Rabu, 15 April 2026

Resensi Buku

Akankah Prahara Bangsa Melanda Kita?

Buku berjudul Prahara Bangsa karya Ichsanuddin Noorsy menghadirkan refleksi kritis terhadap persoalan tersebut.

Editor: Rustam Aji
ISTIMEWA/dok. pribadi
PRAHARA BANGSA - Peresensi dan Buku berjudul Prahara Bangsa karya Ichsanuddin Noorsy. 

Menurutnya, bangsa Indonesia perlu kembali menempatkan Pancasila dan konstitusi sebagai pijakan utama dalam merumuskan arah pembangunan nasional. Hal ini bukan berarti menolak perubahan atau reformasi, tetapi memastikan bahwa setiap perubahan tetap berakar pada nilai dasar bangsa.

Gagasan tersebut tentu dapat memunculkan perdebatan di kalangan akademisi maupun praktisi politik. Sebagian pihak mungkin melihatnya sebagai langkah yang terlalu idealistik, sementara yang lain memandangnya sebagai upaya penting untuk mengembalikan arah ideologis bangsa. Namun justru dalam perdebatan seperti itulah ruang refleksi publik dapat berkembang secara lebih sehat.

Dalam konteks kehidupan berbangsa saat ini, refleksi semacam ini menjadi semakin penting. Sebab, Indonesia tidak hanya menghadapi tantangan ekonomi dan politik, tetapi juga tantangan dalam menjaga konsistensi nilai dalam penyelenggaraan negara. Tanpa kesadaran ideologis yang kuat, pembangunan nasional dapat berjalan tanpa arah yang jelas.

Baca juga: Lanskap Ekonomi Politik Pascakolonial Perspektif Buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan

Buku berjudul Prahara Bangsa pada akhirnya mengajak pembaca untuk berpikir lebih jauh tentang masa depan Indonesia. Kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi atau stabilitas politik semata, tetapi juga oleh kejelasan nilai yang menjadi dasar kehidupan bersama. Dalam kerangka inilah diskusi tentang konstitusi, ideologi, dan arah pembangunan nasional menjadi sangat penting untuk terus dilakukan.

Melalui kritik dan refleksi yang disampaikan dalam buku tersebut, publik diajak untuk kembali mempertanyakan satu hal mendasar: ke mana sebenarnya arah perjalanan bangsa ini hendak menuju. Pertanyaan tersebut mungkin tidak memiliki jawaban yang sederhana, tetapi justru di sanalah pentingnya menjaga dialog publik tentang nilai, konstitusi, dan masa depan Indonesia sebagai sebuah bangsa.(*)

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved