Sabtu, 9 Mei 2026

Opini

Imlek, Gus Dur, Toleransi dan Dampak Ekonomi

Melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000 di era Gus Dur dan kemudian pada tahun 2003 Imlek ditetapkan sebagai hari Libur Nasional.

Tayang:
Editor: Rustam Aji
ISTIMEWA/dok.pribadi
Singgih Sugiharto, Pemerhati Ekonomi Desa. Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) 

TRIBUNBANYUMAS.COM - Sejak dicabutnya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan dan adat  Istiadat Cina, yang membatasi Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina secara menyolok dan hanya boleh dilakukan dalam lingkungan keluarga.

Maka melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000 di era Gus Dur dan kemudian pada tahun 2003 Imlek ditetapkan sebagai hari Libur Nasional.

Bagaikan “angin surga" bagi warga Tionghoa, bagaimana selama 3 dekade, mereka secara sembunyi-sembunyi merayakan tradisi nenek moyang mereka dengan perasaan “was-was”.

Meskipun jika dilihat dari sejarah Indonesia di era Soekarno dahulu, telah memulai dan membolehkan Imlek diakui sebagai hari besar keagamaan Tionghoa melalui Penetapan Pemerintah No. 2/OEM-1946.

Di situ warga Tionghoa bebas merayakan Imlek, termasuk barongsai di tempat umum, sampai kemudian rezim berganti, dan melarang peringatan Imlek secara terbuka.

Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kabupaten Blora, Hari Ini Jumat 20 Februari 2026

Bagi warga Tionghoa, Imlek merupakan hari penting yang rutin dirayakan setiap tahun. Momentum ini adalah bentuk syukur atas datangnya musim semi yang membawa harapan baru.

Istilah Imlek sendiri berasal dari dialek Hokkien (Yinli dalam bahasa Mandarin) yang secara harfiah berarti kalender bulan.

Sejarah perayaan Tahun Baru Imlek berkembang seiring bergantinya dinasti di Tiongkok.

Pada masa Dinasti Shang (1600-1046 SM), masyarakat terbiasa menggelar ritual pengorbanan demi menghormati dewa dan leluhur setiap pergantian tahun.

Penghormatan Bapak Pluralisme, Ketua Kelenteng Hok Tik Bio Purwokerto, Suryana menunjukkan foto Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di ruang kantornya, Rabu (11/2/2026) sebagai simbol kedekatan sejarah dan emosional.
Penghormatan Bapak Pluralisme, Ketua Kelenteng Hok Tik Bio Purwokerto, Suryana menunjukkan foto Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di ruang kantornya, Rabu (11/2/2026) sebagai simbol kedekatan sejarah dan emosional. (Tribun Banyumas/Fajar Bahruddin Achmad)

tanggal perayaan Imlek kemudian ditetapkan secara resmi pada masa Dinasti Han (202 SM-220 M), yakni pada hari pertama bulan pertama kalender lunar, di periode ini, tradisi membakar bambu untuk menciptakan suara keras mulai populer sebagai simbol penolak bala atau mengusir roh jahat.

Sementara di Indonesia, Tradisi Imlek telah ada sejak ribuan tahun lalu, meskipun secara pasti kapan dan tahun berapa masuk, belum diketahui secara jelas, yang pasti tradisi itu dibawa oleh masyarakat Tionghoa yang bermigrasi ke Nusantara dan kemudian berkembang di tengah keberagaman budaya Indonesia.

Gus Dur dan Jejak Plurisme

Gus Dur adalah seorang pahlawan pluralis sejati karena berani melawan arus utama (mainstream) yang bersuara tak kalah nyaring untuk yang mengharamkan pluralisme.

Tidak diragukan bahwa karakter pluralis Gus Dur memlikiki pemahaman agama yang benar dan juga cinta yang tulus pada bangsa Indonesia.

Baca juga: Sejarah Panjang Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas, Dibangun Mataram Bergaya Jawa - Eropa

Gus Dur bukan hanya menjadi pahlawan pluralisme melainkan juga ikon perjuangan pluralisme di Indonesia yang dibangun dalam tatanan demokrasi yang plural.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved