakui perbedaan yang ada sembari mengolahnya, dalam sikap saling menghormati. 

Gus Dur telah memberi sebuah jejak perjuangan politik inklusif di tanah air sehingga pluralisme tidak hanya sebatas wacana, sebatas obrolan politis, atau rencana belaka, melainkan dalam aksi dan tindakan nyata, salah satunya dalam dengan kewenanganya memberi kebebasan merayakan Imlek bagi warga Tionghoa.

Perayaan Imlek bagi kalangan Tionghoa adalah kemenangan besar ketika dibelenggu oleh kekuasaan rezim masa lalu dengan dalih bahwa agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia yang berpusat pada negeri leluhurnya, yang dalam manifestasinya dapat menimbulkan  pengaruh  psychologis,  mental  dan  moril  yang  kurang  wajar  terhadap warganegara  Indonesia  sehingga  merupakan  hambatan  terhadap proses asimilasi, perlu diatur serta ditempatkan fungsinya pada proporsi yang wajar, tapi bagi keyakinan penulis ketakutan itu hanya “ilusi” belaka melainkan hanya untuk mereduksi kekuatan besar kaum minoritas yang barangkali dapat mengambil alih porsi kekuatan kekuasaan orde penguasa atau rezim orde baru.

Jika kemudian ketakutan yang terjadi itu benar, maka harusnya pasca orde baru ini akan tatanan pemerintahan akan akan selalu mendikotomikan atara pribumi non pribumi, asing dan non asing, namun pada kenyataannya istilah tersebut berangsur angsur tereduksi dengan tatatan toleransi yang tinggi antar umat beragama.

Perbauran keberagaman umat dalam kegiatan tradisi Imlek ini sangat kental dalam berbagai kegiatan yang dilakukan didaerah, dengan menggunakan dan memadukan budaya lokal tanpa meninggalkan tradisi awal, sehingga Perayaan Imlek harus dimaknai sebagai sarana toleransi beragama dalam lingkup berbangsa dan bernegara.

Baca juga: Manjakan Penumpang saat Imlek, Ada Atraksi Barongsai di Stasiun Purwokerto

Siklus Ekonomi

Momentum Imlek tidak hanya persoalan tradisi dan rutinitas saja, namun harusnya menjadi dasar pergerakan ekonomi baru.

Baik disadari atau tidak, Imlek adalah perayaan yang selalu membawa energi besar ke dalam perekonomian, seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir.

Ekonomi Imlek tidak hanya menggeliat di pusat-pusat perdagangan besar, tetapi juga meresap hingga ke lapisan ekonomi terkecil.

Imlek menyajikan suasana semarak dengan begitu banyak pusat perbelanjaan dihiasi ornamen merah dan emas, toko-toko makanan sibuk memenuhi pesanan kue keranjang, serta berbagai sektor jasa ikut menikmati berkah dari meningkatnya konsumsi.

Dampak perayaan Imlek yang bermetamorfosis menjadi kekuatan ekonomi dari bawah, dari tataran podusen skala kecil dan menengah jauh lebih kuat dibandingkan dengan sumber ekonomi yang bersumber dari kekuatan besar.

Kemudian turun ke bawah, sumber ekonomi inilah yang berpotensi menggerakan sektor ekonomi nasional, bukan tidak mungkin Imlek bagi Pemerintah dapat menggerakan Ekonomi secara Nasional. (*)

Penulis: Singgih Sugiharto, Pemerhati Ekonomi Desa. Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved