Jawa Tengah
Pertamax Turbo Tembus Rp19.400, Warga Terpaksa Turun Kelas
Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax Turbo hingga Rp19.400 per liter membuat pemilik mobil pusing dan terpaksa turun kelas ke Pertamax.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ringkasan Berita:
- Harga BBM non-subsidi jenis Pertamax Turbo melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp19.400 per liter.
- Akibat kenaikan ini, sejumlah pemilik kendaraan bermesin besar di Semarang terpaksa "turun kelas" beralih menggunakan Pertamax.
- Mobil dengan kapasitas mesin 2000cc tidak diperbolehkan menggunakan Pertalite karena faktor aturan subsidi dan spesifikasi teknis mesin.
- Untuk menekan biaya operasional, masyarakat mulai mengurangi mobilitas dengan mobil dan beralih menggunakan sepeda motor.
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax Turbo hingga menyentuh angka Rp19.400 per liter memukul telak para pengguna kendaraan bermotor di Kota Semarang.
Sejumlah warga mengaku harus memutar otak, bahkan terpaksa “turun kelas” bahan bakar demi bisa bertahan menekan biaya operasional sehari-hari.
Keluhan Pengguna Mobil
Baca juga: Resmi Naik, Lengkap Daftar Harga BBM Terbaru di 40 Provinsi
Seorang warga yang enggan disebut namanya, menjadi salah satu pihak yang sangat merasakan dampaknya.
Ia selama ini rutin menggunakan Pertamax Turbo untuk menyuplai bahan bakar mobilnya yang bermesin 2000cc karena dinilai jauh lebih optimal dari sisi performa.
“Kalau pakai turbo itu pembakarannya lebih bagus, tenaganya juga lebih enak. Dulu sekitar Rp14 ribuan masih oke,” ujarnya saat memberikan keterangan, Sabtu (18/4/2026).
Namun, lonjakan harga bensin warna merah yang kini menembus lebih dari Rp19 ribu per liter tersebut membuatnya mulai goyah.
Ia mengaku tak punya banyak pilihan selain beralih ke bahan bakar Pertamax biasa yang oktannya lebih rendah.
“Mau tidak mau ya turun pakai Pertamax. Soalnya kalau tetap pakai turbo, berat di ongkos,” katanya mengeluh.
Batasi pemakaian mobil
Ia juga menyebut bahwa penggunaan BBM dengan kadar oktan lebih rendah seperti Pertalite tentu bukan menjadi opsi bagi mobilnya.
Selain karena faktor teknis mesin yang bisa mengelitik (knocking), kendaraan dengan kapasitas mesin 2000cc juga memang secara aturan tidak diperbolehkan menenggak BBM bersubsidi.
Di tengah kondisi terhimpit tersebut, Radlis mulai menyiasati dan mengatur ulang kebiasaan berkendaranya.
Mobil kesayangannya kini hanya dikeluarkan dari garasi saat kondisi-kondisi tertentu saja.
“Kalau enggak penting ya pakai motor saja. Mobil dipakai kalau hujan atau keperluan tertentu,” ujarnya membeberkan siasat.
Harapan Warga
Menurut pandangannya, lonjakan harga BBM kali ini terasa terlalu tinggi dan sangat jauh dari perkiraan masyarakat luas.
“Kalau naik dari Rp13 ribu ke Rp15 ribu masih masuk akal. Tapi ini langsung lompat jauh, kaget juga,” ucapnya jujur.
| Razia Dini Hari di Desa Sikuang, 89 Motor Balap Liar Kena Tilang |
|
|---|
| Target Rebut Kursi 2029, DPW PPP Jateng Minta Kader Nongkrong Bareng Anak Muda |
|
|---|
| Bawa Uang Rp646 Ribu, Pria Ini Akhiri Hidup di Kebun Alpukat |
|
|---|
| Viral di Grup WA Atap Seng Terbang, Camat Pastikan Itu Kejadian Wanayasa |
|
|---|
| Beredar Video Anggota Fraksi PDIP Sebat di Ruang AC, Ketua DPRD Jateng Janji Tegur |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260331-antrean-motor-di-spbu-purwokerto-imbas-isu-kenaikan-bbm.jpg)