Curhat ke DPRD Wonosobo, APPSI Protes Jarak Minimarket Tinggal 100 Meter
APPSI Wonosobo wadul ke DPRD soal sepinya pasar tradisional, Rabu (17/6). Mereka protes aturan jarak pasar modern yang kini cuma 100 meter.
Penulis: Imah Masitoh | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ia juga menilai bahwa iklim pasar tradisional saat ini tengah menghadapi badai persaingan yang sangat tidak seimbang ketika harus berhadapan dengan para pelaku usaha kakap dan jaringan pasar modern yang memiliki bekingan modal jauh lebih kuat.
"Kalau tidak ada regulasi yang membantu, bagaimana kita mau bertahan," kata Fikri mempertanyakan nasib anggotanya.
Keluhan bernada serupa turut disampaikan oleh Sekretaris APPSI Wonosobo, Muhammad Yazid. Menurut penuturannya, persoalan utama yang sedang dihadapi secara merata oleh para pedagang saat ini adalah kondisi tingkat kunjungan pasar yang kian hari semakin sepi pembeli.
"Tuntutan para pedagang yang paling pokok itu adalah kondisi pasar saat ini sepi. Maka tuntutannya bagaimana pasar itu rame kembali," ujar Yazid.
Di samping menyuarakan imbas sepinya roda perputaran di pasar, barisan APPSI juga secara tajam menyoroti fenomena menjamurnya keberadaan pasar modern yang dinilai jarak operasionalnya terlalu dekat dengan area pasar tradisional.
Yazid membeberkan, aturan lama mengenai regulasi jarak pendirian pasar modern sebelumnya disebut mematok jarak operasional hingga dua kilometer dari batas pasar tradisional. Namun ironisnya, dalam perjalanannya belakangan ini, jarak pembatasan tersebut berubah drastis menjadi jauh lebih berdekatan.
"Perubahan jarak yang tadinya 2 kilometer menjadi 100 meter. Kalau tidak salah implementatifnya berdasarkan perbup tercantunya 2 kilometer," katanya.
Oleh karena itu, APPSI mendesak pihak DPRD untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap praktik aturan tersebut, agar dominasi keberadaan pasar modern tidak pelan-pelan mematikan urat nadi aktivitas pasar tradisional.
Menurut kacamata Yazid, keberadaan pasar tradisional sejatinya merupakan warisan peradaban ekonomi masyarakat yang telah tumbuh secara turun-temurun serta menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kearifan lokal daerah setempat.
"Kalau pemerintah membiarkan pedagang pasar tradisional dengan modal seadanya dibenturkan dengan pemilik modal yang jaringannya seluruh Indonesia, ya tentu mati," ujarnya menganalogikan kondisi di lapangan.
Karena alasan itulah, ia sangat menaruh harapan agar setiap kebijakan yang ditelurkan oleh instansi pemerintah bisa lebih berpihak kepada perlindungan kelompok masyarakat kecil.
"Kebijakan pemerintah harusnya berpihak kepada masyarakat yang paling bawah," kata Yazid.
Menanggapi berbagai tuntutan hal itu, Ketua DPRD Kabupaten Wonosobo, Eko Prasetyo Heru Wibowo, yang turut langsung hadir mendengarkan dalam audiensi tersebut, mengatakan bahwa pihak legislatif menerima dengan tangan terbuka dan memahami secara penuh aspirasi yang disampaikan oleh perwakilan APPSI.
Menurut Eko, sektor pasar tradisional dewasa ini memang tengah menghadapi gelombang tantangan yang amat besar, mulai dari imbas kondisi ekonomi global hingga fenomena menjamurnya ekspansi pasar modern yang lokasinya seringkali sangat berdekatan.
"Pasar modern yang terlalu dekat, terlalu banyak itu akan melumpuhkan pasar tradisional," ujarnya membenarkan.
| ASN Wonosobo Didorong Naik Angkot Buntut Harga BBM Naik |
|
|---|
| Kantor PPP Wonosobo Disegel Buntut Kisruh SK Kepengurusan, DPW Minta Buka |
|
|---|
| Melihat Senjata Leluhur, Pameran Keris Nusantara Digelar di Wonosobo |
|
|---|
| Pawai Taaruf 1 Muharam di Wonosobo Meriah, Diikuti 15.000 Santri dari TPQ Hingga Pesantren |
|
|---|
| Memanas, Kader PPP Wonosobo Segel Kantor DPC Sampai Pemilu 2029 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260617-audiensi-appsi-dprd-wonosobo.jpg)